Tolak Batching Plan, Warga Cikeusal Unjuk Rasa

SERANG, (KB).- Ratusan warga Kecamatan Cikeusal melakukan aksi unjuk rasa di depan proyek pembangunan Batching Plan di Kampung Seba, Desa Cikeusal Kecamatan Cikeusal, Kamis (16/5/2019). Aksi tersebut dilakukan untuk menolak keberadaan proyek tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan polusi, kekeringan dan kebisingan.

Masa aksi mulai bergerak sejak pukul 13.00 WIB dengan melakukan ‘longmarch’ dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB dengan atribut lengkap bertuliskan tuntutan. Dengan mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian, mereka secara bergantian berorasi.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Apipudin mengatakan, proyek tersebut sebenarnya adalah pemindahan dari Kecamatan Petir pada Desember lalu. Dimana proyek tersebut sempat ditolak di Petir. “Sudah ada 5 bulan jalannya ini,” ujarnya kepada Kabar Banten.

Apip mengatakan, aksi tersebut dipicu karena kekhawatiran masyarakat akan adanya dampak negatif proyek tersebut. Sebab jika proyek itu berjalan diyakini akan ada kebisingan, polusi udara dan kemudian ramainya kendaraan besar yang lalu lalang. “Apalagi jalan di Cikeusal sempit, kedua seringkali ketika bawa coran dan suka berceceran di jalan dan jadi polusi,” ucapnya.

Terlebih kata dia, proyek tersebut berada dekat dengan pemukiman atau hanya berjarak sekitar 25 meter. Selain itu, pihaknya juga khawatir dengan banyaknya kendaraan besar dan jalan Cikeusal yang hanya berukuran 4-5 meter, maka akan menyebabkan kemacetan luar biasa. “Matrial kan diangkut sama kendaraan besar. Terus air pun kekurangan nantinya kalau disedot (perusahaan),” ucapnya.

Pihaknya menduga jika perusahaan tersebut belum mengantongi izin lengkap. Dengan demikian perda nomor 10 tahun 2011 telah diabaikan. “Ini luar biasa tidak mengindahkan atau taat terhadap hukum yang berlaku,” katanya.

Disinggung soal sosialisasi, Apip mengatakan, pada saat awal berdiri belum pernah ada sosialisasi. Oleh karena itu pihaknya meminta agar Batching Plan tersebut ditutup sementara. “Tadi kami hanya menyampaikan aspirasi. Kemungkinan ada aksi lagi, nanti ke bupati dan gubernur. Karena kita sudah layangkan surat dari 8 Maret ke bupati, gubernur dan Kapolda tapi belum ada respon,” tuturnya.

Sementara, Camat Cikeusal Iman Saiman membantah jika masyarakat Seba Desa Cikeusal atau tempat berdirinya Batching Plan melakukan penolakan. Sebab selama ini masyarakat sekitar sudah bermusyawarah dan menyetujui. Sedangkan perkara izin, saat ini masih berjalan di Pemda. “Jadi yang aksi kebanyakan bukan warga Cikeusal. Maka kita hanya memantau aksi tersebut jangan sampai anarkis,” ujarnya.

Disinggung soal kekhawatiran warga, Iman menjelaskan, sebelumnya masalah tersebut sudah pernah disosialisasikan. “Tingkat kebisingan rendah, polusi rendah karena sudah memperhitungkan jarak dengan warga setempat. Sudah berdasarkan SOP batching plan. Yang disampaikan kepada muspika, kades dan masyarakat,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here