WH Ungkap Tiga Faktor Penyebab Tingginya Pengangguran di Provinsi Banten

SERANG, (KB).- Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH), angkat bicara soal pengangguran Banten yang tertinggi di Indonesia. WH mengungkap tiga faktor penyebab tingginya pengangguran di Provinsi Banten, salah satunya praktik pencaloan tenaga kerja oleh sejumlah oknum.

“Ada warga lokal yang dekat pabrik memilih menganggur karena tidak sanggup membayar uang jaminan masuk kerja,”kata Gubernur Banten, Wahidin Halim, Selasa (6/11/2018).

Dia mengaku mengantongi fakta di lapangan tentang adanya oknum yang melakukan praktik pencaloan, dengan cara meminta imbalan kepada calon kerja agar bisa masuk kerja. Salah satunya adalah untuk masuk ke salah satu pabrik yang berada di Kibin, Kabupaten Serang. “Masyarakat situ terasingkan, ketika dia masuk harus nyediain 4 juta, itu fakta,” katanya, Selasa (6/11/2019).

Dia mengatakan, pemerintah daerah tidak dapat mengintervensi praktik ini, karena dilakukan oleh perorangan yang di luar struktur pemerintahan. “Kalau prilaku pabrikan atau personal-personal kan bukan kepala dinas, umpamanya kita ambil kepala sekolah kita berentiin,” katanya.

Namun demikian, ia telah menanggapi persoalan ini dengan rapat bersama intansi terkait. “Kami kemarin sudah rapat, karena memang masyarakat Kibin sana enggak ada kesempatan, karena ada calo-caloan itu tadi,” ujarnya.

Selain calo tenaga kerja, ada juga penyebab lain yang membuat angka pengangguran tinggi. Seperti lulusan SMA/SMK tahun ini tidak terserap oleh sektor industri. Bursa kerja yang telah dilakukan oleh Pemprov Banten, kata dia, tidak dapat menyerap mereka. Karena, bursa kerja hanya menampung beberapa saja dan tidak sebanding dengan masyarakat yang masih menganggur.

“Bursa kerja yang kita adakan kan cuma Alfamart, Indomart, tidak seberapa dibandingkan dengan dengan kebutuhan, atau masyarakat bekerja memang sudah tidak sebanding,” ujarnya.

Di sisi lain, banyak juga pabrik yang bisa menyerap tenaga kerja tidak berminat berada di Banten. Banyak yang memilih membangun di Jawa Tengah karena UMK di sana lebih kecil dibandingkan di Provinsi Banten.

“Karena memang UMK di sana rendah, cuma Rp 1,8 juta, kita kan Rp 3,6 juta, malah minta naik lagi. Makanya mereka (pengusaha) cenderung mencari gajih yang lebih murah, itukan prinsip swasta kan begitu, makanya pindah sana (Jawa Tengah),” ujarnya.

Baca Juga: Pengangguran di Provinsi Banten Capai 8,25 Persen

Selain itu, survey tentang pengangguran yang dirilis BPS ini dilakukan setelah siswa SMA/SMK lulus ujian, sehingga siswa-siwa yang baru lulus sudah terdaftar sebagai pengangguran. “Terus juga dari luar mereka kan kalau lulus cari kerja di sini (di Banten), mereka tinggal di sini,” katanya.

Bisa jadi, dalam survey tersebut juga terdapat warga luar Provinsi Banten yang secara kebetulan mencari kerja di Banten. Mengingat survei itu memang tidak secara khusus dilakukan kepada masyarakat Banten. “Memang Banten, Jawa Barat itu karena tempat perhatian dari masyarakat penganggur belomba-lomba di sini,” ujarnya.

Turun satu digit

Sebetulnya, kata WH, angka pengangguran yang mencapai 8,25 persen pada periode Agustus 2018, sudah mengalami penurunan satu digit dibanding periode yang sama di tahun lalu sebesar 9,9 persen. Namun ini tetap ironis karena angkanya masih tertinggi se Indonesia.

Kemudian, angka pengangguran juga tidak sejalan dengan angka kemiskinan di Banten, karena sudah pada terendah se Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi kita satu digit sekarang 5,8 sekian, di atas pertumbuhan ekonomi nasional, inflasi kita sudah titik tertendah menjelang deflasi. Rupanya juga pertumbuhan ekonomi baik, masyarakat cukup, tapi ada anak yang nganggur,” katanya.

Mantan Anggota DPR RI ini mengaku tidak akan tinggal diam, ia sedang mencari formula untuk terus menekan angka pengguran di Provinsi Banten. “Persoalan kita bagaimana mencari apakah dalam bentuk program, kita melakukan pendidikan vokasional, kita melakukan bursa,” ujarnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here