Minggu, 19 Agustus 2018

Tradisi Gurah Danau Diyakini Jadi Daya Tarik Wisata

Warga Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka berbondong-bondong berangkat ke aliran Sungai Cidanau untuk melakukan tradisi gurah danau di bantaran sungai tersebut pada Ahad (15/7/2018). Gurah danau merupakan agenda rutin tahunan, di mana dalam tradisi tersebut, warga sekitar tiga kecamatan, yakni Cinangka, Padarincang, dan sebagian Mancak menangkap ikan bersama-sama di aliran Sungai Cidanau yang sudah surut.

Kepala Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Ojat Darojat mengatakan, tradisi gurah danau tersebut sudah berjalan secara turun-temurun. Ia tidak tahu kapan tradisi tersebut dimulai. “Ini warisan turun-temurun, orangtua juga enggak tahu kapan dimulainya. Sudah ada dari dulu soalnya,” katanya kepada Kabar Banten, Rabu (18/7/2018).

Ia menjelaskan, gurah danau merupakan kegiatan menangkap ikan yang dilakukan setelah panen raya para petani. Biasanya saat musim kemarau. Rutinitas tersebut dijadikannya sebagai ajang silaturahim para petani setelah sibuk bercocok tanam. “Biasanya pas sungai dalam keadaan surut. Selama ini belum pernah ada orang gurah danau meninggal juga, jadi aman,” ujarnya.

Pada Ahad (15/7/2018) lalu, warga sekitar sudah melakukan kegiatan gurah danau. Hanya saja kali ini masih dalam skala lokal. Sehingga, peserta dan hasil tangkapannya masih sedikit. “Baru lokalan kemarin mah tangkap ikannya. Kalau ikannya itu sepat, gabus sama tawes yang banyak,” ucapnya.

Rencananya, tradisi tersebut pada Ahad (5/8/2018) nanti akan dimasukkan dalam agenda Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF). Ia senang, sebab ini adalah kali pertama kegiatan tersebut masuk dalam agenda. “Jadi, nanti ketika AKCF akan dibuka lagi (digurah lagi). Baru pertama kali menjadi agenda AKCF. Mudah-mudahan bisa masuk agenda rutin,” tuturnya.

Ia menuturkan, gurah danau tersebut memang bisa dilakukan 2-3 kali dalam setahun. Apabila hasil tangkapannya sedikit, justru bisa dilakukan beberapa kali. Namun, harus dalam bulan yang sama. “Kalau kemarin kurang, karena pesertanya sedikit. Harapanya Ahad (5/8/2018) nanti bisa lebih banyak tangkapannya dan yang ikut juga bisa banyak. Kalau kemarin mah baru dari tiga kampung saja, tapi nanti pas AKCF bisa melibatkan tiga kecamatan, yaitu Cinangka, Padarincang, dan sebagian Mancak,” katanya.

Ia mengatakan, alat yang digunakan warga untuk menangkap ikan tersebut hanya diperkenankan alat tradisional, seperti jala, sair, dan ada juga tadah atau alat yang terbuat dari bambu, kemudian dipakaikan jaring. “Ia yakin dengan masuk dalam agenda AKCF, maka akan dapat menarik wisatawan. Di Kabupaten Serang itu ada dua tradisi berbasis air, kalau di Serang Timur ada Bedol Bendungan Pamarayan dan di Barat ada gurah danau,” ujarnya.

Warga Cikolelet, Mahdi mengatakan saat pelaksanaan, Ahad (15/7/2018) warga setempat berkumpul di Sungai Cidanau untuk melakukan gurah danau bersama-sama. Kegiatan tersebut cukup meriah, sebab diadakannya setahun sekali saat air sungai surut. “Pada musim panas biasanya. Kegiatan ini merupakan pesta rakyat, sekitar seribu warga mengikuti acara kemarin,” ucapnya.

Ia menuturkan, pelaksanaan kegiatan tersebut uniknya tidak menggunakan kepanitiaan. Namun, hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut, bahwa akan dilakukan gurah danau. “Info yang beredar pada bulan depan akan dilakukan kembali panitia oleh kepala Desa Cikolelet dan akan dihadiri oleh bupati Serang,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*


Sekilas Info

Situs Patapaan dilirik Jadi Tempat Selfi

Situs Patapaan yang berada di Desa Sukanagara, Kecamatan Kibin mulai banyak di datangi pengunjung. Hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *