Warga Anyer dan Cinangka Mulai Tinggalkan Posko Pengungsian Tsunami Selat Sunda

Mes milik Pemkab Serang di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka yang dijadikan posko pengungsian warga terdampak tsunami selat sunda terlihat sepi ditinggalkan para pengungsi, Jumat (4/1/2019).*

SERANG, (KB).- Warga Kecamatan Anyer dan Cinangka Kabupaten Serang yang terdampak tsunami selat sunda yang bertahan di posko pengungsian, sebagian besar mulai meninggalkan posko pengungsian, Jumat (4/1/2019). Bahkan beberapa posko pengungsian terlihat sudah tampak kosong.

Pantauan kabar banten, beberapa tenda di sepanjang ruas jalan raya Anyer-Cinangka sudah ditinggalkan pengungsinya. Sedangkan posko yang berlokasi di Mes milik Pemkab Serang yang letaknya di ketinggian tampak warga sedang merapikan barang-barangnya. Mereka pun sudah siap untuk pergi dari pengungsian.

“Sudah pada pulang kalau yang lain sejak hari ini,” ujar seorang pengungsi asal Desa Pasauran Kecamatan Cinangka, Rini Setiawati (32), saat ditemui di posko pengungsi milik Pemkab Serang di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka.

Rini mengatakan sudah mengungsi disana sejak hari Minggu (23/12/2018) lalu. Dengan demikian ia dan keluarganya sudah tinggal disana hampir dua Minggu. “Enam orang saya, anak empat,” ucapnya.

Sebelum warga kembali ke rumah masing-masing, jumlah pengungsi di mes milik Pemkab Serang itu sebanyak 300 orang. “Waktu belum pada pulang, 300 orang tapi dibagi tiga ada tiga bagian di tenda. Ini tendanya sudah dibongkar,” katanya.

Selain ke mes milik Pemkab Serang, warga Pasauran juga ada yang mengungsi ke Cipanas. Sebab jika semua dimasukkan ke mes maka jumlah itu tidak akan muat.

Ibu empat anak tersebut mengaku masih khawatir dan trauma dengan bencana tersebut. Mereka takut kalau kemudian masih ada tsunami susulan. “Masih khawatir trauma lah dengan susulan. Apalagi banyak anak kita, lari susah bawanya,” ujarnya.

Selama ini, warga memang tidak selalu berada di pengungsian saat siang hari. Sebab ada juga yang pulang ke rumah dan saat sore hari datang ke posko.

Selama di posko pengungsian, banyak juga anak-anak yang sakit panas. Namun setiap hari ada dari petugas puskesmas yang datang untuk memeriksa. “Banyak yang sakit, tapi ada obat dari petugas. Bantuan Alhamdulillah banyak, ada yang ngasih makan sehari tiga kali,” katanya.

Ia mengatakan keputusannya untuk meninggalkan pengungsian bukan karena sudah merasa nyaman. Namun lebih dikarenakan solidaritas dengan masyarakat lain. “Susah senang bareng. Terus ada info juga emang sudah enggak darurat. Tapi tetap masih was-was,” tuturnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here