Taman Arkeologi Akan Dibangun di Surosowan

Bekas penggalian atau ekskavasi di halaman Keraton Surosowan kawasan Banten Lama akan dijadikan taman arkeologi. Keberadaan taman tersebut bertujuan agar masyarakat mengetahui sisa peninggalan serta sejarah Kesultanan Banten.

Penanggung jawab Pengupasan Kegiatan Ekskavasi Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten Mimi Lumbiyantari mengatakan, ekskavasi di kawasan Surosowan dilakukan hingga empat bulan dan saat ini sudah masuk ketiga bulan lebih.

Rencananya, tim BPCB Banten akan membuat taman arkeologi di seputaran halaman Keraton Surosowan. Dengan penataan dan penempatan benda cagar budaya di tempat asalnya.

“Rencananya itu akan dibuat menjadi taman arkeologi. Tapi nanti setelah ini selesai. Kami akan ada diskusi terkait penemuan-penemuan yang di lapangan. Ini kan selama empat bulan selesai, mungkin ada pekerjaan lagi, tapi dengan nama yang berbeda,” katanya, Ahad (22/9/2019).

Namun, kata dia, ini masih dalam perencanaan dan belum dipastikan kapan taman tersebut dibuat. Soalnya, masih ada sejumlah tahapan penggalian di area tersebut. Mulai dari Srimanganti, pondasi keraton, serta benda lainnya yang diduga masih terkubur di bawah tanah.

Seperti beberapa waktu lalu, timnya telah menemukan anak tangga yang diduga menuju kanal. Kemudian ada batu yoni sebagai lambang kesuburan, yang merupakan pasangan Lingga. “Anak tangga ini juga kan bisa dibilang baru kami temukan. Kemudian, kami telusur itu seperti masih ada lagi, bukan hanya ada enam anak tangga,” ujarnya.

Selain itu, masih banyak temuan lepas benda cagar budaya lainnya. Bahkan, Watu Gilang yang berada di area Alun-alun Masjid Agung Banten Lama juga masuk benda cagar budaya yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan. “Iya, watu gilang itu juga masuk. Jadi masyarakat bisa lebih mengenal lagi. Nanti disertakan juga sejarahnya seperti apa,” ucapnya.

Pelaksana Lapangan dari BPCB Banten Yanuar Mandiri mengatakan, terdapat beberapa temuan yang masuk kategori bangunan, seperti pondasi akan tetap pada tempatnya dan ditata kembali namun tidak mengubah dari bentuk aslinya. Misalnya, gerbang yang diduga Srimanganti akan tetap seperti itu. Begitu juga dengan sejumlah puing yang berhasil ditemukan.

“Iya, kami lakukan penataan untuk temuan-temuan yang ada di sana (Keraton Surosowan). Kami bersihkan agar sedikit bersih dan terlihat rapi saja. Kalau tempatnya, ya tetap diletakkan pada saat penemuannya. Sehingga anak sekolah maupun masyarakat dapat melihat langsung bagaimana kami bekerja dan melakukan ekskavasi,” ujarnya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here