Senin, 19 Februari 2018

Untuk Tol Serang-Panimbang, Warga Tolak Pembebasan Lahan

SERANG, (KB).- Sejumlah Warga Kampung Tongleng dan Kubang Waru, Desa Silebu, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, mendatangi kantor Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Pemkab Serang, Selasa (24/10/2017). Mereka merasa keberatan dengan harga lahan hasil penilaian Tim Appraisal untuk pembangunan jalan Tol Serang Panimbang.

Warga Desa Silent, Arifin, mengatakan, di daerahnya ada sekitar 40 kepala keluarga yang keberatan dengan harga hasil penilaian Tim Appraisal.  “Dari 40 warga itu, ada yang punya satu bidang, dua bidnag dan lebih. Sebenarnya, kata dia, warga tidak menolak kalau harganya sesuai atau cocok.
“Tapi ini harganya tidak sesuai, terlalu rendah, ada warga yang lahannya sekitar 1042 meter, tapi hanya dihargai Rp 212 juta. Jadi yang disampaikan ke warga harga seluruhnya saja tidak permeternya,” katanya.

Menurut Arifin, warga juga sudah bermusyawarah dan sepakat untuk harga pembebasan lahan yang akan dilalui jalan Tol Serang-Panimbang seharga Rp 600.000 permeter.“Itu pengajuan saja Rp 600 ribu permeter,” kata Arifin sambil menunjukan surat permohonan pengajuan harganya kepada wartawan, kemarin. Warga Kampung Tongleng Desa Silebu Kemis mengatakan, lahannya bahkan dinilai lebih murah. “Lahan saya malah lebih murah, saya punya dua bidang, yang satu bidang luasnya 1.483 meter dihargai Rp161,6 juta itu sama pohon-pohonannya,” katanya.

Sementara, Camat Kragilan Ajun Tono mengaku belum tahu ada warga yang menolak.  “Gak tahu, itu usuran Tim Appraisal, BPN dan PUPR, tapi dulu juga sudah diumumkan kalau ada yang gak setuju silahkan ajukan keberayan ke pengadilan,” tuturnya. Menurut Ajun Tono, seharusnya warga mengadunya ke pengadilan. “Harga lahan itu kan sudah hasil penilaian appraisal, sudah dengan berbagai pertimbangan, Kalau gak setuju ke pengadilan saja,” katanya.  Ia juga mengatakan, bahwa di Kecamatan Kragilan ada tiga desa yang akan dilintasi Tol Serang-Panimbang yaitu Desa Silebu, Cisait dan Suka Jadi.

Groundbreaking Mundur

Sementara itu, rencana groundbreaking Tol Serang-Panimbang pada 28 Oktober 2017 ini kembali mundur. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banten Hudaya Latuconsina mengatakan, groundbreaking pembangunan jalan tol Serang-Panimbang diundur pada November.
Ia menjelaskan, persoalan pembebasan lahan masih menjadi persoalan yang menghambat akselerasi pembangunan jalan tol. “Diundur ke November, tapi tanggal dan tempatnya belum dipastikan,” ujar Hudaya kepada wartawan, seusai menghadiri rapat paripurna di DPRD Banten, kemarin.

Menurutnya, sebenarnya Pemprov Banten sudah siap melakukan groundbreaking tol Serang-Panimbang. “Pemprov inginnya groundbreaking dilakukan di Serang, paling tidak ketika dimulai di sini, itu sudah aman persiapannya. Tapi nanti tergantung persiapan Presiden, apakah harus diundur ke November awal, yang jelas kita sudah siap,” ujarnya. Menurutnya, Gubernur Banten juga telah melapor ke Presiden terkait pembebasan lahan tol Serang-Panimbang yang masih menemui hambatan. “Hari ini (kemarin) Pak Gubernur bersama bupati/walikota se Banten diundang rapat bersama Presiden di Istana Negara. Semoga ada kepastian November tanggal berapa Presiden bisa groundbreaking,” katanya. (YY/RI)***


Sekilas Info

NASIB BANTEN DI TAHUN ANJING TANAH

Dalam tradisi Tionghoa ada satu kepercayaan yang memprediksi kondisi  satu tahun yang akan berjalan, atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *