Tetap Produktif Selama Pandemi Covid-19

Oleh : Gito Waluyo

Kita masih berada dalam situasi pandemi Covid-19, namun bukan berarti harus malas-malasan. Produktivitas kerja bisa ditingkatkan, walau di rumah saja. Manfaatkan saja teknologi yang ada. Corona masih belum mau pergi dari Indonesia. Masyarakat ada yang resah karena bosan, semua aktivitas mulai dari bekerja hingga belajar dilakukan di rumah saja. Mau ke luar rumah pun harus waspada karena takut akan tertular virus Covid-19. Mau tak mau mereka menaati peraturan untuk stay at home dan Pembatasan sosial Berskala Besar (PSBB).

Ketika seseorang berada di dalam rumah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, maka selain rasa bosan, muncul rasa malas akibat kegiatan yang monoton setiap hari. Tiap pagi bangun, mandi, ibadah, lalu beraktivitas yang lain. Semua dilakukan di dalam rumah, bahkan belanja sayur pun dilakukan dari rumah dengan menghubungi tukang sayur online. Aktivitas yang menjemukan ini menimbulkan rasa lelah psikis dan akibatnya memilih untuk rebahan saja.

Padahal ketika stay at home, kita juga tetap work from home. Pekerjaan dilakukan via online, dan bebannya memang tidak seberat ketika dilakukan di kantor. Sehingga sisa waktu di rumah lebih panjang, karena tidak usah melakukan perjalanan jauh ke kantor tiap pagi dan sore. Namun , keberadaan para pekerja yang melakukan aktivitas di rumah tidak seharusnya digunakan untuk bermalas-malasan.

Kita bisa produktif dengan menyalakan HP atau laptop yang tersambung ke internet. Ketika sudah tidak ada lagi pekerjaan dari kantor, bukankah lebih baik diisi dengan belajar daripada malas-malasan? Ada banyak sekali tutorial di youtube yang bisa ditonton lalu dipraktekkan. Mulai dari cara memasak, membuat kue, merajut, mengutak-atik mesin sepeda motor, dan lain-lain.

Manfatkan kuota di smartphone untuk menimba ilmu, agar jadi orang yang lebih pintar sekaligus terampil. Jangan digunakan untuk menggalau atau chatting saja. Bukankah sebuah telepon pintar seharusnya membuat pemiliknya jadi makin pintar? Lagipula tutorial yang ada di internet bisa ditonton secara gratis.

Setelah menonton tutorial dan membaca artikel tentang bidang yang kita senangi, saatnya untuk dipraktekkan. Misalnya lebaran ini kita ingin membuat kue kering sendiri, maka tinggal membeli margarin, gula, dan bahan-bahan lain, lalu mencari resep di Google atau Youtube. Kita harus berpikir untuk tetap produktif walau di rumah saja, dengan belajar hal baru atau mempraktekkan keterampilan baru. Pun skill  baru ini juga bisa dibuat untuk mencari uang tambahan, selain gaji dari kantor.

Manfaat dari tetap produktif di rumah adalah bisa mengasah otak, sehingga menjadi orang yang semakin pintar dan tangkas. Selain untuk membunuh waktu setelah bekerja, ternyata jika tetap produktif, maka juga terbebas dari obesitas. Tubuh bergarak terus ketika mempraktekkan keterampilan. Jika kita terus tiduran saja setelah work from home, maka jangan kaget ketika jarum timbangan selalu mengarah ke kanan, karena memang hanya pasif dan kurang gerak ketika berada di rumah.

Pandemi Corona bukan berarti membuat kita jadi mati kutu dan jadinya rebahan saja di kamar. Setelah selesai bekerja secara online, manfaatkan waktu untuk belajar sesuatu yang baru. Ketika kita jadi lebih produktif, maka hati akan bahagia dan lupa akan rasa bosan yang muncul ketika harus beraktivitas di rumah saja.

Berbagi dan Peduli Sesama

Dampak pandemi covid-19 tidak hanya berdampak pada status kesehatan masyarakat secara nasional, nyatanya sektor industri juga terkena dampaknya karena terpaksa mengurangi jumlah produksi, bahkan usaha kecil seperti tempat fotokopi di area kampus juga terdampak karena tiadanya aktifitas belajar mengajar di kampus atau di sekolah. Sekali lagi, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kepedulian untuk dapat berbagai dengan sesama guna mengatasi dampak Covid-19.

Meski pemerintah telah menghimbau agar para pengusaha tidak mem-phk karyawannya, namun kenyataan perusahaan tidak bisa menahan beban finansial akibat menurunnya produksi, sehingga gelombang PHK-pun tak terelakkan. Mereka yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencari segala cara untuk bisa pulang ke kampung halaman, meski tidak ada sumber penghasilan, setidaknya mereka masih bisa makan di kampung halaman.

Warung-warung makan pun jelas terdampak berkurangnya pemasukan, sebagian karyawan yang tidak di-PHK juga mendapatkan gaji yang tidak biasa mereka terima tiap bulannya. Selain itu, kunjungan rumah sakit pun menurun, sehingga tidak sedikit rumah sakit yang tidak menjadi rujukan pasien covid terpaksa mengurangi gaji para karyawannya.

Semua masalah ini tentu tidak akan ada solusinya jika kita masih tetap menebarkan kebencian, atau saling menyalahkan. Satu langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan berbagi dan peduli terhadap sesama. Langkah kecil yang bisa kita lakukan tentu saja dengan membiasakan diri untuk berbelanja di warung tetangga, dengan berbelanja di warung tetangga tentu setidaknya akan menghindarkan kita dari potensi terjadinya kerumunan di pasar, selain itu hal simpel ini juga turut serta membantu perekonomian tetangga sekitar secara langsung.

Apalagi dengan datangnya bulan Ramadhan, tentu saja pemerintah melarang adanya bazar ramadhan seperti pujasera yang menjajakan sajian takjil, hal ini tentu saja menjadikan masyarakat untuk berjualan di depan rumah. Hal ini tentu menjadi kesempatan bagi kita untuk nglarisi dagangan tersebut.

Gerakan berbagi di Indonesia juga diinisiasi oleh Tokyo Skipjack yang bekerjasama dengan Whitespace dan Mbloc bertajuk GoodFoodToShare, yang mengusung gerakan penyediaan makanan bagi tenaga medis dan pekerja harian.

Gerakan tersebut berawal dari obrolan hingga pada suatu titik, dirinya muncup pertanyaan, apa yang bisa dilakukan. Dalam praktiknya, GoodFoodToShare menyediakan menu bergizi untuk mereka yang langsung terdampak penyebaran virus corona. Dalam satu paket makanan, setidaknya terdapat nasi, daging sapi atau ayam, telur, sayuran serta tambahan protein lewat tempe atau tahu.

Gerakan ini juga memikirkan masak-masak dari hulu ke hilir terkait dengan gerakan ini, mulai dari beli bahan-bahan di pedagang pasar tradisional yang secara kualitas produk sudah dikurasi terlebih dahulu. Lalu kemudian proses pembuatan makanan yang diatur sedemikian rupa, sehingga para relawan yang meracik makanan tersebut wajib menggunakan face shield, sarung tangan dan kelengkapan lain.

Gerakan berbagi ini memang membutuhkan banyak orang untuk terlibat. Apalagi, dalam praktiknya mereka berupaya menjaga ekosistem bisnis. Tentu saja gerakan ini terbuka bagi siapapun yang ingin terlibat dalam rantai kebaikan ini. Kita bisa turut serta membantu dengan membeli paket makanan Rp 30.000 per pack.

Untuk berbagai dengan sesama tentu tidak harus mengikuti apa yang dilakukan oleh GoodFoodToShare, kita pun juga bisa mendonasikan sebagaian harta kita melalui lembaga penyalur bantuan sosial seperti LazisMu atau LazisNU.

Atau seperti yang dilakukan Polres Jakarta Barat dalam ikut membantu masyarakat yang terdampak virus corona. Dimana warga kurang mampu yang kesulitan mencari makan di tengah pandemi, bisa makan gratis di ‘warteg peduli’. Program ini dilaksanakan untuk membantu meringankan beban masyarakat di tengah pandemi.

Selain membantu warga yang kesulitan mendapatkan makanan, program warteg peduli juga sekaligus membantu para pedagang kecil yang mengalami kelesuan di tengah pandemi ini. Berbagi kebaikan dan kepedulian di tengah pandemi tentu saja bisa dilakukan oleh setiap kalangan, tentu saja hal ini sebagai wujud rasa optimisme bahwa di dunia ini masih banyak orang baik. (Penulis adalah penulis lepas, bekerja di Harian Umum Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here