Tradisi Nyalawean, Ratusan Waga ”Terjun” ke Pantai

Musim ikan kecil (impun) kembali tiba. Serbuan jutaan ikan itu merupakan sebuah anugerah bagi warga yang berada di sepanjang selatan Kabupaten Lebak. Bagaimana tidak, musim impun naik ke pantai setiap tanggal 25 atau yang biasa dikenal dengan sebutan nyalawean dari Muharam sampai Julhijah itu, selalu mampu menghipnotis ribuan warga pesisir pantai wilayah tersebut dan rela terjun ke laut. Bahkan, selain warga setempat, para wisatawan pun berbaur ikut berburu ikan-ikan kecil itu.

Tradisi “Ngala Impun” demikian warga di sini menyebutnya, sebuah tradisi panen ikan kecil yang hanya ada pada setiap tanggal 25 (salawean) yang biasanya berlangsung selama lima hari. Tentu saja, habitat ikan kecil yang diyakini berasal dari sungai dan berkembang biak di muara ini, dinilai menjadi primadona unggulan ekonomi dan perbaikan pangan bagi masyarakat. Wajar jika setiap tanggal 24 bulan Muharam hingga Julhijah warga di sepanjang mengais rezeki dan menikmati pesta impun. Mereka rela meninggalkan pekerjaan ataupun profesinya untuk bersuka cita menangkap impun.

Salah seorang Tokoh masyarakat (Tokmas), Bayah, AM Erwin KS, rela terjun ke pantai “Ngala Impun” bersama ribuan warga lainnya. Menurut Erwin, selain impun dapat dinikmati untuk perbaikan gizi keluarga juga dapat dijual kepada para wisatawan ataupun warga lainnya. “Biasanya sehari dapat sepuluh sampai lima belas cangkir bahkan bisa mencapai kuintalan. Kalau Aa (panggilan akrab Erwin) gak banyak turun juga sambil hiburannya aja bersama warga dan hasilnya dimakan saja,” ujar mantan anggota DPRD Lebak dari Fraksi Demokrat tersebut.

Menurut Erwin, biasanya untuk satu gelas impun dijual dengan Rp 12.500. Sedangkan jika dijual per liternya Rp 50.000 sampai Rp 60.000 harganya. Erwin yang saat ini aktif di Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) mengaku tak malu ikut menjaring impun. Sebab, panen impun bagi warga pantai wilayah selatan sebagai sebuah tradisi oleh semua golongan tanpa memandang profesi.

Warga biasanya dari tanggal 24 sudah siap di muara menunggu impun dari tengah laut menuju muara bahkan terkadang dari siang sampai subuh menunggu di muara sungai. ”Tidak setiap muara sungai ada impun. Berkah musim impun juga berimbas kepada para nelayan, ikan- ikan besar dari tengah mendatangi bibir pantai. Sebab, impun jadi santapan ikan besar sehingga nelayan jaring dengan mudah mendapatkan ikan,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Susi. Ia rela terjun ke laut bersama ratusan tetangga lainnya untuk menikmati berkah menjelang bulan Ramadan. Libur sekolah yang bersamaan dengan panen impun, lanjut Susi, juga membuat ribuan anak-anak rela basah kuyup ikut serta menjaring impun. Mereka mengaku senang dapat mengais rezeki dan membantu orangtua mereka. “Senang aja, kan lagi libur sekolah. Di sini banyak orang, nanti kalau udah masuk sekolah nggak bisa ke sini,” kata Adi, seorang pelajar SMP di Kecamatan Bayah yang ikut bersama rombongan keluarganya. (Dini Hidayat)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here