WH: Jangan Halangi Saya Membangun Banten!

H. Khatib Mansur.*

H. Khatib Mansur

Pada acara pembukaan Silaturahmi Kerja Wilayah (Silakwil) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Banten, Selasa (18/2/2020) di Gedung Negara Jalan Brigjen K.H. Syam’un, Kota Serang, Gubernur Banten Dr. H. Wahidin Halim, M.Si, atau yang akrab disapa WH dalam kata sambutannya menyatakan satu kalimat fenomenal, karena baru kali ini dalam sejarah perjalanan mengisi pembangunan Provinsi Banten selama dua dekade terakhir (2000-2020) kalimat itu terucap.

“Jangan halangi saya membangun Banten!,” katanya. Itulah kalimat yang terselip di tengah-tengah kata sambutannya yang serentak disambut aplaus riuh dari hadirin, sehingga terdengar sampai ke luar ruangan. Suasana ruangan yang semula nyaris senyap karena serius, seketika mencair. Sejumlah orang yang semula duduk-duduk ngobrol di luar bergegas masuk ke ruangan lewat pintu belakang, meskipun mereka berdiri tidak kebagian kursi.

Ketua Umum ICMI Pusat Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie didampingi Ketua ICMI Banten Prof. Dr. Lili Romli dan Dirjen Layanan Ketenagakerjaan Drs. Zuhri Bahri, M.Si, mewakili Menteri Tenaga Kerja Dra. Hj. Ida Fauziyah, M.Si, juga tersenyum mendengar kalimat pemantik semangat membangun Banten ini khususnya dan membangun Indonesia pada umumnya.

Apa makna dari ungkapan Gubernur WH tersebut di atas? Tentu erat kaitannya dengan visi-misi yang telah ditetapkan oleh pasangan pemimpin Banten ini, WH-Andika. Visinya: Banten yang maju, mandiri, berdaya saing, sejahtera, dan berakhlakul karimah bagi masyarakat Banten, sedangkan misinya: Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance); Membangun dan meningkatkan kualitas infrastruktur; Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan berkualitas; Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan berkualitas; Meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi bagi masyarakat Banten.

Maka, untuk mencapai keberhasilan visi-misinya tersebut, WH saking semangatnya menyatakan kalimat tersebut di atas. Tanggung jawabnya sebagai pemimpin di Banten tentu akan ditagih oleh masyarakat Banten, jika dalam satu periode kepemimpinannya bersama Wagub Andika Hazrumy tidak mewujudkan harapan masyarakat Banten.

WH dalam kata sambutannya itu, mengalir saja tanpa teks berbicara tentang renovasi Gedung eks Keresidenan Wilayah I Banten ini menjadi Gedung Negara sebagai ruang publik, tempat kegiatan seminar, diskusi, dan lainnya bagi masyarakat Banten, baik dari kalangan pemuda, termasuk HMI/KAHMI, ICMI, Bakor Banten, Perkumpulan Urang Banten, MUI, FSPP, dan lainnya dipersilakan memanfaatkan gedung tersebut sebaik-baiknya, termasuk gedung sebelah sudah dipersiapkan kamar-kamar untuk mereka yang mau menginap.

“Waktu kali pertama gedung ini saya renovasi, museum yang semula di sini saya pindahkan, saya tata dan sudah diperbaiki menjadi lebih baik. Bahkan, pak sekda juga pernah bilang ke saya, hati-hati pak ada jin! Biarkan saya juga biang jin. Maksud saya, bukan berarti saya sombong, tidak mempan, bukan itu! Saya, buru-buru pulang takut dikejar jin. Saya minta, agar Banten ini dijauhkan dari hal-hal mistik kayak gitu,” ujarnya yang masih disambut geeerrr hadirin.

Sebelum WH sampai pada akhir kata sambutannya, dia menyampaikan secara gamblang proses revitalisasi kawasan Kesultanan Banten Lama, yang hasilnya jauh lebih baik, karena sebelumnya kawasan itu kumuh, karena tidak tertata dengan apik dan eksotis. Setelah direvitalisasi menjadi Madinah ala Banten, pengunjung yang datang dari berbagai daerah mencapai sembilan juta orang per tahun.

Setelah selesai membangun pelataran Masjid Agung Banten (2019) yang dihiasai beberapa payung besar mirip Masjid Nabawi di Madinah Arab Saudi, kini sedang mempersiapkan lahan seluas 4,5 hektare untuk membangun Gedung Pertemuan Umum (Convention Hall). Gedung Convention Hall tersebut, akan dibangun dua lantai, bagian atasnya dipersiapkan untuk kajian kitab-kitab Syekh Nawawi Al-Bantani dan Museum Sultan Maulana Hasanuddin. “Tempat ustaz dan kiai kumpul juga sudah disiapkan, berikut asbaknya,” ucapnya disambut senyum hadirin.

Rekonstruksi

Isi museum di Convention Hall tersebut, antara lain akan diisi dokumen-dokumen penting tentang Banten. “Saya sudah berangkatkan pakar sejarah dari Kampus UIN SMH Banten Dr. Mufti Ali dan tiga orang kawannya ke Belanda, untuk membawa pulang dokumen-dokumen penting tentang Banten dan akan disimpan di museum tersebut. Keberangkatan pak Mufti ke Belanda atas biaya saya pribadi,” tuturnya.

Harapan saya, tambah dia, dari dokumen-dokumen Belanda tersebut, akan merekonstruksi kondisi Banten pada masa kesultanan, karena Banten ini memiliki kekayaan kebudayaan, adat istiadat masyarakatnya, termasuk kesenian debus, dan lainnya. Ini juga penting dikembangkan untuk menunjang sektor pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten yang kreatif, inovatif, dan mandiri.

Gubernur WH meyakini keberhasilan membangun Provinsi Banten dimulai dari Banten Lama, karena dari sanalah Banten ini dikenal dunia internasional sebagai pusat kekuasaan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh para Sultan Banten dari mulai Sultan Maulana Hasanuddin (1570) dan seterusnya hingga mencapai puncak kejayaannya pada abad XVI-XVII.

Satu abad lamanya (XVI-XVII) Kerajaan Islam Banten dikenal sebagai pusat perdagangan internasional, seperti disebut dalam sumber Cina, yang berjudul Shung Peng Hsiang Sung (1430) menyebut nama Banten – orang Belanda menyebutnya, Bantam – merupakan rute pelayaran dagang dari segala penjuru dunia. Bahkan, Tome Pires (1513) dari Portugis menggambarkan Banten sebagai kota pelabuhan yang ramai.

Ramainya para pedagang asing yang datang ke Banten, antara lain pengaruh faktor eksternal, karena dunia Eropa pada abad XV sedang mengalami revolusi di bidang perdagangan (commercial revolution), di bidang pelayaran (maritime revolution), dan di bidang industri (industrial revolution), sehingga menemukan jalur pelayaran baru dari Selat Malaka sampai ke Teluk Banten dan Pulau Jawa pada umumnya.

Sementara itu, para pedagang asal Belanda masuk wilayah Indonesia, yang dulu masih disebut The Greater Sunda Island (Sunda Besar) tepatnya di Batavia (Jakarta) pada 1611. Setelah sebelumnya di negaranya, Belanda, mereka telah mendirikan persekutuan dagang, yang disebut Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) 1602. Versi lain, rombongan Cornelis de Houtman dari Belanda masuk ke Banten 1596.

Banyaknya para pedagang dari berbagai penjuru dunia datang ke Banten, seperti para pedagang dari Cina, Portugis, Inggris, India, Belanda, dan lainnya, karena wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Banten membentang luas dari Jasinga, Tangerang hingga ke Lampung, memiliki komoditas sumber daya alam berupa rempah-rempah, lada, gula-aren, cengkih, dan beras. Khusus potensi lada, adalah komoditas perdagangan monopoli keluarga kerajaraan.

Oleh karena itu, sejumlah besar bangsawan saat itu menjalin kerja sama dengan para pedagang asing, seperti Cina, India, Portugis, Inggris, dan Belanda. Namun, Kesultanan Banten ternyata lebih akrab menjalin hubungan persahabatan dengan Inggris dibanding dengan Belanda, yang yang memonopoli perdagangan, sehingga sering bertentangan dengan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh Sultan Banten.

Demikian juga hubungan Banten dengan Kerajaan Inggris. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar berkirim surat untuk Raja Inggris, Charles II, sehubungan dua Duta Besar Banten, Kiai Ngabehi Naya Wipraya dan Kiai Ngabehi Jaya Sedana akan berkunjung ke London, Inggris, 10 November 1682.

Secara terpisah, Rektor Untirta Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, ST, MT, di sela-sela diskusi sore on air di Radio FM102,8 Serang, bersama Sekjen Bakor Banten Aly Yahya, Kesbangpol Pemprov Banten Ade Iriyanto, dan anggota DPRD Banten Jazuli Abdillah. “Saya pernah ke Inggris. “Pak Marti tanya asal daerah saya. Kemudian, beliau memperlihatkan foto dua Duta Besar Banten kepada saya,” katanya. Foto dua Duta Besar tersebut, masih tersimpang di Kedutaan Indonesia di Inggris maupun di Museum of Mankind, Inggris.

Ketua Umum ICMI Pusat Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie menyambut baik kegiatan Silakwil ICMI Banten bermitra dengan Pemprov Banten, karena secara nasional tugas ICMI, adalah bermitra dengan Pemerintah Pusat dalam memberikan sumbang saran, masukan, dan kritik konstruktif, karena itulah tugas para cendekiwan yang ada dalam wadah ICMI untuk kemajuan bangsa ini ke depan.

Pada periode pertama, ujar dia, Presiden Joko Widodo berorientasi pisik untuk percepatan pembangunan infrastruktur. Akan tetapi, pada periode kedua ini memberikan prioritas pada peningkatan sumber daya manusia (SDM), artinya kembali ke jati diri bangsa ini yang sebenarnya sebagaimana impian ICMI sejak berdirinya (1990), mencanangkan SDM Indonesia unggul untuk kemajuan peradaban bangsa ini.

Oleh karena itu, ucap dia, penguasaan imtak (iman takwa) dan imtek (ilmu pengetahuan dan teknologi) itu penting bagi cendekiawan Muslim di Banten khususnya – Indonesia pada umumnya – karena bagaimana juga bangsa ini segera maju jika tingkat kecerdasan spiritual-materialnya saling menunjang.

Sementra itu, Ketua ICMI Banten Prof. Dr. Lili Romli menyatakan, peningkatan SDM bagi masyarakat Banten harus terus ditingkatkan, agar mampu beradaptasi dalam perkembangan zaman yang semakin bergerak cepat, baik dalam pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi. “SDM unggul bagi masyarakat Banten tidak hanya mengandalkan kecerdasan semata, tetapi yang paling utama, adalah akhlakul karimah dan berintegritas,” ujarnya.

“Dalam hidup ini, bukan orang yang kuat dan pintar yang dapat bertahan di masyarakat, melainkan spesies yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya,” ucapnya mengutip teori Charles Darwin menjawab pertanyaan pers.

Oleh karena itu, satu dari enam poin rekomendasi hasil Silakwil ICMI Banten yang akan disampaikan kepada Gubernur Banten, antara lain, “Pemprov Banten dapat memberi sanksi administratif bagi perusahaan yang tidak memberikan informasi lowongan kerja kepada Disnaker setempat,” tutur Sekum ICMI Banten Rohman.

Obsesi besar

Melihat perjalanan sejarah Banten masa lalu, pemimpin Banten WH-Andika, keduanya terobsesi mewujudkan kemajuan masyarakat Banten yang “dipotret” melalui visi-misi pembangunan Provinsi Banten yang berlandaskan moto juang pembangunan Provinsi Banten: iman-takwa, (Perda Nomor 2 Tahun 2002 tentang Makna Lambang).

Selain berhasil merevitalisasi Banten Lama, pemprov juga sudah punya Gedung Aspirasi di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), karena selain untuk kegiatan pemprov juga untuk kegiatan publik, dengan kapasitas sekitar 2.000 orang. Selain itu, pemprov juga mendorong meningkatkan produksi di sektor pertanian, perikanan, dan kelautan untuk menunjang sektor industri, pariwisata, dan kebutuhan masyarakat Banten itu sendiri.

Di sisi lain, Wagub Andika Hazrumy menekankan kepada para ASN di lingkungan pemprov, agar fokus pada visi-misi Pemprov Banten di era kepemimpinan sekarang ini. “Jangan sampai ada OPD yang melaksanakan program kerjanya tidak sesuai dengan visi-misi yang telah ditetapkan,” katanya pada apel Senin lalu. “Pak Sekda Al Muktabar, saya minta bangun koordinasi yang baik,” tuturnya.

Wagub Andika ingin dengar dari para ASN yang hafal visi-misi, silakan ke depan. “Apakah saya panggil saja satu per satu?,” katanya. Peserta apel yang diikuti oleh sekitar 2.300 pegawai pemprov itu menyahut, “Iya… panggil saja!,” ucap peserta apel serempak. Coba, Kepala OPD Ketapang, maju!,” tuturnya.

Wagub Andika puas mendengarkan visi-misi Pemprov Banten yang disampaikan melalui pengeras suara oleh Dr. Ir. Hj. Aan Muawanah, MM tersebut. Spontan Wagub Andika merogoh kantong memberinya hadiah. Rupanya, Gubernur WH dan Wagub Andika harus lebih serius mengarahkan para pegawai Pemprov Banten, karena bagaimana juga cita-cita memajukan Banten ini harus sejalan-seirama antara pimpinan dengan pegawai ASN yang ada di Pemprov Banten, agar tercapai maksud dan tujuan. Jika tidak ada kekompakan ASN di Pemprov Banten, jangan sampai seperti panggang jauh dari api. (Penulis, Pengurus ICMI Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here