Wujudkan Ketahanan Keluarga

Keluarga merupakan agen sosialisasi primer bagi seorang individu. Hal ini sangat berpengaruh untuk menginternalisasi nilai-nilai dan karakter yang diperlukan oleh penerus bangsa mengingat demokrasi menghendaki pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, sehingga individu-individu yang lahir dari suatu keluarga kelak yang akan mengisi pos-pos pemerintahan dan berbagai aspek strategis yang ada di dalam suatu negara.

Keluarga juga menjadi sangat penting dalam kehidupan bernegara dikarenakan ideologi suatu negara termaktub dalam Staatsfundamentalnorm. Konsekuensi logis dari hal ini adalah bahwa Staatsfundamentalnorm suatu negara dapat diubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang artinya keberadaan seorang individu dalam setiap keluarga memiliki andil dalam mempengaruhi keberlangsungan ideologi suatu negara yang memiliki implikasi pada bagaimana ketahanan negara dapat diwujudkan.

Dalam perspektif ilmu sosiologi, keberadaan keluarga sebagai pranata sosial memiliki peran yang sangat besar bagi perkembangan suatu negara. Hal ini dikarenakan salah satu unsur penting suatu negara adalah adanya unsur rakyat yang merupakan masyarakat itu sendiri. Masyarakat dapat diartikan sebagai orang-orang yang memiliki fungsi bersama dalam sebuah perkumpulan di luar aparatur negara. Keberadaan seorang individu tentu memiliki andil dalam perkembangan suatu negara. Kualitas seorang individu akan menentukan kualitas suatu negara dimana individu tersebut berasal dari suatu pranata sosial bernama keluarga. Hal ini memberi arti bahwa membangun kualitas suatu keluarga dengan sendirinya merupakan usaha nyata menyokong negara. Arti penting dari hal tersebut adalah bahwa membangun ketahanan suatu keluarga memberikan kontribusi penting untuk membangun ketahanan suatu negara.

Dalam ilmu psikologi, kajian berkaitan dengan keluarga menunjukan betapa pentingnya peran keluarga terhadap kehidupan seorang individu. Fungsi keluarga memberikan peranan terhadap pengungkapan emosi seorang individu melalui pemahaman emosi. Hal ini memberikan dampak terhadap kemampuan seorang individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Keberfungsian ini dapat dilihat apakah peran orang tua diterapkan dengan baik atau tidak di dalam suatu keluarga. Individu yang tidak mendapatkan keberfungsian keluarga dengan baik akan mengalami masalah dalam pengungkapan dan memahami emosi di masyarakat.

Kaitannya dengan dunia kerja, peran keluarga juga mempengaruhi performa seseorang dalam pemenuhan menjalankan peran suatu pekerjaan. Terdapat korelasi bahwa orang yang memiliki konflik dalam keluarga akan cenderung memiliki performa kerja yang tidak memuaskan yang mempengaruhi kepada perilaku dalam pekerjaan.  Interaksi dalam keluarga juga merupakan prediktor tingkah laku negatif remaja dimana remaja yang memiliki intensitas interaksi yang kurang dengan keluarga cenderung akan memiliki tingkah laku negatif seperti berbohong, mencuri, dan menghancurkan barang-barang. Sedangkan, anak yang memiliki intensitas tinggi berinteraksi dengan keluarga memiliki perilaku yang lebih baik.

Salah satu faktor yang menjadi isu dialam ilmu psikologi yang dapat mengancam keberlangsungan suatu keluarga adalah isu perceraian. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian antara lain kemerdekaan perempuan; faktor ekonomi; tingkat intelektualitas yang rendah; tingkat pendidikan yang rendah; keterampilan sosial yang tidak memadai; konflik peran; permasalahan seksual; penggunaan alkohol; dan kekerasan (Lowenstein, 2005).  Penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki orang tua bercerai akan mempunyai trauma yang membuat anak tersebut merasakan perasaan tertekan, sedih, kebingungan, dan ketidakpastian melihat hidup. Anak-anak tersebut dalam proses belajar mengalami perasaan kesepian, merasakan teror, dan ketakutan (Amato, 2001). Oleh karena itu, isu perceraian adalah salah satu isu yang harus diperhatikan untuk menemukan cara terbaik membentuk suatu ketahanan negara.

Ketahanan Keluarga

Sosial kehidupan masyarakat terus berkembang dan semakin mendorong peran keluarga sebagai institusi utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Istilah ketahanan digunakan untuk menggambarkan suatu proses dimana orang tidak hanya mengelola upaya-upaya untuk mengatasi kesulitan hidup, tapi juga untuk menciptakan dan memelihara kehidupan yang bermakna dan dapat ikut menyumbang pada orang-orang di sekitarnya. Ketahanan merupakan suatu keberhasilan dalam suatu kehidupan dimana pada awal keberadaannya harus menghadapi tantangan-tantangan dan hendak menanggung resiko yang berat.

Rumusan ketahanan keluarga berdasarkan definisi operasionalnya adalah kemampuan keluarga dalam mengelola sumber daya yang dimiliki serta menanggulangi masalah yang dihadapi, untuk dapat memenuhi kebutuhan fisik maupun psikososial keluarga. Ketahanan keluarga berlawanan dengan kerentanan keluarga.  Dimana konsep rentan yang dimaksud, adalah ketika keluarga tidak atau kurang mendapat kesempatan utnuk mengembangkan potensinya sebagai akibat dari keadaan fisik/ non fisiknya.

UU Nomor 52 tahun 2009, Ketahanan dan kesejahteraan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin. Ketahanan keluarga, menyangkut kemampuan keluarga dalam mengelola masalah yang dihadapinya berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketahanan keluarga diukur dengan menggunakan pendekatan sistem yang meliputi komponen input (sumberdaya fisik dan non fisik), proses (manajemen keluarga, masalah keluarga, mekanisme penanggulangan) dan output (terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikososial).  Jadi keluarga mempunyai: a) Ketahanan fisik apabila terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan (indikator: pendapatan per kapita melebihi kebutuhan fisik minimum) dan terbebas dari masalah ekonomi (indikator: terbebas dari masalah ekonomi); b) Ketahanan sosial apabila berorientasi nilai Agama, komunikasi berlangsung efektif, komitmen keluarga tinggi (pembagian peran, dukungan untuk maju dan waktu kebersamaan keluarga, membina hubungan sosial dan mekanisme penanggulangan masalah; c) Ketahanan psikologis keluarga apabila keluarga mampu menanggulangi masalah non fisik, pengendalian emosi secara positif, konsep diri positif (termasuk terhadap harapan dan kepuasan) dan kepedulian suami terhadap istri.

Secara konseptual, keluarga sejahtera selalu bercirikan ketahanan keluarga yang tinggi. Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan. Pada keluarga yang memiliki ketahanan baik mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental-spiritual. Kemampuan tersebut akan berguna supaya hidup mandiri dan mengembangkan diri. Pada keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.

Karakteristik keluarga sejahtera memiliki 8 fungsi keluarga, perempuan dapat menempatkan posisinya yang memiliki peran ganda sebagai berikut. Pertama, dalam pelaksanaan fungsi keagamaan, perempuan memiliki peran untuk memberikan panutan bagi anak-anaknya. Ibu yang rajin dalam beribadah, membawa pengaruh sangat besar terhadap anak-anaknya. Termasuk sikap dan perilaku seharihari yang sesuai dengan norma agama. Kedua, dalam pelaksanaan fungsi sosial budaya, perempuan memberikan contoh yang ideal perilaku sosial dan budaya yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Mulai dari cara bertutur kata, bersikap, berpakaian dan bertindak yang sesuai budaya timur menjadi sesuai yang wajib dimiliki oleh seorang ibu, agar anak-anaknya juga bisa melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa dengan penuh rasa bangga. Ketiga, dalam pelaksanaan fungsi cinta kasih, perempuan yaitu ibu memiliki fungsi sebagai pelopor utama dalam keluarga yang memberikan kasih sayang yang ikhlas pada anak-anak dan suami. Ibu selalu memberi nasehat yang baik dalam hubungan anak dengan anak, anak dengan orangtua, serta hubungan dengan tetangga dan kerabat, sehingga keluarga menjadi wadah utama berseminya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin. Keempat, dalam pelaksanaan fungsi melindungi, perempuan memiliki usaha untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan bagi seluruh anak-anaknya, sehingga anak merasa nyaman dan betah tinggal di rumah. Kelima, dalam pelaksanaan fungsi reproduksi, perempuan atau ibu menjadi penopang utama dalam pengaturan jumlah anak dan jarak kelahiran. Sebagian besar ibu ikhlas menggunakan alat kontrasepsi, agar kelahirannya dapat dikendalikan sehingga tidak memiliki terlalu banyak anak. Ibu juga selalu memberi nasehat putra putrinya untuk pandai-pandai dalam bergaul dan menjaga kesehatan reproduksi remajanya sehingga tidak terjadi kehamilan remaja atau kehamilan sebelum menikah. Keenam, dalam pelaksanaan fungsi sosialisasi dan pendidikan, perempuan (ibu) menjadi kunci utama dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Ibu pula yang membina anak-anaknya agar memiliki jiwa sosial yang tinggi, supel dalam pergaulan dan pandai menempatkan diri dalam lingkungan sosialnya. Sehingga anak-anaknya mampu berinteraksi secara baik dengan teman, tetangga atau masyarakat sekitar.

Fungsi lain keluarga adalah membentuk karakter dan perilaku anak untuk bisa hidup dikalangan yang lebih luas, yakni masyarakat. Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit dirubah dan digantikan orang lain. Sehingga dengan demikian mari kita wujudukan ketahanan keluarga yang akan berdampak pada ketahanan bangsa. Dengan ketahanan keluarga kita dapat bersama-sama menjaga generasi penerus bangsa yang memiliki keandalan dan daya tahan serta memiliki karakter yang religi dan memiliki ilmu untuk menyongsong masa depan bangsa. (Hj. Ratu Tatu Chasanah, SE., M.Ak/Bupati Serang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here