Wisata Edukasi Ternak Lebah Teuweul

Anggota Komunitas Madu Cingagoler (Macing) menunjukkan ternak lebah produksi Madu Cingaloger.*

Seiring perjalanan waktu, ketekunan beberapa pembudidaya mulai menampakkan hasilnya. Tidak sekadar berhasil memanen madu, namun lokasi pengembangbiakan lebah teuweul itu kini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang cukup menjanjikan.

Untuk mengetahui bagaimana keseruan belajar sekaligus ikut memanen dan merasakan gurihnya madu teuweul, berikut tulisan Dian Wahyudi yang kami sajikan secara utuh untuk pembaca setia harian Umum Kabar Banten.

Sudah lama saya ingin menemui beliau, kabarnya sedang mengembangkan budidaya atau ternak lebah teuweul. Lokasi ternaknya di pusat kota, aih.. Benar saja, setelah janjian, saya menemui beliau di salah satu lokasi ternak lebah teuweulnya. Tepatnya di Kampung Pasir Sukarayat, jalan masuknya lewat gang samping SD atau yang biasa dikenal dengan sebutan SD Pengadilan, persis dibelakang pemakaman umum.

Lokasinya, yang semula tempat orang membuang sampah, kotor dan tidak begitu luas, saat ini menjadi sangat nyaman, dengan berbagai tanaman, mulai dari rambutan, nangka, matoa, lengkeng yang dapat berbuah.

Belum lagi aneka bunga yang sengaja ditanam, termasuk bunga “air mata pengantin”, duh… dan si air mata pengantin yang tumbuh subur dengan bunga yang cantik inilah, salah satu makanan lebah ini.

Dan secara tidak sengaja, lokasi yang asri, kemudian banyak di datangi berbagai burung. Ini sepertinya rahasia tak terduga, kenapa pohon berbuah baik dan bunga tumbuh subur. Niat baik, menyuburkan pohon yang baik dan menghasilkan madu yang manis.

Namanya Badrul Munir, pecinta lingkungan, juga dosen di salah satu kampus di Banten. Saat ini sedang mengembangkan ternak lebah teuweul (Trigona sp). Trigona sp merupakan salah satu jenis dari genus meliponini yaitu jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee).

Saya langsung jatuh cinta dan merasakan sensasinya berinteraksi dengan lebah jenis ini. Saya disuguhi untuk langsung nyomot sarang lebah di kotak sarang buatan. Atuh dak.. karak ngasaan eta nu ngarana madu teuweul sing horeng amis jasa, sampai meleleh di mulut jeung leungeun… (baru menikmati yang namanya madu teuweul, ternyata sangat manis, sampai meleleh di mulut dan tangan)…

Menurut Badru, ternak lebahnya baru dimulai sekitar 2 tahun yang lalu, sejak orangtuanya terkena diabetes. Badru berusaha mencari obat alternatif, dan salah satu yang cocok untuk pengobatannya adalah madu lebah teuweul ini.

Semuanya berawal dari kecil, jika kita fokus dan komitmen, nanti juga besar kok, ujar Badru kepada saya. Saya pun mengikuti jejaknya, maka jadilah Badru saat ini juga mendampingi budidaya lebah teuweul milik Komunitas Sinwegi Banten di kampung sentral Rangkasbitung.

Untuk yang tertarik, halaman belakang rumah bisa dijadikan lebih asri dan menghasilkan rupiah dengan beternak lebah teuweul atau trigona yang tidak menyengat ini. Madu trigona/teuweul itu lebih baik 4 kali lipat dengan madu apis biasa, karena pollen, propolis dan royal jelly bercampur dalam madunya. Hhmm.. luangkan sejenak saja, nikmati kemurnian madunya.. kabita nya..

Sebagai gambaran, Badru sedikit menjelaskan terkait budidaya lebah teuweul ini kepada saya. Kotak koloni lebah atau sering disebut stup atau juga bisa disebut kerajaan lebah adalah sekumpulan lebah setiap kotak/koloni jumlahnya bisa mencapai 300 sampai 3.000 lebah terdiri dari berbagai macam tugas lebah.

Ada lebah yang tugasnya mencari makanan yaitu lebah pekerja, lebah penunjuk jalan, lebah penunggu gerbang, lebah pendamping ratu dll, koloni lebah adalah sebuah kerajaan yang setiap lebah punya andil dan peran masing-masing.

Di dalam perut lebah keluarlah sejenis minuman yaitu madu, obat yang sangat berkhasiat bagi manusia, dan lebah tidaklah memproduksi madu saja, tapi memproduksi propolis, royal jelly, pollen dll yang sangat baik bagi kesehatan dan sangat berguna bagi kosmetik dan lainnya.

Lebah trigona mempunyai jangkauan terbang antara 250 sampai 300 meter, tidak bisa jauh seperti lebah nyiruan dan jenis lainnya. Maka, di sekitar koloni lebah haruslah tersedia tanam tanaman yang berbunga untuk pakan para lebah, dan kotak atau stup yang digunakan sekarang mempunyai partisi atau penyekat, untuk memisahkan madu dan telur serta koloni lebahnya sendiri, agar dalam memanen madunya tidak merusak koloni dan telur lebah.

Para pemula atau siapa saja sangat bisa menernak lebah jenis trigona ini, karena tidak menyengat dan tidak mengganggu. Bahkan bisa mengusir nyamuk dan menjaga kesuburan tanaman di sekitar akan lebih subur lagi.

Dengan membudidayakan lebah, secara otomatis kita memperkuat pertahanan pangan dan menjaga lingkungan kita semakin hijau dan lebih sehat. Bunga yang dapat dibudidayakan, di antaranya bunga matahari juga bayam. Bukan hanya daunnya saja yang sangat baik untuk kesehatan dan stamina, bunga bayam merupakan salah satu yang sangat disukai lebah trigona.

Atau bunga air mata pengantin (AMP), memiliki banyak manfaat, salah satunya mencegah diabetes dan penyakit jantung. Dan lebah trigona/teuweul sangat suka dengan bunga ini. Bahkan setiap akan hinggap pun dia punya tarian tersendiri untuk menghormati setiap saripati yang akan dia hisap.

Menurut Badru, beda tempat, beda bunga, beda suhu sedikit saja, ternyata hasil madunya juga berbeda, apalagi beda musim hujan dan kemarau, bahkan warnanya saja beda, masih harus terus mendalami agar produksi si madu tetap stabil.

Badru memiliki mimpi mewujudkan kampung lebah. Bahkan sepertinya, untuk sekolah dan kampung yang ingin mewujudkan sekolah atau kampung sehat, perlu berguru kepada beliau. Karena lebah teuweul merupakan jenis lebah jinak dan tidak menyengat (semoga saya tidak salah, atuh ja lebah na geh leutik- lebahnya kecil).

Sekolah dan kampung menjadi rindang dan semarak dengan bunga, menjadi laboratorium lapangan, sekaligus mendatangkan rupiah. Dengan membudidayakan lebah teuweul ini, setidaknya akan mendapat manfaat antara lain, pertama, manfaat ekologis, proses penyerbukan oleh lebah dalam keterkaitan pakan.

Kedua, manfaat ekonomi, produk-produk yang dihasilkan trigona berupa madu, propolis, bee pollen dll. Ketiga, manfaat sosial, sebagai sumber penghasilan, membuka peluang usaha bagi masyarakat, objek penelitian dan sebagai potensi daerah.

Saat ini baru beberapa lokasi ternak lebah teuweul yang sedang beliau buat dan kerja sama. Semoga terus bertambah, karena budidayanya mudah dan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Saya yakin mimpi beliau pelan tapi pasti akan terwujud.

Wisata edukasi sekaligus rupiah mengalir secara tidak langsung. Proses belajar, pelestarian alam, terjaganya habitat, pemberdayaan ekonomi dan belajar jujur “dipertaruhkan” di sini, karena tak jarang kita temui madu aspal (asli tapi palsu) di pasaran. (T.Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here