Senin, 19 Februari 2018

Tradisi Rebokasan

Rebokasan (Sunda), atau Rebo Wekasan (Jawa), secara bahasa, adalah hari Rabu pamungkas atau terakhir. Dan yang dimaksud adalah dari bulan Shafar. Yaitu bulan kedua dalam kalender Islam. Karena tidak setiap Rabu terakhir disebut Rebokasan.

Rebokasan menjadi fenomenal di masyarakat karena diyakini sebagai hari turunnya bala dari langit. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 320 ribu bala.  Bayangkan sebegitu rincinya, bombastis dan memberikan efek shock therapy yang mendorong alam bawah sadar mengerjakan apa yang diperintahkan setelahnya.

Bahkan, kalau tolak bala-nya berupa perintah mengeshare informasi ini maka akan dilakukan tanpa banyak pikir. Tak banyak orang yang mengetahui dari mana sumbernya. Karena memang tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits atau bahkan kitab-kitab fiqih madzhab mana pun.

Kitab tertua yang memuat riwayatnya adalah kitab al-Mujarrabaat karangan Imam Al-Dairobi, seorang ulama yang shalih di Mekah abad ke 12 Hijrah. Ia menisbatkan riwayatnya kepada pengalaman spiritualnya di alam kasyaf. Yakni, dengan kata lain “langsung dari Allah.” Dalam al-Mujarrajabat juga dijelaskan ritual-ritual khusus untuk menolak bala tersebut, salah satunya adalah sholat tolak bala.

Selain al-Mujarrabat, informasi tentang bala yang turun pada hari Rabu terakhir bulan Shafar ditemukan pula dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Quds, seorang ulama yang sholih, ahli hadits dan tasawuf di Mekkah abad ke 14 Hijrah. Di dalamnya pun dijelaskan ritual-ritual tertentu untuk menolak bala meski terdapat sedikit perbedaan dengan yang terdapat dalam al-Mujarrabat.

Informasi tentang turunnya bala yang didapatkan melalui kasyaf sulit untuk diterima, apalagi dijadikan dalil. Terlebih kitab al-Mujarrabat atau Kanzun Najah sampai kepada kita tanpa sanad dan jalur yang jelas. Meski tidak dapat dipungkiri pada abad 14 Hijrah itu banyak ulama asal Nusantara yang belajar kepada Syaikh Abdul Hamid Qudsi.

Banyak para kiai di beberapa daerah yang mengajarkan ritual-ritual itu kepada masyarakat tanpa menelitinya terlebih dahulu. Yang mereka gunakan adalah pendekatan tasawuf yang selalu husnuzhan apalagi terhadap ulama sekelas Imam al-Dairabi. Padahal, tentunya, informasi yang dapat dijadikan sumber hukum tidak cukup dengan husnuzhan.

Para kiai tradisonal yang teliti tidak menerima dua kitab itu selama bertentangan dengan fiqih. Biasanya kiai yang mempunyai sanad keilmuan kepada Syaikh Nawawi Banten. Dengan kacamata fiqih ini, mereka menolak ritual sholat sunat lidaf’il bala (tolak bala), karena tidak ada landasan dalilnya. Tetapi mereka menerima informasi tentang turunnya bala pada hari Rebokasan. Yang mereka tolak hanya ritual-ritualnya. Karena informasi turunnya bala tidak bertentangan dengan fiqih yang ada.

Oleh karenanya, mereka membuat ritual tolak bala yang tidak bertentangan dengan syari’ah atau minimal ditemukan dalilnya dalam kitab fiqih yang mu’tabar (valid). Misalnya dengan Qunut Nazilah. Sebagian kiai ada yang menemukan solusi bahwa shalat lidaf’il bala (tolak bala) yang disebutkan dalam al-Mujarrabat dan Kanzun Najah boleh dilakukan, tapi dengan niat shalat sunat muthlaq.

Beberapa pesantren tradisional di Jawa Barat banyak yang menulis wafaq tolak bala pada hari Rebokasan. Wafaq itu sendiri akhirnya kemudian dinamakan dengan Rebokasan. Hingga ada istilah menulis Rebokasan, maksudnya menulis wafaq untuk tolak bala pada hari Rebokasan. Bahkan hal ini diintruksikan oleh para kiainya, karena ada landasannya dalam kitab fiqih, yaitu Nihayatuzzain karangan Syaikh Nawawi Banten.

Padahal sebenarnya, Syaikh Nawawi tidak demikian. Informasi tentang turun bala pada hari Rabu terakhir dari bulan shafar dan tolak bala dengan menulis wafaq itu dimasukkan oleh mushahhih sebagai catatan pinggir atas penjelasan Syaikh Nawai tentang Qunut Nazilah yang dicetak dalam Kitab Nihayatuzzain terbitan tertentu. Mereka menduga keterangan itu ditulis oleh Syaikh Nawawi.

Yang jelas, bala dan nikmat itu turun silih berganti dalam jumlah yang tidak diketahui setiap hari dan setiap bulan, juga setia tahun. Tidak harus menentukan hari tertentu dalam bulan tertentu untuk menunjukkan turunnya bala atau datangnnya nikmat. Tingkatkan kwalitas ibadah, perbanyak zikir, murojaah, membaca Alquran, dan sedekah. Wallaahu A’lam. (Deden Muhammad Makhyaruddin/Inisiator Indonesia Muroja’ah)


Sekilas Info

MENGHEMBUSKAN NAFAS SEGAR DALAM POLITIK

Banyak orang bilang politik itu kotor, penuh rekayasa, identik dengan kebohongan dan kemunafikan. seolah bohong-membohongi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *