Tiga Investor Asing Lirik Tanjung Lesung

PANDEGLANG, (KB).- Presiden Direktur PT Banten West Java (BWJ) Poernomo Siswoprasetijo mengatakan, tiga investor asing akan berinvestasi di Tanjung Lesung. Ketiga investor tersebut dari Cina, Jepang dan Australia.

“Mereka melihat, Tanjung Lesung memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan bersama-sama,” kata Poernomo, Senin (19/8/2019).

Menurut dia, saat ini PT BWJ sedang fokus membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana tsunami Selat Sunda akhir tahun lalu. Selain itu, pihaknya menggelar beberapa event agar mengundang perhatian wisatawan dan investor.

“Jadi investasi yang saat ini sedang berjalan hanya di kawasan yang tidak terdampak. Seperti, Selling Club, Blue Fish yang sedang dikembangkan oleh investor dari Australia seluas satu hektare. Ke depan baru ada beberapa investor yang disiapkan untuk mengembangkan di kawasan sekitar hotel,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR bisa konsisten menyelesaikan proyek jalan tol Serang-Panimbang. Sehingga, kata dia, saat bersamaan 2020 jalan tol sudah beroperasi dan investor bisa masuk secara bersamaan.

“Kalau progres jalan tolnya baik dan sesuai, para investor akan bisa menghitung kapan mereka akan berinvestasi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Pandeglang Iing Andri Supriadi menilai, dengan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung tidak bermafaat bagi masyarakat. Untuk itu, kata dia, dengan adanya rencana tiga investor yang akan menanamkan modalnya, bisa memberikan lapangan pekerjaan terhadap masyarakat.

“Hasil hearing beberapa waktu lalu, kita juga pertanyakan kepada pihak KEK. Saya pertanyakan manfaat dan dampaknya pada masyarakat, dari pihak KEK menjawab secara global atau jangka panjang. Seperti kita akan mendapatkan jalan tol, bandara itukan program jangka panjangnya. Sedangkan jangka pendeknya apa, kalau kita berbicara jangka pendek tentunya kita patokannya pada peningkatan PAD dan juga lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Sedangkan ketika ada KEK apa dampaknya. Tidak ada peningkatan PAD secara signifikan terkait kenaikan PAD,” ucapnya.

Untuk itu, kata Iing, mendesak agar Bupati Pandeglang dan Gubernur Banten harus menegosiasi ulang. Karena dengan adanya KEK tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat salah satunya dengan peningkatan PAD.

“Ibu Irna sebagai bupati dan Gubernur Banten harus menegosiasi ulang. Karena dengan kaitan keberadaan KEK, jangan sampai dimanfaatkan oleh broker-broker tanah yang nyatanya banyak masalah di lapangan,” tuturnya.

Untuk itu, ia mendesak agar pemkab memanfaatkan KEK tersebut untuk peningkatan PAD. “Pemkab harus melakukan kajian ulang untuk melakukan upaya agar keberadaan KEK bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi PAD,” ujarnya. (Ade Taufik/IF)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here