Tokoh Geruyukan

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Oleh : Prof. Dr. H. Fauzul Iman, M.A

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (as-Saff : 4)

Ayat ini didikler Tuhan sebagai reaksi kreatif terhadap kondisi masyarakat (terutama para tokohnya) yang pasif, malas partisipasi, penakut, banyak bicara, panik, brutal, tidak kompák, gemar berkerumun tetapi miskin strategi dalam berjuang.

Lewat ayat ini Tuhan hendak meluruskan kondisi umat yang timpang itu agar menyusun strategi barisan yang kokoh dengan para tokohnya yang kredibel, berintegritas dan berkekuatan SDM Tinggi.

Sering kali terdengar ajakan dari para penyeru agar perlunya menyusun sebuah barisan perjuangan. Ajakan ini penting jika dikaitkan dengan makna berjuang dalam konotasi bahasa Tuhan di atas.

Berjuang dalam konotasi dan kontek ayat Tuhan adalah perang yang bukan tujuan pokok. Tetapi perang merangcang etika peradaban dunia yang tinggi. Perang yang tidak boleh terjdi kecuali karena terdapat pihak yang akan membantai peradaban kemanusiaan.

Dalam firman itu, Tuhan dengan keras menegur umat manusia yang gemar berkerumun, yang penakut, yang peragu, yang enggan berpartisipasi, yang menjadi provoktor, yang cinta harta rampsan, yang bercerai berai (tidak kompak) dan yang berutal saat perang diizinkan Tuhan.

Teguran keras ini sengaja dilontarkan karena Tuhan tidak ingin perang dimaknai oleh umat sebagai misi yang terpisahkan dari perjuangan hidup membangun peradaban dan hak-hak kemanusiaan universal.

Perjuangan hidup itu sendiri sesungguhnya adalah perang. Dalam arti perang meraih sukses dan prestasi yang gemilang. Ini berarti hidup mencapai prestasi dibutuhkan perjuangan yang gigih. Pengaturan dan bidikan Waktu yang terukur. Organisasi yang kokoh serta manajemen dan strategi yang terjalin dengan kuat.

Kenyataan yang terjadi di abad modern ini, sebagian manusia dan para tokohnya sering kali ingin menempuh hidup sukses dengan cara-cara yang instan sehingga menafikkan upaya dan proses manajemen organisasi kehidupan.

Hampir semua organisasi dan para tokohnya yang didirikan di setiap lini umat terjebak pada hingar-bingarnya aktivitas dari pertemuan ke pertemuan. Bahkan pertemuan itu ditengarai lebih banyak menampilkan geruyukan/kerumunan daripada aksi konkret yang dirasakan umat. Lebih parah lagi kerumunan itu didera perbincangan dan diskusi-diskusi forum yang absurd.

Bahkan akhir-akhir ini pertemuan seolah hanya didesain oleh dominasi elite politik untuk mereguk dividen (bagi-bagi) kue kekuasaan jangka sekejap dan sepele. Geruyukan/kerumunan pun pada ujungnya mendiktikan dirinya atas pikiran pembenaran elite kelompok dan menganulir kebenaran kelompok lain.

Sampai hari ini umat benar-benar tidak mempunyai suatu barisan yang kuat dan kokoh. Akibatnya organisasi umat tidak mempunyai tokoh yang diandalkan kecuali tokoh geruyukan/kerumunan yang sangat sulit dipasarkan apalagi dieksploitasi menjadi pemimpin yang diakui semua umat dan bangsa.

Oleh karena itu, dalam membangun peradaban kemanusiaan marilah kita bersama-sama menghalau gaya geruyukan/kerumunan yang sudah mengkronis ini dengan membuat suatu barisan yang kokoh. Yaitu barisan yang dikelola dengan tokoh manajemen dan strategi yang rapi, tidak korup dan cepat goyah.

Barisan yang tentunya didesain melahirkan orang-orang yang cerdas, tahan uji, kredibel dan layak dijual karena mampu mendistribusi gagasan solutif yang dirasakan langsung oleh umat. Inilah sesungguhnya misi yang dimaksud dari deklarasi ayat di atas. Wallahua’lam. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here