Yatim Piatu Kehilangan Rumah

SERANG, (KB).- Setiap anak tentu mendambakan hidup nyaman dan penuh kasih sayang. Bisa terus bersama orangtua dan tinggal di tempat yang nyaman penuh bahagia. Namun, kenyatan hidup, justru tak selalu sesuai keingan dan harapan, seperti yang dialami enam bersaudara yatim piatu, yakni Syahroni, Dzikron, Jaka, Nafiyah, Alam, dan Rohiman. Setelah kehilangan kedua orangtuanya, kini mereka kehilangan tempat tinggal, karena rumah peninggalan orangtuanya roboh diterpa angin kencang sekitar enam bulan lalu. Keenam bersaudara yang tercatat sebagai warga RT07/RW02, Kampung Puyuh Koneng, Desa Kencana Harapan, Kecamatan Lebakwangi kini mengungsi di rumah bibinya.

Pantauan Kabar Banten, di lokasi tampak puing-puing reruntuhan rumah tersebut masih tersisa. Kayu-kayu dan atapnya tampak masih tertumpuk. Di bekas puing tersbeut, kini dijadikannya tempat untuk menjemur pakaian dan juga nasi kering. “Pada saat itu sekitar pukul 15.00 WIB, tiba-tiba saja ada angin kencang. Rumah kami hanya terbuat dari bilik dan atap rumbia,” kata pemilik rumah, Syahroni kepada Kabar Banten saat ditemui di lokasi, Kamis (7/9/2017). Ia menuturkan, rumah tersebut merupakan warisan dari almarhum kedua orangtuanya. Ibunya meninggal tiga tahun lalu, disusul sang ayah yang kembali ke pelukan Maha Kuasa. Orangtuanya memang tak meninggalkan harta apapun selain rumah mungil tersebut. “Itu warisan orangtua,” ujarnya.

Setelah kedua orangtuanya meninggal, di rumah tersebut mereka tinggal. Adiknya yang terkecil, yakni Alam yang masih berusia 7 tahun, masih duduk di sekolah dasar. Sebagai yang paling tua, dia bertanggung jawab untuk memenuhi keperluan sehari-harinya. Namun, sejak rumah warisan tersebut roboh, dia harus mengungsi di rumah bibinya yang tidak jauh dari lokasi tersebut. “Tinggal di rumah bibi saja sekarang,” ucapnya. Ia belum berani untuk membangun kembali rumah tersebut, karena keterbatasan ekonomi. Untuk keperluan sehari-hari, dia kesulitan. Untuk bertahan hidup, dia hanya mengandalkan hasil kerja serabutan membantu para petani di kampungnya. “Enggak ada biaya, untuk sehari-hari saja susah,” tuturnya.

Bertahan hidup

Sementara itu, bibi dia, Mursiah mengatakan, sangat kasihan dengan keenam orang keponakannya tersebut. Selama ini, banyak hasil pemberian orang yang digunakan untuk anak-anak tersebut bertahan hidup. “Kasihan, waktu roboh itu untung saja enggak ketimpa,” katanya. Ia menuturkan, sebenarnya rumah keponakannya tersebut sudah beberapa kali masuk dalam pendataan, karena kondisinya yang tidak layak huni. Namun hingga saat ini, rumah belum juga ada bantuan hingga akhirnya roboh. “Di data mah sudah pernah, pas masih berdiri, bahkan sampai pas sudah roboh juga di data, tapi belum ada bantuannya,” ujarnya.

Ketua RT07/RW02, Bahrum mengatakan, di wilayahnya tersebut memang masih banyak rumah yang kondisinya tidak layak huni. Padahal, pendataan sudah seringkali dilakukan sejak 2015. Namun, sampai saat ini, belum turun bantuan. “Proposal mah sudah masuk, tapi belum dapat kalau bantuannya,” ucapnya. Ia menuturkan, di wilayahnya ada sekitar 5 rumah yang kondisinya masuk kategori tidak layak huni. Kondisi tersebut terjadi, karena kehidupan ekonomi di sana hanya mengandalkan kuli tani. Sehingga, saat musim panen selesai, mereka menjadi pengangguran dan tidak mendapatkan penghasilan. “Kalau di sini tani rata-rata, tapi bukan punya sendiri tanahnya. Ya mudah-mudahan bisa segera dibangun kasihan,” tuturnya. (H-48)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here