Untung Saya Mondok

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Judul dalam tulisan ini saya sederhanakan menjadi “Usamond” biar kerenan dikit dan mudah diucap. Padahal kata Usamond hanya sekedar menyederhanakan judul tulisan, mudah mudahan melekat dalam qolbu terpatri di dalam hati sanubari.

Kata Usamond singkatan dari kalimat “Untung Saya Mondok berawal dari ungkapan alumni anak santri yang pernah belajar di sebuah pondok pesantren.

Pada tahun ajaran baru banyak para orangtua merasa kebingungan sekaligus merasa khawatir mencari tempat dan lembaga pendidikan untuk putra putrinya sebagai belahan jiwanya. Sebagai orangtua tentu saja akan mencari lembaga pendidikan dan sekolah yang layak dan memiliki kualitas dan standard baik lokal, nasional bahkan internasional.

Pilihan itu bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Dengan harapan setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah dan lembaga pendidikan yang terpilih dapat mengamalkan ilmunya juga otomatis memiliki jaringan kuat dalam memberikan link atau pun informasi peluang peluang pekerjaan di perusahaan perusahaan besar.

Akan tetapi di era sekarang atau di zaman pasar bebas dan sebagian menyebutnya zaman milenial persaingan pasar dan bisnis semakin sengit, terlebih setelah terbukanya pasar global sepertinya dunia ini semakin sempit dan tangan tangan rakus serta jiwa jiwa serakah seakan akan dunia itu dapat digenggam setiap saat.

Seandainya iman tidak mampu menjadi kendali dalam jiwa seseorang, maka budaya saling sikut dan saling sikat akan subur, mental serakah dan jiwa rakus akan merajalela, sehingga akan melakukan berbagai macam cara, tidak akan mengindahkan norma norma agama.

Seiring berjalannya waktu, walaupun ilmu teknologi melejit cepat diminati oleh sebagian masyarakat, akan tetapi kesadaran beragama di dalam masyarakat juga mulai tumbuh dan berkembang sangat cepat. Maraknya kajian kajian keagamaan di masjid dan di kantor kantor ini menjadi indikasi yang memberi isyarat kecintaan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman agama semakin subur.

Indikator ini semakin kuat ketika masjid masjid baik di tempat hunian ataupun di perkantoran ramai dipadati oleh jamaah yang menunaikan shalat berjamaah lima waktu. Di masjid masjid tertentu, setiap ba’da shalat khususnya shubuh dan dzuhur sering diadakan kajian keagamaan.

Meningkatnya kecintaan masyarakat dalam kajian dan pengamalan agama berpengaruh juga dalam orientasi pendidikan anak anaknya. Sehingga tidak sedikit putra putri mereka dimasukkan ke pondok pondok pesantren..Subhaanallah….

Latar belakang pendidikan ibu dan bapaknya sedikitpun tidak ada bau baunya pendidikan agama, tetapi giliran anak anaknya tidak sedikit yang konsentrasi dalam spesialisasi menghafal alqur’an. Hal ini tentu saja merupakan indikasi tumbuh dan berkembangnya Islam di bumi Nusantara.

Bagi anak anak, tentu saja tidak sama menyikapi keputusan kedua orangtuanya yang lebih memilih untuk memasukkan buah hati mereka ke pondok pesantren. Ada sebagian anak merasa dibuang oleh ayah dan ibunya karena dimasukkan ke pondok pesantren. Ada yang merasa dan beranggapan bahwa kedua orangtuanya tidak mau mengurusnya sehingga dititipkan di pondok pesantren. Tetapi ada juga yang merasa beruntung dimasukkan ke pondok pesantren. Akan tetapi kesadaran ini timbul ketika sudah beranjak menjadi manusia dewasa.

Sebut saja nama aslinya Muhsin, tetapi kelemahan sebagian lidah masyarakat jawa kurang pas melafalkan huruf “ha” sering sering berubah menjadi huruh ka” sehingga tidak sedikit nama itu berubah. Misalnya nama Muhammad menjadi Mukammad, pak haji berubah menjadi pak kaji, nama Ahmad berubah menjadi Akmad, Alhamdulillah menjadi alkamdulillah.

Demikian juga dengan nama Muhsin lebih sering kedengaran disebut Muksin. Nama Muksin yang diceritakan oleh pak ustadz Dzul Birri yang merasa beruntung karena masuk dan belajar di pondok pesantren. Dengan ungkapan yang sangat sederhana dan tulus benar benar tulus Muksin mengatakan “Untung Saya Mondok”.

Ungkapan itu berawal saat neneknya Muksin meninggal dan tidak ada seorang pun yang membacakan kitab suci Alquran kecuali mereka yang hadir pada malam itu ngobrol ngalor ngidul belaka. Celakanya bincang bincang mereka diselinhi dengan gelak tawa yang tidak terkendali seakan akan mereka sedang berada di lingkunan bukan yang sedsng berduka. Padahal anjuran berta’ziyah diantaranya supaya dapat memaknai suasana dukanya.

“Untung Saya Mondok” ungkapan Muksin ketika duduk menghadap ke arah jenazah nenek tercintanya sambil membacakan ayat ayat suci alquran, lembar demi lembar dibuka dan dibacanya sambil menunggu pak Mudin petugas khusus yang merawat dan mengurus jenazah.

Sejak saat itulah ada beberapa keluarga dan para orangtua mulai mengantar buah hati mereka ke gubuk yang sangat sederhana milik Muksin supaya diajari membaca kitab suci alquran. Begitu mereka ditanya mengapa anak anaknya di bawa ke rumahnya Muksin. Dengan simple mereka menjawab : “Saya pengen di dalam kubur saya ada lampunya yang terang,kata pak kaji Kamid, kubur jadi terang kalau ada yang membaca kitab alqur’an. Makanya tolong ya nak Muksin…ajari anak saya membaca alqur’an supaya kuburan saya terang benderang”. Itulah cerita keluarga kang Makruf yang dikisahkan oleh paj ustadz Dzul Birri. Wallaahu ‘alamu bish Shawaab wa ilaihil musta’aan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here