Minggu, 18 November 2018

Utamakan Budaya Lokal pada Kurikulum PAUD

SERANG, (KB).- Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang menggelar workshop revisi Kurikulum 2013 yang mengedepankan muatan lokal untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), di Gedung Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten, Kamis (1/11/2018).

Ketua PKG Kecamatan Cipocok Jaya, Nur mengatakan, kegiatan tersebut, salah satu upaya PKG Kecamatan Cipocok Jaya, untuk melakukan sosialisasi terkait perubahan Kurikulum 2013, untuk pendidikan anak usia dini, perlu dikembangkan pendidikan berbasis budaya lokal untuk melestarikan budaya lokal yang positif.

“Dalam Kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada implementasi yang mengedepankan budaya lokal. Karena, pendidikan masih menjadi sarana yang paling efektif untuk membentuk karakter, untuk mengedepankan budaya lokal, agar anak-anak tahu dan dapat melestarikan budaya lokal di setiap pembelajaran,” katanya kepada Kabar Banten.

Ia menuturkan, jenis muatan lokal yang akan diberikan oleh sekolah harus sesuai dengan kemampuan dan kondisi sekolah pendidikan anak usia dini tersebut. Selain itu, juga harus didukung oleh sarana dan prasarana serta manajemen sekolah.

“Merevisi K13 merupakan bahan kajian untuk membentuk pemahaman murid terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal sebagai bahan kajian membentuk pemahaman terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada murid, agar mengenal jati diri daerahnya,” ujarnya.

Ia menuturkan, bahan ajaran dalam muatan lokal di K13 untuk PAUD, seperti permainan tradisional, pemaianan tersebut sangat jarang sekali digunakan lagi jadi dengan permainan tradisional tentu akan mengingat dan memainkannya, ada tari tradisional, serta makanan tradisonal dan mengenalkan daerah Kecamatan Cipocok.

“Kami bisa kenalkan sejarah yang ada di Kecamatan Cipocok Jaya ini juga salah satu untuk mengenalkan daerah kepada anak-anak. Ada permainan tradisonal sekarang ini sudah jarang sekali anak-anak memainkan permainan tradisional, tari tradisional ini juga untuk melestarikan dan mengenalkan kepada anak-anak untuk menari, makanan tradisonal juga perlu untuk diberi tahu kepada anak-anak, agar mereka juga tahu makanan khas dari daerahnya,” ucapnya. (DE)*


Sekilas Info

Gelar Seminar, FISIP Untirta Dorong Keamanan Pangan Global

SERANG, (KB).- Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *