Senin, 25 Juni 2018

Warga Desak Pemkab Lebak Gelar OP Beras

LEBAK, (KB).- Sejumlah ibu rumah tangga di Kabupaten Lebak mendesak Pemkab untuk segera menggelar operasi pasar (OP) beras murah, menyusul terus melambungnya harga beras yang dijual di pasaran. ”Kami minta Pemkab dapat segera turun tangan melakukan operasi pasar beras murah mengingat harga jual beras di pasaran saat ini sangat tinggi,” kata Tini (50) dan sejumlah ibu rumah tangga lainnya di Rangkasbitung, Kamis (11/1/2018).

Dikemukakan Tini, harga beras KW 1 hingga KW 3 di pasaran yang semula berada pada kisaran Rp 6.000 hingga Rp 8.000/liter kini mencuat dengan kisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.500/liter. ”Tentu sebagai ibu rumah tangga kami sangat terbebani dengan mahalnya harga beras di pasaran. Sebab, beras merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi sehari-hari,” katanya.

Dia berharap, Pemkab dan pihak yang berkompeten di bidang perberasan ini dapat secepatnya mencarikan solusi untuk menurunkan dan menormalkan kembali harga jual beras di pasaran. ”Jika tidak segera dilakukan langkah-langkah konkret seperti OP beras murah, rakyat terancam tidak mampu beli beras untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” tutur Lilis (56) warga Rangkasbitung.

Keluhan juga disampaikan warga lainnya yang menyatakan harga beras yang berlaku di pasaran saat ini sangat luar biasa mahalnya. ”Baru kali ini saya merasakan harga beras begitu tinggi. Ada apa ini kok bisa seperti ini. Pemerintah harus segera turun tangan dan mencari tahu penyebab harga beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat begitu mahalnya,” kata Julaeha (49) warga Kelurahan Rangkasbitung Barat.

Bulog siap gelar OP

Sebelumnya Kepala Sub Divre Bulog Lebak-Pandeglang, Sarjaka menyatakan kesiapannya untuk menggelar operasi pasar (OP) beras di sejumlah titik di Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Hal itu dilakukan untuk menstabilkan harga beras di pasaran yang mulai mengalami lonjakan sejak beberapa hari belakangan ini.

”Prinsipnya kami harus selalu siap untuk menggelar OP beras guna menstabilkan harga beras yang telah mengalami lonjakan. Namun sebagai penyedia, atau operator, kami tentunya harus berkoordinasi dahulu dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait. Serta dengan brigade ketahanan pangan di masing-masing daerah, serta dengan mitra Bulog,” ucap Sarjaka kepada Kabar Banten, Rabu (10/1/2018).

Menurutnya, hingga saat ini baru Pemkab Pandeglang yang sudah mengajukan kepada Bulog untuk menyelenggarakan operasi pasar beras. Sementara dari pihak Pemkab Lebak masih belum ada pengajuan. ”Sebagai pejabat baru di Divre Lebak-Pandeglang, saya akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di dua kabupaten itu untuk mengatasi permasalahan lonjakan harga beras,” tuturnya.

Sarjaka menjelaskan, untuk mengamankan persediaan beras di Lebak dan Pandeglang, pihaknya terpaksa mendatangkan beras MOP dari DKI Jakarta dan Jawa Barat sebanyak 4.500 ton, yang terdiri dari beras Jawa Barat sebanyak 500 ton, dan beras dari DKI Jakarta 4.000 ton.

Terpisah Plt Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Orok Sukmana mengatakan, terkait dengan tingginya harga beras di pasaran pihaknya masih menunggu instruksi dari pemerintah pusat. Misalnya menggelar OP beras untuk menstabilkan harga beras di pasaran.

”Kalau memang ada instruksi dari pemerintah harus menggelar OP beras kita tentu akan laksanakan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di daerah ini,” katanya. Ia menambahkan, pihaknya saat ini pun terus memantau harga beras yang berlaku di sejumlah pasar tradisional di Lebak. (ND)***


Sekilas Info

Gubernur Banten Pimpin Sertijab Bupati Lebak

LEBAK, (KB).- Serah terima jabatan (sertijab) Bupati dan Wakil Bupati Lebak dari Penjabat Bupati (Pj) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *