UN Dinilai Kehilangan Ruh

SERANG, (KB).- Penggerak dan Pengamat Pendidikan Banten Furtasan Ali Yusuf menilai, ujian nasional (UN) telah kehilangan ruh. Hal itu menyusul adanya wacana penggantian UN menjadi Assessmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI).

Ia menilai, UN hanya dijadikan alat untuk menentukan kelulusan saja tidak bisa mengantarkan peserta didik untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

“AKSI lebih terarah, karena melihat dari kompetensi pelajar itu sendiri. Walaupun ini baru wacana dan belum ada kejelasan, saya sangat setuju dengan pergantian UN menjadi AKSI.

UN sendiri hanya menjadi pengukur kemampuan siswa dan menentukan lulus atau tidak. Tidak mampu mengantarkan siswa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN),” kata Furtasan saat dihubungi Kabar Banten, Jumat (15/3/2019).

Menurut dia, AKSI akan mampu menggali kompetensi peserta didik lebih mendalam daripada UN. Dengan AKSI para siswa akan dinilai kemampuan penalarannya secara logis, asumsinya siswa akan mampu memahami wacana yang kompleks.

“Kalau ingin mengganti UN menjadi AKSI tersebut harus berkelanjutan. Jangan sampai setiap pergantian Menteri Pendidikan mengubah kebijakan, bukannya melanjutkan. Pergantian tersebut harus berkelanjutan, setelah ada pergantian harus bisa menghasilkan output dari pergantian tersebut, karena ini menyangkut hajat orang banyak,” ujar pria yang juga menjadi Rektor Universitas Bina Bangsa (Uniba) ini.

Ia mengatakan, penilaian tersebut bisa membuat siswa menentukan arah untuk melanjutkan cita-citanya sesuai minat. Sedangkan kalau ingin masuk perguruan tinggi hanya dilihat dari cita-cita sejak kecil, seperti ingin jadi guru atau dokter tapi tidak disertai dengan kompetensi yang dimilikinya.

“Semua itu harus berproses. Kalau AKSI diterapkan sangat baik untuk siswa kedepannya, karena dari tes tersebut menilai kompetensi siswa,” tuturnya. (DE/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here