Selasa, 21 Agustus 2018

Tantangan Santri Era Millenium, Tak Hanya Kitab Kuning Tetapi Juga Teknologi

Dua tahun silam tepatnya pada 2015, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keppres nomor 22 tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan Hari Santri Nasional dilandasi peristiwa sejarah yang menjadi bagian perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan.
Sejarah mengatakan, 22 Oktober 1945 pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari menggaungkan resolusi jihad di Surabaya, Jawa Timur. Seruan jihad paling fenomenal yang dikeluarkannya adalah “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.”

Tidak butuh waktu lama, resolusi jihad tersebut kemudian membakar semangat kaum santri untuk ikut serta mengusir penjajah Belanda, yang mereka lakukan yaitu menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.  Dari peristiwa itu dapat disimpulkan bahwa peringatan hari santri nasional merupakan salah satu upaya pengakuan terhadap peran santri sebagai elemen masyarakat yang mempunyai arti penting. “Kan diambil revolusi jihat tanggal 22 Oktober,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan UIN SMH Banten, Suadi Sa’ad, Ahad (22/10/2017).

Titik baliknya, pergulatan para santri memperjuangkan kemerdekaan diharapkan tetap abadi dalam setiap benak masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Banten. Momentum ini juga harus dimanfaatkan kaum santri untuk terus berkiprah dalam pembangunan bangsa. “Banten ulama dan santrinya dikenal banyak, artinya pembangunan tidak terlepas dari santri,” ujarnya.

Lain zaman lain keadaan, pola perjuangan kaum santri pembangunan bangsa juga dapat berubah. Dahulu berperang melawan penjajahan, saat berperan dalam pembangunan bangsa. Merujuk pada kondisi bangsa ini, dimana globalisasi terus meningkat dan gemburan teknologi kiat pesat. Kaum santri harus juga mengambil perannya agar tidak tergesur oleh zaman.  “Santri saya kira harus melek teknologi, jangan hanya kitab kuning. (kitab kuning) itu penting untuk membangun karakter dan moral, tapi pengetahuan teknologinya juga penting,” ucapnya.

Perwujudan santri demikian akan dapat lahir dari pondok pesantren yang juga tidak membatasi kemajuan teknologi bagi para santrinya. Artinya, pondok pesantren baik tradisional dan pondok pesantren modern diperlukan mempunyai visi dan arah sama dalam hal tersebut. (Santri Pondok Pesantren) Tradisional juga banyak yang sekolah di umum juga,” tuturnya.

Ketua Forum Bela Santri Banten Abdurrahman Boim, mengatakan, santri tidak selalu diindentikkan dengan orang yang hanya berhak mengurus agama. Karena, faktanya santri juga terlibat dalam memerdekaan negara. Keberadaan santri harus mendapat perhatian dari pemerintah, seperti melalui pembangunan pondok pesantren di Banten. “Pendidikan pesantren jangan dipandang sebelah mata. Di sini pemerintah harus hadir,” ucapnya.(Sutisna)***


Sekilas Info

LAZ Harfa Banten Gelar Sholat Ghaib dan Doa Bersama Untuk Korban Gempa Lombok

SERANG, (KB).- Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) Banten menggelar sholat ghaib dan doa bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *