Tingkatkan Peran Serta Mitra, BKKBN Banten Gelar Integrasi Penguatan Promosi dan Konseling KBKR

Kepala Bidang (Kabid) Keluarga Berencana dan Kesehataran Reproduksi pada Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, dr. Nurizky Permana Jati, saat memberikan sambutan pada kegiatan 'Integrasi Penguatan Promosi dan Konseling Kesehatan dan Hak-hak Reproduksi', di salah satu hotel di Kota Tangerang Selatan, Rabu (11/9/2019).*

TANGERANG, (KB).- Dalam rangka meningkatkan promosi dan konseling Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) kepada masyarakat, Perwakilan BKKBN Provinsi Banten menyelenggarakan kegiatan ‘Integrasi Penguatan Promosi dan Konseling Kesehatan dan Hak-hak Reproduksi’ dengan tema “Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi”, di salah satu hotel di Kota Tangerang Selatan, Rabu (11/9/2019).

Menghadirkan pembicara dari RSUD dr. Sitanala Tangerang, dr. Rathi Manjar Fauziah, Spog, sebagai narasumber, kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang (Kabid) Keluarga Berencana dan Kesehataran Reproduksi pada Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, dr. Nurizky Permana Jati, dan diikuti oleh jajaran pegawai BKKBN Provinsi Banten, perwakilan OPD KB kabupaten/kota di Provinsi Banten, Mitra Kerja, Instansi dan Forum Organisasi Provinsi Banten dan Kelompok Kegiatan se-Tangerang Raya sebagai peserta.

Kepala Bidang (Kabid) Keluarga Berencana dan Kesehataran Reproduksi pada Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, dr. Nurizky Permana Jati dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta Mitra Kerja dalam Promosi dan Konseling Kesehatan dan Hak-Hak Reproduksi, meningkatkan peran kader dalam promosi dan konseling kesehatan reproduksi di kelompok kegiatan. Serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Selain itu, dalam rangka peringatan Hari Kontrasepsi se-dunia (26 September) tingkat Provinsi Banten tahun 2019, ujar pria yang akrab disapa dr. Kiki ini.

Ia mengatakan, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi maka perlu dilakukan promosi dan konseling kesehatan reproduksi di segala sektor agar hal tersebut dapat terwujud dan berlangsung secara terus menerus.

“Diharapkan mitra kerja dan Pengelola Kesehatan Reproduksi dapat mengoptimalkan Promosi dan Konseling Kesehatan dan Hak-Hak Reproduksi kepada masyarakat,” ujar dr. Kiki.

Sementara, dr. Rathi Manjar Fauziah menyampaikan bahwa kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, serta bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta prosesnya.

“Kesehatan Reproduksi,  pemeliharaan kesehatan reproduksi dirumuskan sebagai suatu kumpulan metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi,” ujarnya.

Ia mengatakan, hak-hak reproduksi mencakup hak-hak asasi manusia tertentu yang sudah diakui dalam hukum-hukum nasional. Untuk melaksanakan hak tersebut, harus memperhitungkan kehidupan dan anak-anak mereka sekarang dan pada masa mendatang, serta tanggung jawab mereka terhadap masyarakat.

“Promosi pemakaian hak-hak ini harus menjadi dasar kebijakan dan program dukungan pemerintah dan masyarakat di bidang kesehatan reproduksi, termasuk keluarga berencana,” ujar dr. Ranthi.

Selain penting bagi suami isteri, pemahaman kesehatan reproduksi penting bagi remaja. Hal ini guna memungkinkan mereka menghadapi seksualitasnya dengan cara yang positif dan bertanggungjawab.

“Kesehatan reproduksi tidak akan tercapai jika tingkat pengetahuan yang tidak mencukupi, perilaku seksual beresiko tinggi, praktik-praktik sosial yang mendiskriminatif, sikap-sikap negatif terhadap wanita, dan kekuasaan terbatas yang dimiliki banyak wanita atas kehidupan seksual dan reproduksi mereka,” ujar dr. Ranthi.

Kaum remaja mudah terkena dampak karena kurangnya informasi dan pelayanan yang relevan. Untuk itu, diperlukan suatu upaya promosi dan konseling kesehatan reproduksi guna pemenuhan hak-hak reproduksi di semua sektor.

“Hal ini penting dilakukan untuk membantu masyarakat dalam mengetahui dan mengatasi masalah kesehatan reproduksi yang dialaminya,” ujar dr. Ranthi.

Saat ini, promosi dan konseling kesehatan reproduksi dilaksanakan melalui pendekatan siklus hidup manusia (life cycle) dengan memperhatikan kebutuhan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut (continuum of Care).

Selain itu, pelayanan Keluarga Berencana juga dilaksanakan sebagai salah satu upaya pemenuhan hak reproduksi pada pasangan usia subur. “Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat berakibat buruk pada fase kehidupan selanjutnya,” ujarnya. (KO)*

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here