Kamis, 13 Desember 2018

Terlibat Kasus Korupsi Dana BP3, Eks Calon Wali Kota Serang Ditahan

SERANG, (KB).- Mantan calon Wali Kota Serang, Tubagus Delly Suhendar, dijebloskan ke Rutan Kelas II B Pandeglang. Ia ditahan penuntut umum Kejari Pandeglang terkait kasus korupsi dana Bantuan Penanggulangan Padi Puso (BP3) di Desa Sumur Batu, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang tahun 2012 senilai Rp 1,024 miliar.

“Berkas perkara yang bersangkutan telah kami terima dari Kejari Pandeglang kemarin. Yang bersangkutan (Delly) ditahan di Rutan Pandeglang,” ujar Panitera Muda (Panmud) Tipikor Pengadilan Negeri Serang, Nur Fuad, Jumat (18/5/2018).

Selain Delly, penuntut umum juga menahan Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karneli dan oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Forum Cikeusik Bersatu, Darwin. “Sama keduanya (Darwin dan Karneli) ditahan di Rutan Pandeglang. Berkas ketiganya sudah dinyatakan lengkap dan sebentar lagi akan dihadirkan di persidangan (diadili),” kata Nur Fuad.

Dalam kasus ini, dua terdakwa sudah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Serang. Mantan Kepala Desa Sumur Batu Agus Mulyana dijatuhi pidana penjara selama 13 bulan, denda Rp 50 juta subsider 1 bulan dan uang pengganti Rp 20 juta subsider tiga bulan.

Sedangkan mantan Sekretaris Desa Sumur Batu, Arkasim divonis pidana penjara selama 14 bulan, denda Rp 50 juta subsider 1 bulan dan uang pengganti Rp 7 juta subsider 1 bulan. Keduanya terbukti melanggar Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KHUP.

Kasus bancakan dana BP3 ini sendiri bermula saat Kementerian Pertanian (Kementan) RI memberikan bantuan dana delapan kelompok tani (poktan) senilai Rp 1,024 miliar di Kecamatan Cikeusik. Untuk membahas penerimaan dana tersebut, Desember 2012 oleh Ketua KTNA Kecamatan Cikeusik Sumajaya dan Sekretarisnya Sanya mengumpulkan seluruh Gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang menerima dana BP3 di rumah Karneli.

Rapat tersebut membahas terkait penyisihan uang dana BP3 yang akan diterima oleh kelompok tani. Pada pertemuan tersebut Sumajaya meminta dana BP3 untuk disisihkan untuk membuat dana administrasi pendataan, pengajuan permohonan, akomodasi pertemuan, pengetikan laporan, uang kadeudeuh (uang ucapan terima kasih) kepada pihak lain terkait BP3.

Disepakati dana Kementan RI tersebut dipotong sebesar Rp 9,5 persen dari masing-masing gapoktan. Agus Mulyana yang saat ini menjabat kepala desa meminta kepada ketua poktan penerima dana BP3 untuk menyerahkan seluruh dana tersebut kepada Arkasim.

Penyerahan dana tersebut akan diakomodasi oleh terdakwa Arkasim dan disisihkan untuk kepentingan lain diluar peruntukan bantuan puso. Kemudian setelah terdakwa Arkasim menerima dana BP3 dari para ketua poktan mendatangi Karnelia dan Sanya di rumahnya.

Pada pertemuan tersebut terdakwa Arkasim menyerahkan dana sebesar Rp 97.365.000. Dana tersebut sesuai dengan permintaan dari Sumajaya dan Sanya sebesar 9,5 persen dikali Rp 1.024.500.000 sehingga jumlahnya Rp 97.365.000. Selain menerima dana BP3, Karnelia dan Sanya juga menerima dana BP3 dari 12 ketua gapoktan. Total dana BP3 se-Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang yang diterima oleh Karnelia dan Sanya Rp 749.340.000.

Uang ratusan juta tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh kepala desa se-Kecamatan Cikeusik, sejumlah oknum LSM yang nilainya bervariasi (termasuk Darwin dan Delly), oknum wartawan dari Reportase dan Aspirasi. Dari yang dibagi-bagi uang haram tersebut, Delly yang menjabat Ketua LSM JP3B disebut mendapat bagian Rp 285 juta. (FI)*


Sekilas Info

Relokasi SD Terdampak Tol Serang-Panimbang, Disdikbud Diingatkan Agar Proaktif

SERANG, (KB).- Staf Khusus Bidang Pemerintahan Kabupaten Serang, Agus Erwana mengingatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *