Tenaga Kerja Pertanian di Kabupaten Serang Semakin Minim

Petani di Kecamatan Pamarayan sedang memanen padi.*

SERANG, (KB).- Pihak Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang mengungkapkan, tenaga kerja pertanian, kini semakin berkurang. Oleh karena itu, dibutuhkan alat mesin pertanian (Alsintan) untuk melakukan mekanisasi pertanian.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Distan Kabupaten Serang mengajukan bantuan alsintan ke Pemerintah Provinsi Banten dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, tahun ini ada banyak permohonan bantuan alsintan yang diajukan ke Kementan dan provinsi, di antaranya dua unit mesin untuk jagung, dua unit mesin padi, sepuluh unit mesin penggiling padi, dan dua puluh unit mesin perontok padi.

“Walau kami tidak ada anggaran, tapi ada peluang di Kementan dan Distan provinsi,” katanya kepada Kabar Banten, Ahad (9/2/2020).

Ia menuturkan, alsintan tersebut, sebagai jalan keluar, karena banyak kelompok pemanen yang berkurang. Hal tersebut terjadi, karena banyak anak muda yang lebih tertarik pada bidang industri dan jasa.

“Di Pantura kelompok tani penanam dan pemanen sudah berkurang, yang ada tinggal yang tua. Jumlahnya sangat kurang, panen bisa kejadian sekarang itu di satu daerah padi sampai tua sekali digoyang sedikit rontok,” ucapnya.

Menurut dia, upah tenaga pemanen kini semakin mahal, dari awalnya hanya Rp 50.000-80.000 per hari, kini bisa mencapai Rp 100.000.

“Belum rokok Rp 100.000 itu dan makan. Sekarang kalau panen sehektare bisa Rp 2 juta biaya tenaga kerjanya. Kalau pakai combain (mesin) paling Rp 1,2 juta. Kalau perbandingannya sehektare 20 orang, kalau combain tiga orang. Itu petani operatornya kami latih, cara penggunaannya mirip traktor cuma ada alat gerak panen,” ujarnya.

Saking jarangnya tenaga kerja tersebut, bisa jadi ketika ada satu kecamatan panen, tenaga nya diambil dari kecamatan lain, seperti Kramatwatu, Ciruas, Pontang atau Lebakwangi.

“Jadi, enggak setempat dan itu harus nunggu giliran. Termasuk buruh tandur juga,” tuturnya.

Menurut dia, semakin sulit tenaga kerja pertanian, jalan agar pertanian tetap eksis harus dilakukan mekanisasi.

“Jadi, tidak lagi tenaga kerja. Mekanisasi ini baiknya dikelola pemuda bukan orang tua. Karena, kelompok pemuda selain sadar teknologi juga bisa diarahkan punya manajemen bagus. Kalau petani tua biasanya alat digunakan saja seperlunya. Ini yang ingin kami bentuk kelompok pemuda, kami ada patriot taruna tani, tapi belum fokus kerjanya tinggal memfungsikan lagi,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here