Tiga Wanita Amerika Penerjemah Alquran

Ilzamudin Ma'mur

Oleh : Ilzamudin Ma’mur

There is clearly a need for a presentation of the meanings of the Holy Quran in English which is precise enough to be useful as a reference for Muslims and students of Arabic yet also suitable for da’wah purposes to non-Muslims.

Sangat jelas ada kebutuhan presentasi makna Kitab Suci Alquran dalam bahasa Inggris yang cukup tepat untuk dimanfaatkan sebagai rujukan bagi umat Islam dan mahasiswa bahasa Arab namun juga cocok untuk tujuan-tujuan dakwah kepada non-Muslim. (Shaheeh International,1997).

Karya terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris yang dihasilkan secara kolaboratif banyak tersedia di banyak toko buku atau pun di perpustakaan, tetapi karya kolaboratif ini unik. Keunikannya adalah bahwa karya terjemahan ini dikerjakan semuanya oleh tiga wanita penutur asli bahasa Inggris yang lahir di Amerika dan diterbitkan di Saudi Arabia, yang hardcopynya bisa dibeli via Amazon.com atau soft-copy-nya bisa diperoleh secara daring.

Biografi intelektual

Shaheeh International adalah nama pena penerjemah Alquran ke dalam bahasa Inggris, yang dihasilkan secara kolaboratif oleh 3 Muslimah berkebangsaan Amerika Serikat : Emily, Mary, dan Bantley (Bruce Lawrence, 2017:99). Emily Assilmi berasal dari California, Marry Kennedy dari Rochester, Minnesota, dan Amatullah Bantley dari Orlando, Florida. Setelah memeluk Islam ketiganya hijrah ke dan bermukim di Saudi Arabia.

Di antara ketiga penerjemah wanita tersebut, Emily adalah penerjemah utama yang juga menggunakan nama pena Umm Muhammad atau Umm Muhammad Aminah Assilmi. Selain penerjemah utama Emily juga sebagai pembimbing dan guru awal bagi kedua team-colaborator-nya Mary dan Amatullah Bantley. Di negara kerajaan ini, mereka mendirikan lembaga penerbitan yang memublikasikan buku-buku keislaman serta pemasarannya bermarkas di Riyad, Saudi Arabia.

Emily lahir pada 1 Januari 1940 di California, Amerika Serikat. Ia sebelumnya adalah ‘penginjil’, yang disebut “a Southern Baptist Preacher’, yang alih-alih menarik orang lain mengikuti agama Nasrani, dirinya justru tertarik pada ajaran Islam dan akhirnya memeluk Islam pada 1974, saat berusia 34 tahun, di Siria. Sejak itu ia lebih suka memakai nama Umm Muhammad Aminah Assilmi.

Setelah beberapa lama belajar bahasa Arab dan kajian Islam secara intensif di Damaskus, Syiria, pada 1981 ia pun hijrah ke Saudi Arabia dan sepuluh tahun kemudian mulai mengajar kelas-kelas Tafsir dan Fiqih dasar di Islamic Center di Jiddah, Saudi Arabia. Ia tinggal bersama suaminya, warga Arab Saudi, di kota tersebut, bersama para anak dan cucu yang sebagiannya hidup dan tinggal di berbagai negara. Umm Muhammad sendiri wafat di Saudi Arabia pada 5 Maret, 2010.

Sebagai direktur International Union of Muslim Women, ia sering diundang dan mengunjungi berbagai kampus untuk membahas berbagai topik tentang Islam. Pada 2009, namanya pun masuk dalam buku 500 Most Influential Muslims in the World, yang diterbitkan oleh Royal Islamic Studies Center, yang bermarkas di Amman, Yordania, satu tahun sebelum kewafatannya.

Umm Muhammad adalah penulis yang cukup poroduktif. Karya orisinal dan derivan yang ditulis dalam bahasa Inggris tidak kurang dari 80 karya, antara lain :
The Global Messenger (2008), Clear you Doubts About Islam: 50 Answer to Common Questions (2008), A Muslim’s Concept of Time (2002), The Marriage Procedures in Islam (2000), The Forty Hadith of al-Imam an-Nawawi (2000), Realities of faith (1994), From the Guidance of Surah Ya Seen (1994), The Prophet Appointed by Allah (1993), A Brief Introduction to Tajweed (1990), The Obervance of al-Mawlid an-Nabawi and Other Birthdays (1990), Cultural Crisis (1990), The Qur’an: Arabic Text with Corresponding English Meaning (1997).

Karya terjemahan Alquran

Karya kolaboratif tiga wanita kelahiran Amerika tersebut di atas berjudul The Qur’an: Arabic Text with Corresponding English Meanings, diterbitkan pertama kali oleh Abul Qasim Publishing House, Riyadh, Saudi Arabia, pada 1997. Selain memang kebutuhan sebagai mana disinggung dalam epigraf awal tulisan ini, setidaknya ada tiga tujuan utama dibalik upaya penerjemahan kolaboratif ini.

Pertama, menyuguhkan makna yang benar, sedapat mungkin, sejalan dengan ‘aqidah ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Kedua, untuk menyederhanakan dan memperjelas bahasa demi kepentingan khalayak pembaca. Ketiga, membiarkan Alquran berbicara dan menjelaskan dirinya sendiri, menambahkan catatkan kaki hanya jika dirasa sangat perlu untuk menjelaskan hal-hal yang tidak langsung bisa dipahami saja atau apabila terdapat lebih dari satu makna dapat diterima. Jumlah catatan kaki yang demikian tujuannya tidak kurang dari 1884.

Alquran terjemahan ini, mereka lebih suka menyebutnya tafsir makna, disuguhkan dengan model bilingual, yakni bahasa Arab diletakkan di sebelah kanan dan terjemahan Inggrisnya di sebelah kiri. Seluruhnya disajikan 30 juz yang dimulai dari nomor kecil sebelah kiri dan bergerak ke nomor besar ke arah kanan. Pendekatan penerjemahan yang diterapkan oleh tim tiga wanita ini tampaknya adalah pemadanan dinamis, jadi tidak saja secara harfiah saja.

Pemadanan makna Allah, alih-alih diterjemahkan dengan God, sebagaimana dalam terjemahan Laleh Bakhtiar yang juga dari Amerika, tetapi tetap menggunakan kata Allah, dengan alasan bahwa ‘kata Allah tidak pernah dapat diterjemahkan secara harfiah.’(i). Demikian juga dengan nama-nama para nabi, rasul (Isa bukan Yesus, Musa bukan Moses, dan Ibrahim bukan Abraham), malaikat (Mikail bukanya Michel, Jibril bukanya Gabriel) serta nama-nama surat Alquran (al-Baqarah bukanya dan An-Nisa bukannya woman).

Dari sudut translataion directionality, terjemahan ini termasuk jenis inverse translation, yakni penerjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu penerjemah. Proses penerjemahan hingga penerbitan akhir menghabiskan waktu tidak kurang dari tiga tahun. Dari sudut isi, sebagian pengamat menyatakan bahwa karya ini sejatinya merupakan adaptasi, hingga tingkat tertentu, dari karya Muhammad Muhsin Khan dan Muhammad Taqiyuddin al-Hilali, (1999).

Alih-alih dipandang sebagai karya kolaboratif, barangkali karena peran dominannya dalam proses penerjemahan, Rim Hassen mengklasifikasikan penerjemah di balik Shaheeh International, yakni Umm Muhammad, sebagai penerjemah independent dalam disertasinya yang berjudul English Translations of the Qur’an by Women: Different or Derived? (Department of English and Comparative Literary Studies, University of Warwick, 2012). Hal itu antara lain barangkali karena tidak mudahnya menelusuri biografi intelektual tim kolaboratornya, Marry Kennedy dan Amatullah Bantley, sebagaimana dialami sendiri penulis artikel ini dan gagal menyuguhkannya di atas.

Terlepas dari itu semua, dinyatakan bahwa karya ini merupakan “karya terjemahan yang lebih sederhana, lebih jelas dan lebih mudah untuk dibaca dibanding dengan karya-karya terjemahan sebelumnya”…Hal ini dimungkinkan karena “para sarjana dan penerjemah Saheeh International telah benar-benar memperhatikan sumber-sumber hadits dan tafsir yang otentik serta telah pula melakukan perbandingan terhadap karya-karya terjemahan bahasa Inggris klasik terdahulu. Hasilnya adalah, menurut sumber yang sama, sebagai karya terjemahan yang sangat mudah diakses dan diandalkan yang bisa digunakan oleh siapapun yang ingin mengkaji makna otentik Kitab Suci Alquran. Wallahu a’lam bi al-shawab !!! (Penulis, Ketua Komisi Kerja sama dan Hubungan Luar Negeri MUI Provinsi Banten dan Wakil Rekor I UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here