Zakat Kewajiban, tidak Bayar Zakat Musyrik

Oleh : Prof. Dr. H. Suparman Usman, S.H

Seseorang yang sudah menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka berarti dia sudah menjadi seorang muslim. Dia secara normatif sudah terikat oleh hukum (syariat) Islam, ia harus melaksanakan hukum Islam secara kaffah (lengkap dan sempurna). Ia sudah berkewajiban mengikuti dan melaksanakan syari’at Islam.

Kewajiban seseorang muslim diformulasikan dalam pilar Islam disebut rukun (Arkanul Islam, tiang, pilar, unsur-unsur) Islam. Rukun Islam ada lima yaitu membaca syahadat, mengerjakan salat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa pada bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji. Menunaikan/membayar zakat bagi yang sudah sampai nishab (batas minimal wajib zakat) adalah kewajiban.

Artinya, kalau seseorang tidak menunaikan kewajiban dia akan mendapatkan sanksi, sebagai risiko dia sudah masuk Islam. Seseorang yang mengaku beragama Islam, kalau dia tidak menunaikan zakat padahal dia sudah mempunyai harta sampai batas nishab, maka dia tidak sempurna keislamannya, ada satu pilar yang ia tinggalkan, sekalipun pilar-pilar lain ia laksanakan.

Zakat ibadah dua dimensi

Setiap ibadah mengandung dua dimensi. Hanya titik tekanannya kadang-kadang ada pada dimensi tertentu. Umpamanya salat titik tekanannya ibadah dimensi vertical. Salat bukti penyembahan dari manusia (makhluk) kepada penciptanya yaitu Allah SWT (khaliq) kalau orang tidak melaksanakan salat dia langsung berdosa kepada Allah SWT.

Zakat merupakan ibadah mengandung dua dimensi, yaitu dimensi vertikal bukti ketaatan manusia kepada Allah SWT dalam hal pengelolaan hartanya dan juga mengandung dimensi horizontal, yaitu pendistribusian harta miliknya untuk orang lain (mustahik/fakir miskin dst). Jadi kalau seseorang tidak salat hampir dipastikan tidak ada orang yang dirugikan, tapi kalau orang tidak zakat, ada orang lain yang dirugikan yaitu fakir miskin tidak menerima haknya.

Karena ada dimensi horizontal inilah maka pengelolaan zakat di Indonesia diatur juga oleh peraturan yang dibuat oleh negara, seperti UU. Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, PP. nomor 14 tahun 2014, Inpres No. 3 tahun 2014 dan Perundang-undangan lain. Dalam pasal 3 UU No. 23 tahun 2011, tujuan pengelolaan zakat antara lain disebutkan: meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Sedang ibadah yang hanya punya dimensi vertikal seperti salat tidak diatur oleh negara.

Zakat harus ditunaikan melalui Amilin

Dalam pengelolaan zakat ada tiga unsur, yaitu muzakki, (orang yang membayar zakat), mustahik (orang yang berhak menerima zakat) dan amilin (orang yang mengelola atau pengurus zakat). Zakat harus ditunaikan melalui amilin yaitu petugas yang mengurus zakat, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alquran Q.S. At-Taubah ayat 60 sebagai berikut :

Innamaa asshadaqatu lilfuqaraai’ wal masaakiini wal a’miliina alaihaa wal mu’allafati quluubuhum wafii arriqabi wal ghaarimiina wafii sabiilillahi wabni assabiili, fariidhatan mmina allahi, wa allahu ‘aliimun hakiimun.

Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kalau penunaian zakat boleh langsung melalui perorangan, maka percuma Allah SWT menyebut amilin dalam ayat di atas. Tugas amilin pada dasarnya ada tiga, yaitu memungut atau menerima zakat, mendistribusikan/membagikan dana zakat kepada mustahik zakat dan mempertanggungjawabkan pengelolaan zakat. Berdasarkan pasal 37 dan 41 UU No. 23 tahun 2011 seseorang atau lembaga yang mengelola zakat tanpa izin bisa dikenakan sanksi pidana.

Pencuri dan makan hak orang lain

Orang yang tidak membayar zakat juga di hadapan Allah SWT adalah pencuri. Sebab, dia mengambil dengan menahan harta atau hak orang lain. Yaitu harta atau hak-hak para mustahik zakat seperti fakir miskin (lihat tulisan penulis di HU Kabar Banten tanggal 21 November 2018). Orang tidak membayar zakat juga dia memakan harta milik orang lain, karena ada hak orang lain yang menjadi campur dengan hak dia dan dimakan oleh dia bersama keluarganya.

Musyrik

Kalau seorang muslim sudah mempunyai harta sampai nishab dan dia dengan sadar dan sengaja tidak membayar zakat maka dalam Alquran dia dihukumi dalam status musyrik (mempersekutukan Allah SWT). Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 41 Fusilat. Ayat 6 dan 7 :

Qul innamaa ana basyarum mistlukum yuu haa ilayya annamaa ilaahukum ilaahu wwaahidun fastaqiimuu ilaihi wastaghfiruuhu, wawailul lilmusyrikiina. Alladziina laa yu’tuuna alzzakaata wahum bil akhirati hum kaafiruuna.

Artinya : Katakanlah: ”Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (musyrik kepadaNya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir (mengingkari) akan adanya (kehidupan) akhirat.

Berdasarkan Alquran Surat Fusilat ayat 6 dan 7 di atas disebutkan bahwa orang mu’min (yang sudah beriman) kepada Allah SWT, tapi dia tidak membayar zakat, maka dia termasuk yang mempersekutukan Allah SWT (musyrik).

Menurut para ulama bahwa orang-orang Mu’min yang baik membayar zakat dan menyakini adanya hari akhirat. Sedangkan orang-orang yang mempersekutukan Allah SWT tidak membayar zakat dan mengingkari hari akhirat.

Selanjutnya ulama berkomentar, pernyataan membayar zakat merupakan ciri utama orang Mu’min sedangkan tidak melaksanakannya merupakan ciri orang yang musyrik. Karena itulah dapat dipahami bahwa zakat itu wajib, sebagai konsekuensi sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan membuang sifat-sifat orang-orang yang musyrik, di sini jelas merupakan hal yang harus dilaksanakan. Sebagaimana kita ketahui, musyrik (menyekutukan Allah SWT) termasuk dosa besar (minal kabair) (Lihat. Fiqih zakat, Qardhawi, Tafsir Alquran, Kementerian Agama).

Zakat profesi (pendapatan) dari semua penghasilan

Menunaikan zakat harus sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Umpama mengenai jenis harta yang dikeluarkan zakatnya, nishabnya, kadar zakat yang harus dikeluarkan, waktu membayar zakat, mustahik zakat dan hal-hal lain yang berkaitan dengan zakat.

Umpama zakat fitrah harus dikeluarkan pada waktu yang benar, yaitu harus dikeluarkan sebelum khatib Idulfitri naik mimbar. Zakat pertanian (ziro’ah) dikeluarkan pada saat panen. Zakat profesi (pendapatan) dikeluarkan dari jumlah semua penghasilan/pendapatan baik gaji dan pendapatan lain selain gaji.

Ada pemahaman yang keliru tentang pendapatan yang harus dikeluarkan zakatnya. Umpama ada yang berpendapat bahwa zakat pendapatan (profesi) hanya dikeluarkan dari gaji saja. Sedangkan pendapatan lain selain gaji seperti honor, tunjangan kinerja (tukin) tidak harus dikeluarkan zakatnya. Dalam Keputusan Menteri Agama No. 52 tahun 2014 pada pasal 1 angka 17 disebutkan bahwa zakat pendapatan dan jasa adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang diperoleh dari hasil profesi pada saat menerima pembayaran.

Fatwa MUI tentang zakat pendapatan

Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 3 Tahun 2003 tanggal 7 Juni 2003, antara lain disebutkan “Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal. Baik rutin seperti pejabat neegara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan dan sejenisnya. Serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Secara hukum semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun. Waktu Pengeluaran Zakat Pendapatan yakni (1) Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. 2) Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Kesimpulan

Menunaikan zakat bagi orang muslim yang sudah mempunyai harta sampai nishab adalah kewajiban. Kalau orang melalaikan atau tidak menunaikan kewajiban dia akan dapat sanksi. Zakat merupakan kewajiban bukan kesukarelaan dari seseorang, karena melaksanakan kewajiban tidak harus menunggu kesukarelaan seseorang bahkan dalam sejarah zakat bisa diambil paksa.

Nilai melaksanakan kewajiban adalah keikhlasan, kewajiban yang dilaksanakan tidak dengan niat ikhlas akan mengurangi pahala ibadah tersebut. Orang mu’min tidak membayar zakat, di hadapan Allah SWT menurut Alquran S. Fushilat ayat 6 dan 7 adalah musyrik. Zakat harus dikelola oleh amilin. Zakat harus dilaksanakan sesuai syari’at Islam dan perundang-undangan di Indonesia. Zakat pendapatan (profesi) dikeluarkan dari seluruh pendatapan yang diterima oleh seseorang, baik gaji maupun penghasilan lain. (Penulis, Ketua Baznas Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here