Visi Kepemimpinan Pasca Ramadan

Ramadan adalah masa jeda spiritual dan karenanya menjadi saat yang tepat untuk melakukan autokritik (muhasabah). Mozaik Ramadan memang sarat dengan latihan-latihan spiritual (spiritual exercises) menuju kesadaran spiritual kolektif, yakni kesadaran yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan (God consciousness). Dengan begitu, puasa akan melahirkan “manusia-manusia baru” yang oleh Nurcholis Madjid disebut “manusia primordial”, yakni manusia yang telah menemukan kembali potensi kesuciannya.

Ramadan menjadi sebuah mekanisme ilahiah di mana terjadi proses pelatihan spiritual (riyadhah ruhaniyyah) yang intensif menuju penemuan diri yang paripurna. Sosok ini digambarkan dalam Alquran sebagai “Muttaqin” (Qs. Al-Baqarah [2]: 183), yakni orang-orang yang memiliki kesadaran ketuhanan dan senantiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya (omnipresent). Sejatinya, inilah hakikat ibadah puasa yang hendak dicapai, yakni kelahiran kembali manusia fitri: suci dari segala dosa sebagaimana pada awal kelahiran.

*Kemenangan spiritual*

Dari perspektif terminologi keagamaan, manusia fitri tidaklah sekadar bermakna suci secara fisik, tetapi lebih bermakna esoteris, yakni kesucian jiwa atau rohani. Kelahiran kembali “manusia primordial”, dengan demikian, menjadi indikator kuat keberhasilan puasa dan ritual lainnya di bulan Ramadan. Karenanya Allah Swt. mengisyaratkan predikat “Takwa” sebagai perlambang supremasi tertinggi dari bulan suci tersebut. Kesuksesan ini menjadi sangat wajar jika kemudian direfleksikan dalam kegembiraan berupa perayaan di bulan Syawal, yang disebut Hari Raya Idul Fitri sebagai momentum kemenangan spiritual umat Islam.

Keceriaan di hari fitri, dengan demikian, haruslah dimaksudkan untuk mensyukuri karunia Allah Swt. Tersebut, yakni kemenangan spiritual. Menjadikan momentum Idul Fitri sebagai ajang pesta-pora menyambut berakhirnya ujian Ramadan adalah representasi tradisi negatif yang masih tampak di tengah-tengah kehidupan keberagamaan masyarakat kita. Dan jika dilihat dari sisi hikmah ibadah puasa, yang menghendaki kesadaran spiritual, maka ini menjadi sebuah anomali.

Kemenangan di hari fitri ini haruslah diwujudkan secara  simpatik  dan elegan, suatu sikap yang menunjukkan kepatuhan dan kepasrahan diri sebagai cermin kesucian jiwa. Oleh karena itu, perwujudan rasa syukur atas kemenangan itu  ditunjukkan dengan seruan takbir, tahmid, dan tahlil. Semua hati Muslim bergembira dalam suasana jiwa yang lurus (hanif) dan jernih, jauh dari sikap congkak dan sombong. Untuk itulah, kemeriahan duniawi dan ingar-bingar kemewahan di hari fitri hanya akan membuat kontraproduktif terhadap hasil riyadhah di bulan Ramadan dan mereduksi nilai kesucian yang telah diraih.

Meski demikian, Idul Fitri sejatinya sarat muatan simbolisme. Tradisi mengenakan busana baru, misalnya, adalah bagian dari makna-makna simbolik tersebut. Kebaruan (busana) itu merupakan simbol belaka, yakni gambaran kondisi manusia yang kembali kepada kodrat, yakni kesucian spiritual. Perolehan ini tidak lain merupakan buah dari tempaan rohani selama sebulan lamanya. Maka Idul Fitri berarti kembali (‘id) pada kesucian (fithri). Artinya, manusia berada dalam kondisi suci tanpa dosa, yang menurut Komaruddin Hidayat, secara filosofis diistilahkan sebagai “man as a such”. Takbir yang membahana di hari fitri—yang mengiringi langkah dan menyeru jiwa yang suci—sesungguhnya mengingatkan pada detik-detik pertama kelahiran manusia di dunia fana.

*Visi kepemimpinan*

Madrasah puasa memang dimaksudkan agar pelakunya memiliki kesadaran rohani atau kesadaran ketuhanan (God consciousnes). Kondisi ini akan membuat seorang hamba merasakan kehadiran dan kebersamaan dengan Tuhan dalam setiap denyut nadi dan eksistensi kesehariannya: Tuhan menjadi begitu dekat. Tanpa kesadaran semacam itu Tuhan sangat sulit untuk didekati. Hanya orang-orang yang terpilih dalam seleksi pemegang ‘otoritas langit’—yakni para pemilik hati dalam dimensi spiritualitas yang orisinil—yang bakal mampu menemukan eksistensi Tuhan.

Inilah nilai-nilai universal yang sejatinya relevan dengan cita kepemimpinan. Dari puasa, seorang pemimpin akan menyadari bahwa tindakan manusia sangat terkait dengan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Akan muncul kesadaran bahwa tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin tidak dimaknai dalam hubungan yang materialistik an sich, tetapi berada dalam ruang lingkup pengabdian diri kepada kekuasaan tunggal Allah Swt. Oleh karena itu, ketaatan seorang pemimpin terhadap Sang Khalik akan menggiringnya pada suatu tindakan dan sikap yang benar-benar berada dalam koridor ilahiah.

Ibadah puasa yang dilakukan dengan benar dan mengharapkan rida Allah Swt. akan memberikan modal bagi seorang pemimpin untuk kuat dan andal dalam menghadapi cobaan dan tantangan kepemimpinan. Sebagai manifestasi dari ibadah puasa, seorang pemimpin akan selalu optimistis dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah, Rasul, dan rakyat yang dipimpinnya.

Adanya rasa tanggung jawab dan perasaan selalu diawasi (omnipresent) yang tertanam dalam diri seorang pemimpin—yang telah berpuasa—menjadi modal paling penting untuk mewujudkan kewibawaan, independensi, dan kehormatan pemimpin. Pendidikan rohani (spiritual exercises) yang ditempuh selama sebulan suntuk sejatinya dapat memberikan kekuatan diri untuk menepis apa yang bukan menjadi haknya, termasuk tindakan-tindakan yang dilarang oleh agama.

Dengan kekuasaannya, seorang pemimpin terkadang menggunakan akal atau rasio, kebebasan, dan kehendak hawa nafsunya tanpa kendali. Namun, dengan fitrah dan kekuatan untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kesadaran tentang kehadiran Tuhan dalam dirinya membuatnya mampu menolak setiap kali berhadapan dengan kemungkaran. Kekuatan inilah yang hendaknya terpatri dalam diri setiap pemimpin sebagai refleksi hasil tarbiyah al-nafs.

Melalui refleksi dan penghayatan ibadah puasa—dengan rasa persaudaraan dan solidaritas sosial yang tinggi—seorang pemimpin diharapkan mampu menjaga kehendak atau kepentingan pribadinya, serta meletakkannya di bawah kepentingan masyarakat. Walhasil, nilai-nilai adiluhung ini sejatinya tercermin dan menjelma pada sosok-sosok manusia fitri (primordial) di hari yang fitri: Min al-‘a’idin wa al-fa’izin. Semoga! (Dr. Ahmad Tholabi Kharlie / StafPengajar Pascasarjana Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here