Tertib Dan Keselamatan


Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Tertib berasal dari bahasa arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Istilah anak anak pesantren kata “Tertib” berawal dari akar kata “Rattaba Yurattibu Tartiiban” yang dimaknai teratur dan ber urutan.

Di dalam bersuci menghapus hadats kecil dengan berwudhu misalnya, disyaratkan tertib dan berurutan sesuai dengan urutan urutannya. Membasuh kedua tangan sampai siku baru bisa dilakukan apabila kita sudah membasuh muka.

Dan membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki dianggap sah dan dibenarkan apabila kita sudah mengusap bagian kepala. Wudhu seperti itulah yang dinilai tertib dan beraturan sesuai dengan petunjuk fiqihnya. Cara berwudhu yang dipandang sah dan dibenarkan apabila dapat dilakukan dengan tertib dan berurutan dengan benar.

Demikian juga di dalam pelaksanaan shalat, baik shalat fardhu ataupun shalat sunnah. Di dalam pelaksanaan shalat disyaratkan juga tertib. Tidak diperbolehkan seseorang yang shalat melakukan shalat nya tidak beraturan, misalnya setelah takbiratul ihram langsung ruku’ tanpa diawali dengan membaca surat alfatihah.

Atau setelah takbiratul ihram langsung sujud tanpa ada ruku’ dan ‘itidal. Itu akan merusak shalat dan shalat yang rusak karena tidak sesuai dengan tuntutan ibadah, maka bisa dipastikan batal shalat nya.

Di antara rukun shalat adalah membaca surat alfatihah. Surat alfatihah jumlah ayatnya ada 7, dan cara membacanya diwajibkan berurutan, tidak diperbolehkan membacanya lompat dari ayat pertama langsung ke ayat ketiga, terus ketujuh,kembali ke ayat pertama. Dalam membaca surat alfatihah ada ketentuan harus berurutan.

Bahasa kita disebut tertib. Apabila kita tidak mengindahkan ketentuan tertib baik di dalam melakukan wudhu, membaca surat alfatihah, dan dalam melakukan shalat, maka semuanya dinilai batal. Apabila dianggap batal tentu semuanya dianggap belum dilakukan. Betapa ruginya ketika dirasa sudah melakukan tetapi ternyata dipandang belum dilakukan. Itulah kerugian dan celakanya apabila kita mengabaikan perilaku tertib.

Sekarang ini, sebagian masyarakat sepertinya enggan dan malas untuk berprilaku tertib, budaya antri hilang, disiplin mulai terkikis, padahal tertib diajarkan di dalam agama. Dan harus diyakini, apapun yang diajarkan di dalam agama dapat dipastikan banyak memberikan kebaikan dan kemaslahatan bukan hanya bagi pelakunya, akan tetapi memberikan kemaslahatan bagi orang lain.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here