Selasa, 20 November 2018

Terobosan Kemenag Kota Tangsel, Kitab Kuning Jadi Bahan Ajar

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggagas kitab kuning untuk menjadi bahan ajar di madrasah. Dalam waktu dekat, gagasan itu bakal dirumuskan untuk diterapkan pada tahun ajaran 2018/2019.

“Selama ini madrasah yang merupakan sekolah berbasis keagamaan hanya terdapat muatan lokal atau mulok yang berbasis keagamaan seperti tahfidz, tahsinul-qiraah, tauhid, qiyamul-laili, dan ketaatan beragama. Belum ada penerapan ilmu secara spesifik,” kata Kepala Kantor Kemenag Kota Tangsel, Abdu Rojak pada Focus Group Discussions (FGD) di Aula Kantor Kemenag Tangsel, Kamis (5/7/2018).

Melalui Pembelajaran Kitab Kuning itu, menurutnya akan memberikan madrasah baik Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) pembelajaran ilmu yang spesifik.

“Alhamdulillah gagasan ini mendapat respon positif dan melalui FGD ini akan kita rumuskan untuk kemudian akan kita launching pada tahun ajaran baru pertengahan Juli ini,” ujarnya menandaskan.

Kantor Kemenag Kota Tangsel, sebagai penanggungjawab madrasah akan menerapkan Pembelajaran Kitab Kuning di madrasah yang ada di Kota Tangsel. Setiap madrasah akan menyesuaikan pembelajaran di tiap tingkat madrasah yang akan mempelajari berbagai bidang seperti gramatikal Bahasa Arab, ilmu nahwu dan shorof, fiqh, tauhid, mantiq dan balaghoh, akhlak, dan ta’lim muta’lim.

“Kitab kuning memang sebagai referensi rujukan dan literasi semua ajaran Islam. Selain itu kitab kuning juga sebagai sumber rujukan dan referensi ulama dalam mengajarkan Islam,” jelasnya.

Selain itu kondisi umat muslim yang jarang mempelajari kitab kuning, sehingga dikhawatirkan ada keterputusan literasi ke-Islaman kepada kitab kuning. Maka dikhawatirkan nanti bukan merujuk kepada kitab kuning tetapi mencari literasi dari internet atau media sosial. Hal ini akan mempengaruhi keabsahan dan kedalaman ilmu yang diperoleh.

“Kita ingin pembelajaran kitab kuning ini menjadi pembelajaran yang berkelanjutan setiap jenjang madrasah mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang bernaung dibawah Kementrian Agama. Harapannya setelah siswa lulus Aliyah dan masuk keperguruan tinggi akan mempunyai dasar pengetahuan pembacaan kitab,” paparnya.

Untuk diketahui, dalam FGD itu hadir sejumlah tokoh, seperti Saefudin Zuhri, Alimin, Suhardi dan pimpinan pondok pesantren di Kota Tangsel. (DA)*


Sekilas Info

Penyanyi Lawas Hipnotis Pengunjung Summarecon Mall Serpong 

TANGERANG, (KB).- Sebanyak 11 penyanyi lawas era 80 dan 90 an, seperti Ikang Fauzi, Memes, Deddy …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *