Senin, 18 Juni 2018

Tradisi dan Sebutan Mudik di Dunia 

Mudik telah tiba. Para perantau yang telah lama meninggalkan kampung halamannya pun, sudah memenuhi jalur transportasi darat, laut,  maupun udara. Ini lah momen paling ditunggu masyarakat Indonesia kala Lebaran tiba. Berdasarkan data realisasi pemudik dari Posko Angkutan Lebaran Nasional Terpadu, jumlah pemudik terus meningkat dari tahun ke tahun. Mulai tahun 2012, terdapat sebanyak 22,06 juta orang pemudik, tahun 2013 meningkat menjadi 22, 14 juta orang pemudik, tahun 2014 meningkat menjadi 23, 08 juta orang.

Pada tahun 2015, meningkat menjadi 23,39 juta orang pemudik, tahun 2016 meningkat menjadi 26,36 juta orang pemudik, dan tahun 2017 disebut mencapai sekitar 28 juta orang pemudik.

Konon katanya, tradisi mudik ini telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit, dari tradisi para petani Jawa yang dulu merantau dan akan pulang ke kampung halamannya untuk membersihkan makan leluhur. Hal tersebut dilakukan untuk mememinta keselamatan dan mencari rezeki.

Akan tetapi istilah mudik baru dikenal setelah tahun 70-an. Saat itu, Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Jakarta adalah tempat mengubah nasib untuk mencari kerja.

Jelang Idul Fitri, para pekerja yang merantai di Jakarta pun mendapatkan libur panjang untuk bisa pulang kampung. Dari sinilah,  akhirnya berkembang dan dikenal banyak orang.

Dilansir dari Wikipedia, mudik merupakan kegiatan perantau atau pekerja migran yang kembali ke kampung halamannya. Namun, mudik berasal dari bahasa Jawa yang merupakan singkatan dari “mulih dilik” atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pulang sebentar.

Balek kampung

Namun kebiasaan mudik, ternyata terjadi juga di beberapa negara. Namun mudik di beberapa negara di dunia, tentunya dengan tradisi dan sebutan yang berbeda. Salah satunya adalah negeri jiran Malaysia. Indonesia dan Malaysia memiliki kemiripan saat melakukan mudik lebaran. Di Malaysia, istilah mudik  dikenal dengan sebutan ‘balek kampung’ yang biasanya dilakukan satu minggu sebelum Idulfitri. Mereka menyebutnya dengan ‘Hari Raya Puasa’.

Negara lainnya adalah Mesir. Akan tetapi, Mesir memiliki cara yang berbeda saat melakukan mudik pada Hari Raya Idulfitri dengan negara-negara muslim pada umumnya. Masyarakat di sana menganggap Hari Raya Idulfitri sebagai ‘Hari Raya Kecil’ dan memanfaatkan waktu libur mereka untuk berkumpul dan menikmati pinggiran Sungai Nil. Justru puncak arus mudik terjadi saat Hari Raya Iduladha, karena mereka menganggap Hari Raya Qurban lebih besar daripada Hari Raya Idulfitri.

Seker bayram

Selanjutnya adalah Turki, yang  juga merupakan negara dengan jumlah penduduk mayoritas Islam. Kebiasaan masyarakat di Turki sama dengan Indonesia. Mereka yang tinggal di perantauan akan pulang ke kampung halamannya untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga, dan berziarah menjelang Hari Raya Idulfitri.

Namun, ziarah di Turki dilakukan secara besar-besaran dan ditandai dengan munculnya pasar bunga di beberapa daerah di negara tersebut. Masyarakat Turki mengenal Hari Raya Idulfitri dengan sebutan ‘Seker Bayram’ atau Festival Gula. Sebutan tersebut muncul mungkin karena masyarakat di sana saling mengantarkan manisan saat Hari Raya Idulfitri.

Namun, ziarah di Turki dilakukan secara besar-besaran dan ditandai dengan munculnya pasar bunga di beberapa daerah di negara tersebut. Masyarakat Turki mengenal Hari Raya Idulfitri dengan sebutan ‘Seker Bayram’ atau Festival Gula. Sebutan tersebut muncul mungkin karena masyarakat di sana saling mengantarkan manisan saat Hari Raya Idulfitri.

Diwali

Berikutnya adalah India. Meski minoritas, namun muslim di India terbilang cukup banyak. Justru fenomena mudik lebaran di India lebih ‘heboh’ daripada di Indonesia. Menjelang Idulfitri, masyarakat India berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya.

Transportasi mudik seperti kereta api menjadi yang paling unik di sana. Sebab, kereta api akan penuh sesak menjelang lebaran, bahkan banyak orang-orang di sana yang bergelantungan di pintu, jendela, bahkan ada yang di atap kereta. Namun begitu, puncak arus mudik di India bukan terjadi saat perayaan Hari Raya Idulfitri, melainkan saat perayaan Festival of Lights atau Diwali.

Mudik imlek

Terakhir adalah Cina. Hanya sekitar 2 persen penduduk China yang memeluk agama Islam. Kota Xinjiang dan Yunnan memiliki jumlah muslim yang lebih banyak ketimbang kota lainnya. Tentu saja, masyarakat China mengenal mudik menjelang lebaran.

Namun, hari libur pada hari besar umat muslim di China tidak sepanjang di Indonesia. Justru mudik menjelang Imlek lebih meriah daripada Idulfitri di negara China. Kemungkinan karena mayoritas masyarakat di China memeluk agama Konghucu, Tao, dan Buddha. (Yadi Jayasantika)*


Sekilas Info

“Mengapa Bertakbir”

Gemuruh alunan takbir merambah ke setiap peloksok dan setiap jengkal bumi Allah, di pasar pasar, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *