Selasa, 19 Juni 2018

Warga Tolak “Valentine Day”

PENOLAKAN terhadap “Valentine Day” atau Hari Kasih Sayang disuarakan elemen masyarakat Kota Cilegon. Mereka menilai peringatan yang identik dilaksanakan setiap 14 Februari itu tidak religis. Penolakan Valentin Day salah satunya datang dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon.

“Valentine merupakan tradisi orang barat yang berkedok kasih sayang, namun sebenarnya kalau kita tahu sejarahnya kenapa ada hari valentine, hal itu sangat menyimpang dari ajaran Islam,” kata Ketua PCNU Kota Cilegon, Hifdullah, Selasa (13/2/2018). Sebab itu, pihaknya bersama pergerakan mahasiswa Cilegon dan Yayasan Kampung Madani menolak secara tegas kebudayaan tersebut.

Menurut dia, aksi menolak hari valentine secara tidak langsung menyampaikan keinginan atau inspirasi dari sejumlah elemen masyarakat agar seluruh masyarakat Cilegon mengetahui. Apalagi para pelajar jangan sampai terjebak dengan perayaan tersebut.
“Penolakan ini perlu kami beritahukan kepada masyarakat luas, bahwasanya valentine bukan kebudayaan kami,” tuturnya.

Pihaknya berharap, anggota DPRD Kota Cilegon juga bisa berpartisipasi memberikan pemahaman kepada masyarakat supaya tahu bahwa valentine bukan tradisi dan budaya kita. Hal yang sama dikatakan Pembina Yayasan Kampung Madani Juju Juhana. “Sekarang sudah saatnya masyarakat menolak budaya-budaya hedonisme dan salah satunya adalah peringatan valentine. Dimana masyarakat dunia biasa memperingatinya setiap 14 Februari.”

Menurut dia, pada umumnya yang merayakan hari valentine ini adalah dari kalangan remaja, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang rusak moralnya. Sebuah survei menyebutkan, kalangan anak-anak muda di Thailand memakai sejumlah muslihat agar bisa berhubungan seks dengan pasangannya di hari valentine. Laki-lakinya memakai alkohol dan menonton video porno. Sedangkan ceweknya dengan mengenakan busana sensual. “Kesimpulan itu diperoleh lewat jejak suara yang melibatkan 393 siswa sekolah menengah di Bangkok,” ujarnya.

Ia mengatakan, keistimewaan tanggal 14 Februari ini bukanlah peringatan khusus berdasarkan agama. Pemikir agama, bahkan pemuka agama sekalipun, mengingatkan, valentine sekadar geliat budaya yang berakar dari politisasi gereja dan kaisar. Menurut dia, ada berbagai versi mengenai ikhwal valentine. Satu versi menyebutkan, ada salah satu orang pada bangsa romawi yang menolak perintah raja, kemudian ia dipenggal.

Pada tanggal 14 Februari, dan ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk seorang gadis yang selama ia dipenjara dan sangat mendukung aksi pendeta itu. Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari, orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang.

Ketua Front Aksi Mahasiswa (FAM) Kota Cilegon, Faisal mengatakan, warga Cilegon harus membuka mata dan memahami apa sebenarnya makna tersebut dan jangan terbius oleh propaganda maupun budaya-budaya barat.  Masyarakat, tutur dia, harus melihat secara utuh ada apa di balik hari valentine, efek apa yang timbul dari hari valentine.

“Dasar pemikiran menyimpulkan bahwa valentine day merupakan budaya barat yang tidak bisa dilakukan pada bangsa timur seperti kami. Maka kami sebagai muslim wajib meninggalkan budaya yang bukan dari Islam, demi semata-mata mendapatkan keridhoan Allah SWT,” ucap Faisal. (Himawan Sutanto)***


Sekilas Info

Libur Idul Fitri 1439 H, Arus Lalulintas Menuju Kawasan Wisata Anyer di Berlakukan Satu Arah

CILEGON, (KB).- Memasuki libur Idul Fitri 1439 Hijriyah, Polres Cilegon memberlakukan sistem satu arah menuju kawasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *