Kamis, 15 November 2018
Breaking News

TOLERANSI DALAM BERMASYARAKAT

Islam adalah agama yang santun, bisa juga diartikan tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt. Dalam rangka untuk mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia dan di akhirat. Hal ini dilakukan dengan penuh kesadaran (bukan karena paksaan), karena pada dasarnya sejak dalam alam ruh semua manusia telah mengikrarkan ketaatanya kepada Tuhan.

Secara sunatullah Islam memiliki pemeluk yang beraneka ragam watak dan karakter, semua berdasar atas pemahaman terhadap teks- teks agama dan situasi obyektif yang menyelimutinya. Dari sinilah muncul istilah pemahaman radikal, moderat dan liberal. Satu hal yang menarik adalah sifat keberagamaan umat Islam yang semuanya berpatokan pada pemahaman syariat Islam, akan tetapi pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari yang kadang saling bertolak belakang, bahkan terkadang bisa saling bermusuhan.

Syariat Islam sesungguhnya memiliki tujuan mengatur dan menyelaraskan kehidupan antar sesama umat Islam dan juga umat pemeluk agama lain. Perbedaan dalam memahami teks syariat adalah sunatullah dan mestinya dijadikan sebagai “rahmat” antar sesama. Naman sangat disayangkan, karena realitanya justru karena kedangkalan dalam berfikir dan kefanatikan terhadap pemahaman- pemahaman syariat menjadikan saling berbenturan satu dan yang lain. Tentu kedaan seperti ini sangat bertentangan dengan tujuan utama.

Banyak kalangan yang berbeda dalam memahami ajaran Islam. Semuanya merasa benar dengan pemahaman yang diusung. Sikap saling menyalahkan bukanlah sikap yang bijak, karena belum tentu apa yang dianggap benar menurut satu kelompok benar juga menurut kelompok lain. Eksluivitas kelompok, pemahaman atas tekstual ayat Al-Qur’an tanpa melihat sisi asbabunnuzulnya adalah merupakan salah satu penyebab timbulnya aliran pemahaman keagamaan yang kurang toleran.

Sementara itu disisi lain, ada kelompok yang moderat/ tawassuth dan inklusiv. Kelompok ini yang sering dipuji karena memiliki sikap toleransi dalam menyikapi problemantika umat. Selain dua kelompok diatas, bahkan ada kelompok yang merekonstruksi ulang cara menafsirkan Al Qur’an dengan serampangan dan tanpa kontrol. Sehingga dari sini perlu ditegaskan kembali bahwa Islam adalah agama yang dalam berbagai penekanannya secara literal dalam Al Qur’an mempunyai arti damai, tunduk,
patuh dan penyerahan diri secara total kepada Allah.

Dengan demikian siapapun yang mampu menghayati makna tersebut akan memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah seorang hamba yang memiliki tugas pengabdian pada Tuhannya. Dengan kesadaran inilah, pesan-pesan kebajikan nilai ajaran Islam bisa terlaksana, sehingga eksistensi ajaran Islam rahmatan lil alamin/ rahmat untuk semua alam akan segera terwujud. Karena menjadi seorang muslim adalah anugrah, muslim akan selalu melakukan kebaikan kapanpun dan dimanapun.

Secara umum ajaran Islam bercirikan moderat/ wasath, dalam akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Ciri ini disebut dalam Al Qur’an sebagai ashiratath al mustaqiim (jalan lurus/ jalan kebenaran), yang berbeda dengan jalan mereka yang dimurkai ( almaghdhub alaihim) dan yang sesat (adhallin) karena banyak melakukan penyimpangan.

Kelompok al maghdhub alaihim dipahami sebagai kelompok Yahudi, seperti dalam penjelasan Rasullullah saw. Itu karena mereka telah menyimpang dari jalan lurus dengan membunuh para Nabi dan berlebihan dalam mengharamkan segala sesuatu. Sedangkan adhdhallin dipahami sebagai kelompok Nasrani, dikarenakan mereka berlebihan sampai mempertuhankan Nabi. Adapun umat Islam berada diantara dua sikap berlebihan tersebut, sehingga dalam Al Qur’an diberi sifat “ummatan washatan” QS. Al Baqarah 143: Artinya “Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Al Qur’an menyebut umat Islam sebagai umat terbaik yang akan menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan. Kebaikan yang dimaksud sebab diantaranya adalah karena sifat moderat yang dimilikinya (ummatan wasathan) yang menuntut adanya keadilan dan kebaikan. Hal ini yang sekarang dibutuhkan masyarakat dunia sekarang ini, namun untuk mewujudkannya tidaklah mudah, dan harus kita mulai dari diri sendiri.

Sebuah perubahan masyarakat akan terwujud jika dimulai dari upaya memperbaiki diri sendiri, maka dari itu mari kita memulai dengan menerapkan sifat wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam individu ataupun bermasyarakat. Semoga dengan begitu wajah Islam yang damai, moderat dan toleran akan mendatangkan rahmat dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Wallahu ‘Alam Bisshawab (Kholid Ma’mun/Pengajar di Ponpes Daar El Istiqomah Kota Serang, Pengurus Fspp Kota Serang dan MUI Prov.Banten)


Sekilas Info

Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Modern

Oleh Drs KH Sulaiman Effendi, M.Pd.I Pimpinan Ponpes Manahijussadat, Cibadak Lebak Banten Pondok pesantren adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *