Rabu, 16 Januari 2019

Transformasi Caleg

Oleh 

Supadilah

Jika ada yang perlu disyukuri dengan adanya musim pemilihan legislatif (pileg) salah satunya adalah perubahan seorang calon anggota legislatif (caleg). Transformasi seseorang sebelum dan sesudah menjadi caleg begitu kentara. Meskipun baru caleg, belum jadi caleg. Perhatikan saja, mendadak mereka jadi peduli. Turun ke kampung-kampung, aktif pada kegiatan masyarakat, menghadiri jadwal ronda, senang senam, dan lainnya.

Para caleg mendadak ‘alim’. Rajin ke masjid, pengajian, takziah, dan lainnya. Rajin pula mereka sedekah, atau menyumbang ke musola atau masjid. Tampilannya religius, yang laki-laki pakai baju koko dan peci serta sarung yang perempuan pakai jilbab, minimal semakin menutup aurat. Lihat saja tampilan foto mereka yang bertebaran di sosial media yang rapi dan religius dengan peci atau jilbab.

Ini bagus. Semakin mendekat pada melakukan ajaran agama. Setiap pada Perayaan Hari Besar Islam mereka turut meramaikan dengan memasang spanduk, baliho, atau poster serta meme di sosial media. Jika tulus tranformasi mereka seperti itu, sepertinya perlu diadakan pileg tiap tahun bukan hanya lima tahunan. Karena menimbang positifnya tranformasi mereka.

Lihatlah pula mereka semakin peduli dengan masyarakat. Setiap ada musibah atau kemalangan mereka selalu hadir dan terdepan dalam peduli dan memberi bantuan. Tidak jarang mereka turun langsung meskipun jarak jauh, akses sulit, dan kondisi yang berat. Tapi jangan jadikan bencana sebagai komoditas pencitraan, mengambil keuntungan dari kemalangan dan kesulitan orang lain untuk meraih simpati dan meningkatkan popularitas. Datang memberi bantuan dengan maksud tersembunyi.

Menyusuri jalan setapak, rusak, dan memprihatinkan. Datang ke gubuk reyot yang di dalamnya ada orang tua lanjut usia atau anak kekurangan gizi. Ringan tangan mereka membantu pada yang menderita. Hingga akhirnya kejadian itu diekspos jadi komoditas berita. Tapi tidak apa, masih lebih bagus daripada yang tidak peduli sama sekali. Urusan ikhlas atau tidak biarlah menjadi urusan dia dengan Allah. Diantara mereka ada yang tulus dan punya motif tertentu. Ada udang dibalik batu.

Dengan dibantu tim suksesnya, para caleg menjelma menjadi sosok yang nasionalis dengan selalu merayakan dan meramaikan hari-hari nasional. Nyaris tidak ada peringatan yang terlewat mulai dari peringatan Sumpah Pemuda, Kesaktian Pancasila, Hari Pahlawan, Hati Guru, Hari Infanteri, Hari Setia Kawan, dan lainnya. Sampai-sampai mungkin kita baru tahu di hari itu ada peringatannya. Dari mana caleg itu tahu? Mungkin tim suksesnya yang kreatif mencari di internet peringatan-peringatan hari besar itu.

Ini bentuk strategi dan kreativitas demi meraih popularitas dan menaikkan elektabilitas. Sah-sah saja. Dilakukan dengan fair dan jujur. Ambil positifnya, ada sisi edukasi untuk masyarakat dengan informasi yang dihadirkan. Dengan begitu masyarakat jadi tahu, ternyata banyak momen pada hari dan bulan-bulan itu.

Para caleg itu pun tiba-tiba menjadi tokoh yang sibuk. Mengadakan lomba-lomba seperti lomba senam, futsal, memasak, memancing, dan lainnya. Meresmikan banyak acara, mengisi kegiatan kepemudaan, ceramah keagamaan, atau tampil di publik.

Para caleg memoles diri menjadi sosok yang baik. Semacam promosi ‘pilihlah saya, saya pantas, saya terbaik’ yang disampaikan secara terang-terangan atau malu-malu. Setelah itu ditambahi dengan janji-janji jika terpilih mulai dari akan amanah, punya program pengentasan kemiskinan, meningkatkan pendidikan, hingga rela tidak digaji.

Mendadak mereka pun menjelma jadi motivator. Berbagai kalimat motivasi yang dibuat sendiri atau mengambil dari kalimat orang lain meramaikan dunia per-meme-an. Kata-kata puitis, bijaksana, dan motivasi dibuat seunik dan semenarik mungkin supaya orang membeli keyakinan bahwa caleg tersebut berkualitas. Penampilannya terjaga. Pakaian rapi, tingkahnya sopan, dan tuturnya terjaga. Benar-benar (dibuat) pantas untuk menjadi wakil rakyat.

Jika dicermati motif pencalegan mereka cukup beragam, keinginan pribadi, keluarga, dan tuntutan partai. Ya, tidak jarang pencalonan mereka karena tugas partai. Untuk memenuhi kuota yang diharuskan. Tentu seseorang bisa mengukur diri, berapa suara yang mungkin bisa didapat. Kemudian dia bisa pula mengira akan terpilih atau tidak. Namun karena amanah dari partai, mau tidak mau dia mencalon. Bahkan rela ditempatkan di daerah pemilihan (dapil) bukan tempat domisili pula. Tidak lain karena tugas itu tadi.

Terutama caleg perempuan. Berdasarkan peraturan KPU Nomor 7 Tahun 2013 tentang Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota, harus tersedia penempatan 30 persen perempuan di setiap calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Hal ini memaksa partai menyediakan keterwakilan perempuan dalam setiap dapil. Jika tidak maka caleg dalam dapil tersebut bisa dicoret.

Pemilu 2019 yang menggunakan sistem Saint League Murni memungkinkan siapa saja bisa terpilih. Tidak harus dia yang berada di nomor teratas. Caleg ‘nomor sepatu’ pun bisa terpilih asal jumlah suara terpenuhi. Dengan ini para caleg pun berlomba-lomba dekat dengan rakyat agar terpilih di pileg mendatang.

Tulisan ini bukan bermaksud mencibir pada tranformasi caleg tersebut. Sekadar mengingatkan supaya kelak ketika sudah terpilih tidak jadi kacang yang lupa kulitnya. Sebab pil KB dan pilkada (juga pileg) beda sedikit. Pil KB kalau lupa, jadi. Pilkada (dan pileg) kalau jadi, lupa. (Penulis adalah pemerhati sosial politik)*


Sekilas Info

Dukung Polri Ungkap Peneror Pimpinan KPK

Oleh : Akbar Revi Serangkaian aksi teror yang menyasar pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *