Vokasi Industri, Upaya Kemenperin Tingkatkan SDM dan Kurangi Pengangguran

Peluncuran Program Pendidikan Vokasi Industri Kementerian Perindustrian tahun 2017. (Foto: Dokumen Kemenperin)*

Di Era Industri 4.0, Sumber Daya Manusia (SDM) dituntut untuk memiliki kemampuan dan kualitas yang mumpuni dalam menghadapi daya saing dan tantangan ke depan. Untuk menyiapkan SDM yang berkualitas tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah memfasilitasi lebih dari 400 ribu siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia untuk mengikuti program pendidikan vokasi yang ‘link and match’ dengan industri. Mereka disiapkan agar bisa langsung bekerja setelah lulus, karena telah memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini.

Program Kemenperin yang digulirkan sejak tahun 2017 ini, telah menjangkau wilayah Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Selain bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia, program ini sekaligus juga untuk mengurangi angka pengangguran. Upaya tersebut merupakan wujud nyata dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM Indonesia.

Dalam program pendidikan vokasi yang link and match antara industri dan SMK, Kemenperin telah menyelaraskan 34 kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. “Kami optimistis, program pendidikan vokasi link and match antara SMK dengan industri akan menekan angka pengangguran yang signifikan dari lulusan SMK,” ujar Koordinator Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Mujiyono, dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/3/2019).

Mujiyono menyebutkan, hingga tahap kesembilan, pihaknya telah melibatkan sebanyak 2.350 SMK dan 899 perusahaan dengan total perjanjian kerja sama mencapai 4.351 yang telah ditandatangani. Adapun target pada tahun 2019, sebanyak 2.685 SMK dapat dibina atau menjalin kerja sama dengan industri. “Dalam perjanjian kerja sama tersebut, satu SMK dapat dibina oleh beberapa perusahaan sesuai kebutuhan dan kejuruan yang diinginkan. Setiap SMK rata-rata ada 200 siswa,” ujarnya.

Ia menyakini, dengan SDM industri yang berkualitas akan mampu mendongkrak produktivitas dan kinerja industri nasional. Bahkan, ikut mengatrol daya saing Indonesia. “Kunci pengembangan industri adalah SDM, selain investasi dan teknologi. Indonesia punya potensi kuat dari jumlah SDM, apalagi sedang menikmati bonus demografi hingga tahun 2030,” ujar Mujiyono.

Ia mengatakan, selain meluncurkan program link and match, dalam menciptakan SDM industri yang kompeten, pihaknya sudah menjalankan pendidikan vokasi di SMK dan politeknik di lingkungan Kemenperin dengan konsep dual systemyang diadopsi dari Swiss dan Jerman. “Kami memberikan pelatihan 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja), yang juga diikuti oleh penyandang disabilitas,” katanya.

Mujiyono mengemukakan, para lulusan siswa-siswi vokasi di seluruh unit pendidikan Kemenperin, hampir 90 persen terserap kerja di industri. Sisanya, melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan berwirausaha. Saat ini, Kemenperin telah memiliki sembilan SMK, 10 Politeknik dan dua Akademi Komunitas. Setiap tahun menghasilkan lebih dari 5.000 lulusan. “Makanya, kami menjadi ‘leading sector’ dalam kegiatan vokasi industri,” ujarnya. 

Politeknik Industri Petrokimia

Untuk menyiapkan SDM industri petrokimia yang kompeten sesuai kebutuhan dunia kerja, Kemenperin bersama Asosiasi dan Industri Petrokimia akan membangun Politeknik Industri Petrokimia di Serang, Provinsi Banten. Hal tersebut diimplementasikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kemenperin dengan Asosiasi dan Industri Petrokimia tentang Pembangunan dan Penyelenggaraan Politeknik Industri Petrokimia di Banten, Senin (11/3/2019), di Jakarta.

Perjanjian Kerja Sama ini diteken oleh Sekjen Kemenperin dengan 14 pihak yang mewakili asosiasi dan industri petrokimia. Ke-14 stakeholder tersebut, meliputi Federasi Industri Kimia Indonesia, INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, PT Nippon Shokubai Indonesia, PT Mitsubishi Chemical Indonesia, PT Polytama Propindo, dan PT Asahimas Chemical. Selanjutnya, PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia, PT Trinseo Materials Indonesia, PT Petro Oxo Nusantara, PT Petrokimia Butadiene Indonesia, PT Cabot Indonesia, dan PT Pupuk Indonesia.

Penyelenggaraan politeknik industri petrokimia ini, nantinya dilakukan secara bersama-sama antara Kemenperin dengan industri, mulai dari penyusunan kurikulum, rekrutmen calon mahasiswa, penyelenggaraan pendidikan, praktik kerja di industri, hingga penempatan kerja lulusan pada perusahaan industri. “Sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Industri kimia merupakan satu dari lima sektor yang akan menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 di tanah air,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here