Waspadai Ancaman Teroris Pasca Tewasnya Pimpinan ISIS

Oleh : Ahmad Zaki

Tewasnya pentolan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi dinilai tak lemahkan organisasinya. Bahkan, merupakan alarm kewaspadaan bagi masyarakat dunia. Pergerakkan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ini sebetulnya telah lama dikenal oleh umum. Meski berbasis di Suriah, namun anggotanya tersebar hampir di seluruh belahan dunia.

Kabar kematian pimpinan organisasi terorisme terbesar di Suriah, Abu Bakar al-Baghdadi menggemparkan publik dunia. Pentolan kelompok garis keras ini terasa setelah meledakkan dirinya saat menolak menyerah ditengah invasi militer Amerika Serikat. Meski demikian, hal ini bukanlah tanda kehancuran kelompok militan tersebit. Justru malah menjadi tanda waspada masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

Prediksi akan adanya potensi serangan balik ini salah satunya diutarakan oleh jubir Badan Intelijen Negaral (BIN), yaitu Wawan Hari Purwanto. Dirinya mengatakan bahwa dalam upaya kontra-terorisme yang seperti perang, biasanya akan ada serangan balik. Hal serupa juga dinyatakan oleh Kepala Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Asep Adi Saputra.

Menurutnya, tewasnya Baghdadi menjadi perhatian guna meningkatkan kewaspadaan bagi Polri dan pasukan khusus anti-terorisme kepolisian, Densus 88. Kaitannya agar tetap melakukan upaya penegakkan hukum. Selain itu, dirinya menambahkan bahwa seluruh jaringan ISIS yang ada di Indonesia kini berada dalam monitoring.

Menurut Jenna Jordan, seorang profesor asal Georgia Institute of Technology, matinya pimpinan suatu kelompok teroris tidak secara langsung berimbas pada kehancuran kelompok tersebut. Jenna menjelaskan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi akan hal ini. Faktor pertama yaitu; Birokrasi, yang umumnya kelompok teroris ini mempunyai struktur birokrasi dengan susunan yang lengkap dan juga kompleks.

Kejelasan struktur, peraturan, hingga rutinitas inilah yang kemudian membuat kelompok teroris tertentu mampu bertahan dan secara cepat akan mengganti struktur kepemimpinannya yang telah hilang.

Faktor kedua ialah dukungan publik terhadap kelompok ini. Dukungan dinilai cukup krusial karena bantuan masyarakat inilah yang nantinya memudahkan kelompok teroris melakukan rekrutmen, menghimpun dana, bahkan membantunya bersembunyi dari pemerintahan. Selain itu, patronasi ini turut memudahkan kelompok militan untuk melancarkan re-organisasi sat diserang.

Hal senada turut diungkapkan oleh Max Abrahams dan Philip B.K. Potter. Dalam tulisannya tang berjudul Explaining Terrorism: Leadership Deficits and Militant Group Tactics, keduanya menyatakan pendapat bahwa defisit atau kekosongan kepemimpinan tidak secara langsung mempengaruhi kelompok ini untuk menghentikan penyerangan. Bahkan, kondisi ini dapat membuat kelompok teroris meningkatkan perlawanan terhadap masyarakat sipil.

Fenomena-fenomena tersebut tak hanya berlaku di negara-negara lain. Sebab, kelompok teroris domestik di Nusantara nyatanya masih eksis meski pimpinannya tewas ataupun ditangkap oleh aparat keamanan. Sebagai contoh, Jamaah Islamiyah (JI), kelompok yang bekerjasama dengan Al-Qaeda serta bertanggung jawab atas serangan bom besar di sejumlah wilayah seperti Bom Bali tahun 2002 dan 2005, juga Bom Kedutaan Besar Australia pada tahun 2004 silam.

Kelompok yang terbentuk tahun 1993 ini masih aktif meskipun pendiri dan pimpinannya, Abu Bakar Ba’asyir serta Para Wijayanto, telah mendekam di bui. Pun dengan para petinggi-petingginya seperti Noordin M. Top serta Dr. Azhari tewas dalam penggerebekan polisi, organisasi militan ini masih terus bergerak. Sama halnya dengan JAD (Jamaah Ansharut Daulah), kelompok cuilan JI ini kemudian bekerjasama dengan kelompok ISIS.

Kelompok inilah yang dinyatakan berada di balik insiden serangan bom seperti di Sarinah, Kampung Melayu, dan Surabaya ini tetap getol meskipun  tahun lalu pentolannya, Aman Abdurrahman alias Oman Rochman telah pidana hukuman mati. Berkenaan dengan hal ini ialah kasus penusukan terhadap mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. Yang menarik ialah kemampuan kelompok teroris di Nusantara untuk tetap melenggang setelah pimpinannya hilang, yang tak hanya berasal dari kemampuan kelompok teroris itu sendiri, namun juga dari patronasi pihak luar termasuk pemerintah.

Menyoal pada kematian Baghdadi serta berkurangnya pengaruh ISIS kemungkinan akan berdampak pada bangkitnya kelompok terorisme di Indonesia. Hal ini diutarakan oleh Pengamat intelijen Stanislaus Riyanta yang melihat bahwa peristiwa kejatuhan ISIS dan JAD dapat dimanfaatkan oleh JI untuk eksis kembali.

Tak hanya negara Indonesia saja yang harus bersiap-siap menghadapi dampak kematian Baghdadi. Namun juga negara-negara lain di wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia dna Filipina. Mereka melihat akan kemungkinan serangan balasan oleh para Pro ISIS.

Maka dari itu pemerintah Indonesia mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus waspada akan kemungkinan hal ini. Mengingat pergerakkan kelompok militan ini dinilai cukup aktif dalam melakukan segala invasi. (Penulis adalah pemerhati politik keamanan)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here