Kamis, 18 Oktober 2018

Terima Kasih Ibu Bupati Irna Narulita

Beberapa minggu terakhir, telepon genggam saya sering berbunyi. Ada yang protes tentang rencana perhelatan penobatan model berprestasi dan Miss Waria yang direncanakan digelar di Restauran dan Penginapan Seafood dan Chinese Food Pantai Pasir Putih, Kecamatan Carita. Ada lagi telepon yang menanyakan soal “beralihnya” julukan Pandeglang dari Kota Santri berganti menjadi Kota Wisata.

Persoalan demi persoalan terus muncul, baik yang sengaja dimunculkan maupun yang datang sendiri. Dan Alhamdulillah, Ibu Bupati Pandeglang Hj. Irna  Narulita tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dengan gaya khasnya sebagai perempuan yang lembut, Ibu Bupati Alhamdulillah bisa langsung mengambil sikap tegas, cerdas, dan tepat.

Tentang kontes waria misalnya, Ibu Irna tidak perlu menunggu teguran dari ulama. Ketika informasi tersebut mengemuka, ia langsung konfirmasi ke pihak-pihak terkait di Pandeglang. Ia mencari langsung, baik dari bawahan maupun instansi lintas sektoral.

Ketika informasi yang diterima sudah cukup, ia langsung berbicara kepada insane pers bahwa   ia juga mengecam rencana kegiatan para kaum waria tersebut. Menurut Bu Irna, jika diwujudkan maka kegiatan para kaum waria itu bakal menodai Pandeglang. Dengan tegas, Bu Irna menyatakan menolak jika daerahnya dijadikan tempat acara untuk para kaum waria.

Menurut saya, apa yang dilakukan Bupati Irna sudah tepat dan cepat. Kalau dikasih ruang untuk berkembang, yakinlah jumlah waria akan memenuhi daerah ini. Sebab memang, populasi lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Provinsi Banten sangat cepat. Informasi yang saya terima, jumlah mereka di Banten mencapai lebih dari 1.000 orang.

Berdasarkan data KPA Banten, laki seks laki (LSL) sepanjang 2017 saja mencapai 172 orang, yang di antaranya LSL yang sudah beristri sebanyak 25 orang. Namun saat ini, populasi gay diyakini meningkat dan tidak hanya dialami oleh laki-laki usia dewasa saja. Akan tetapi, juga dialami oleh anak-anak yang masih sekolah dari tingkat sekolah menengah pertama (SMP) hingga atas. (kabar-banten.com, 5/2/2018).

Wacana tentang LGBT sudah tentu menyita pikiran sebagian anak bangsa. Beberapa kali saya juga menggelar diskusi kecil dengan beberapa teman. Dan, saya juga sering membaca bahaya LGBT di media massa.

Dari diskusi-diskusi kecil itu saya berkesimpulan bahwa makhluk satu ini sangat berbahaya. Jika yang saya baca dari media massa itu benar, maka berarti negeri kita tercinta ini sudah masuk dalam kategori darurat bahaya LGBT. Wajar, jika seluruh pihak harus memberikan perhatian serius terhadap masalah ini.

LGBT sudah menjadi ancaman serius, karena makhluk ini bisa menjelma dalam banyak wujud, termasuk berbaju publik figur. Bisa jadi, orang selama ini dikagumi karena sering mengayomi, tak tahunya pengikut LGBT. Bisa jadi, orang yang selama ini kita percayai untuk menjaga akhlak anak-anak kita, eh ternyata gegendot LGBT.

Fenomena LGBT semakin membahayakan, karena ada indikasi penyakit ini juga menjangkit pada tokoh-tokoh idola remaja dan anak-anak.

Lebih membahayakan lagi, dewasa ini sudah mulai muncul mereka yang menyebut diri tokoh, yang tanpa malu-malu memproklamirkan diri sebagai pembela LGBT. Mereka membangun kesadaran kelompok dan melakukan upaya bersama untuk memperjuangkan pembenaran, eksistensi sampai pengakuan hak-hak hukum para pengikut LGBT.

Ada pembelaan dan advokasi dari berbagai kalangan, baik perorangan maupun kelembagaan. Ada akademisi yang nyaring bersuara membela LGBT. Ada LSM yang giat melakukan advokasi. Ataghfirullah!

Bahkan, dari media massa kita juga mendapat informasi bahwa ada perusahaan-perusahaan multinasional yang ikut mempromosikan dan membiayai LGBT. Termasuk dalam hal ini adalah tawaran menggiurkan dari lembaga-lembaga donor dari luar negeri yang siap membiayai kampanye LGBT. Belum lagi kampanye gencar lewat media sosial.

Meski sudah sedemikain darurat, namun sampai hari ini kita belum melihat ada kebijakan dan sikap tegas soal LGBT. Belum ada pernyataan tegas dari pemerintah, bahwa LGBT sangat berbahaya dan mengancam masa depan bangsa. Lewat kolom terbatas ini, saya berharap seluruh masyarakat Banten memagari diri dari ancaman “penjajah akhlak” bernama LGBT.

Abil Qasim Al Junaidi bin Muhammad Al Kazzaz an Nahwandi menyatakan, Allah akan memberikan balasan kepada hambanya di akhirat tentang segala yang pernah dikerjakan selama hidupnya.

Allah telah menganugerahi manusia dengan piala kemuliaan, memerintah mereka dengan kasih sayang dan mempersiapkan balasan keutamaan (pahala). Barang siapa yang telah melaksanakan perintah Allah akan mendapatkan janji-janji pahala-Nya. Dan barangsiapa yang telah memperoleh janji-janji-Nya, Allah akan menambahkan untuk mereka keutamaan.

Kita belum terlambat. Bangsa ini masih bisa berbenah menuju lautan kasih sayang yang dibenarkan oleh Allah Swt. Tak ada istilah terlambat untuk meraih rahmat dan maghfirah Allah Swt. Pintu taubat masih terbuka lebar, mari perbaiki negeri ini, mulai dari diri sendiri.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: “Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh beliau). (KH. Khozinul Asror/Pengasuh Pesantren Al Khoziny Pandeglang)*


Sekilas Info

TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : Hj. Ade Muslimat. S.Mn.MM.M.Si Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *