Kamis, 20 September 2018

Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran Kota Serang Diklaim Turun

SERANG, (KB).- Tingkat kemiskinan dan pengangguran Kota Serang diklaim mengalami penurunan meski tidak signifikan selama periode 2013-2018. Hal tersebut terungkap dalam sidang paripurna beragendakan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Periode (LKPj AMP) Wali Kota Serang periode 2013-2018, di Gedung DPRD Kota Serang, Rabu (11/7/2018).

Diketahui, akhir masa jabatan Jaman dan Wakil Wali Kota Sulhi Choir akan berakhir pada Desember 2018. Dalam penyampaian hasil kinerjanya, Wali Kota Serang, Tb. Haerul Jaman mengungkapkan beberapa hal yang telah dicapai, di antaranya pengurangan angka pengangguran dan angka kemiskinan.

Di awal periode yakni tahun 2014 didapatkan angka pengangguran terbuka sebanyak 10,03 persen, kemudian pada 2017 menjadi 8,43 persen atau turun sebesar 1,6 persen. Angka kemiskinan, pada tahun 2014 tercatat sebanyak 5,70 persen warga Kota Serang yang miskin, dan pada tahun 2017 berhasil diturunkan menjadi sebanyak 5,57 persen, atau turun sebesar 0,13 persen.

Menurut Jaman, upaya Pemkot Serang sudah optimal dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan tersebut. Meski diakuinya masih terdapat kendala-kendala dalam menjalankan program. “Kemiskinan itu cukup banyak sekali faktor yang mempengaruhinya dan membutuhkan effort (upaya) dan anggaran yang besar sekali,” ujarnya.

Menurutnya, kinerja program pengentasan kemiskinan kurang terlihat dibandingkan pengangguran terbuka karena faktor-faktor kemiskinan yang cukup banyak, berbeda dengan pengangguran. Untuk menekan angka pengangguran cukup dengan memberikan kesempatan kerja. ”Namun kalau kemiskinan itu banyak faktor, seperti misalnya kemiskinan kultural, struktural dan absolut ada pengaruh sosial budayanya,” ucapnya.

Jaman menuturkan, kemiskinan tidak hanya dapat dilihat dari daya beli saja, melainkan juga dari faktor lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan. Walaupun pada umumnya dilihat dari sisi ekonomi masyarakat tersebut. “Seperti pendidikan, itu untuk mendapatkan ijazahnya, juga kesehatan, agar dapat bekerja dengan baik. Selain itu, mengubah mindset masyarakat juga tidak mudah, misalnya agar dapat memahami pentingnya pendidikan,” katanya.

Dari sisi anggaran, kata dia, pengentasan kemiskinan sudah disebarkan kepada setiap program-program di OPD yang ada. Akan tetapi, karena ada perubahan beberapa kebijakan mengakibatkan program untuk masyarakat yang terhambat. “Kalau dulu, saat pendidikan gratis di Kota Serang, masyarakat menjadi semangat,” ujar Jaman.

Jaman juga bicara soal Pemkot Serang yang telah berupaya memberikan peningkatan keterampilan bagi masyarakat. Baik untuk bekerja di tempat usaha ataupun menjadi wirausahawan. Namun disayangkan hal tersebut tidak ditunjang dengan semangat dari masyarakat. “Contohnya kami melatih menjahit, diberikan mesin jahit, tapi malah dijual. Ini mindset yang harus diubah,” tuturnya.

Jaman juga berpesan kepada wali kota dan wakil wali kota terpilih agar meningkatkan angka rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup dan daya beli masyarakat. Selain itu juga infrastruktur masih menjadi prioritas ke depannya. ”Kemudian lahan persawahan harus tetap dipertahankan. Sebab, Kota Serang memiliki banyak lahan persawahan yang harus dijaga,” ucapnya. (TM)*


Sekilas Info

Program Serang Sehat Belum Memuaskan

SERANG, (KB).- Program Serang Sehat dinilai belum memuaskan. Hal tersebut salah satunya, karena masih kurangnya koordinasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *