Tadarus Ramadan

Kholid Ma'mun.*

Oleh Kholid Ma’mun

Kehadiran Ramadan kepada umat Nabi Muhammad SAW, selalu memberi warna dan kebahagiaan dengan segala bentuknya, dari anak kecil sampai orang dewasa semua dapat merasakan kebahagian itu. Dari dulu bahkan sampai akhir zaman sekalipun kehadiran Ramadan selalu ditunggu dan dinanti.

Bagi penulis sendiri masih menyimpan kenangan masa-masa indah saat Ramadan tiba, ketika kecil dulu. Di antara hal yang masih terkenang sampai saat ini adalah saat mengaji Al-Qur’an di mushalla milik kakek. Bersama dengan teman-teman sebaya bahkan turut meramaikan juga kakak-kakak yang usianya sudah dewasa, mereka juga dengan penuh semangat ikut meramaikan lantanunan indah Al-Qur’an di mushalla tua itu, dibilang tua karena memang sudah berdiri sejak jaman penjajahan. Dulu kami mengaji kepada ayahanda al-maghfuru lah H. Ma’mun Yusuf dan pamanda al-maghfuru lah H. Ma’ruf Yusuf dua kali (mengaji tatap muka) dalam sehari semalam yaitu setelah selesai shalat dzuhur berjamaah dan setelah shalat subuh berjamaah. Sedangkan untuk tadarus Al-Qur’an mandiri dilaksanakan setelah pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah.

Al-Qur’an sebagai Rahmat Allah

Salah satu bentuk rahmat Allah SWT. yang agung yang dianugerahkan kepada manusia adalah Al-Qur’an, hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah SWT. “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang jadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian” QS. Al-Isra (17): 82.

Bulan Ramadan adalah bulan rahmat. Dan Al-Qur’an adalah rahmat Allah yang besar. Permulaan turunnya rahmat Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadan, karena itu bulan Ramadan biasa juga disebut Syahrul Qur’an atau bulan Qur’an. Firman Allah: “Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Allah menurunkan kitab-kitab sucinya pada bulan Ramadhan. Diriwayatkan dari sahabat Watsilah bin Al-Atsqa bahwa Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, Taurat pada malam ke-6, Injil pada malam ke-13, Zabur pada malam ke-18, Al-Qur’an pada malam ke-24 . waktu yang dipilih oleh Allah untuk menurunkan kitab-kitab suci-Nya pada bulan Ramadan adalah waktu yang tepat.

Bulan Ramadan pada masa umat Nabi Muhammad adalah bulan melaksanakan puasa dengan mengosongkan perut, menahan lapar dan dahaga. Namun, pada saat itulah jiwa dan ruh terisi dengan nilai-nilai spiritual dan jiwa menjadi bersih.

Orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan dilimpahi berbagai kebaikan dan keberuntungan, memandang Al-Qur’an adalah ibadah. Membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pahala yang besar, mengamalkan Al-Qur’an akan mendatangkan keberuntungan dunia dan akhirat.

Syafaat Al-Qur’an

Pada hari kiamat, Allah akan mengizinkan puasa agar memberi syafaat kepada orang yang berpuasa, dan Allah juga mengizinkan Al-Qur’an agar memberi syafa’at kepada orang yang membaca Al-Qur’an itu ketika di dunia. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim Rasulullah SAW. Bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberi syafaat, bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim). Demikian juga dalam keterangan lain dikatakan, “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seseorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: “Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku member syafaat kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat. (HR. Ahmad, Shahih At-Targhib).


 Salah satu amalan ibadah paling utama pada bulan Ramadan selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an, baik membacanya di dalam waktu shalat maupun di luar waktu shalat, baik pada waktu siang hari ataupun malam hari. Hal itu yang selalu dilakukan kaum muslimin setiap datang bulan Ramadan, sejak masa Rasulullah SAW. Sehingga pada masa sekarang.

Demikian besar perhatian orang-orang shaleh terdahulu terhadap Al-Qur’an terlebih ketika telah masuk bulan Ramadan, di antara ulama di masa lalu ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap dua hari dalam bulan Ramadan. Berarti selama bulan Ramadan ia mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an sebanak 15 kali. Ada ulama seperti Imam An-Nakha’I yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap tiga hari. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, akan tetapi pada 10 hari terarkhir Ramadan, ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari.

Menurut sebuah riwayat, bahwa Imam Syafi’I mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadan, di luar waktu shalat sebanyak 60 kali. Demikian juga yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Sementara menurut ketarangan lain Imam Malik ketika sudah memasuki bulan Ramadan ia menghentikan untuk sementara kegiatan mengajar dan membaca hadits, itu semua ia lakukan karena ingin berkonsentarsi untuk membaca Al-Qur’an.

Semangat membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadan yang demikian besar, karena ingin meraih kenikmatan dan kebahagiaan dengan membaca Al-Qur’an, juga untuk mendapatkan pahala besar dan rida Allah.

Allah berfirman dalam hadis Qudsi: “Orang yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an (membaca Al-Qur’an) dan mengingat-Ku, dari pada ia menyibukkan diri dengan meminta kepada-Ku (berdo’a), maka akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang meminta (berdo’a). keutamaan kalamullah (Al-Qur’an) atas semua perkataan, adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” (Hadis Qudsi, diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudri).

Mari Membaca Al-Qur’an

Mari kita jadikan Ramadan tahun ini, yang kebetulan juga bersamaan dengan adanya cobaan yang diberikan oleh Allah kepada seluruh penduduk dunia yaitu dengan adanya wabah Virus Corona (Covid 19) sehingga mengakibatkan banyak kebijakan yang diambil oleh pemerintah dari masing-masing Negara Dunia tak terkecuali di Indonesia. Di antara kebijakan yang diambil oleh pemerintah kita, setelah melalui proses penelitian dari para pakar baik dibidang medis ataupun agama, menghasilkan sebuah kebijakan bahwa semua warga dihimbau untuk tidak banyak melakukan aktivitas luar, termasuk kerja dan juga pelaksanaan ibadah di rumah-rumah ibadah.

Tentunya dengan adanya putusan tersebut memberikan kesempatan kepada kita untuk pandai-pandai memanfaatkan kesempatan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat selama di rumah, terlebih pada bulan Ramadan seperti saat sekarang ini. Sebagaimana  telah disinggung di atas bahwa di antara amalan yang dianjurkan pada bulan Ramadan adalah membaca Al-Qur’an, maka mari kita manfaatkan untuk memperbanyak membaca dan mentadarus isi kandungannya, sehingga kebiasaan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan kali ini mampu memberikan pengaruh terhadap sebelas bulan berikutnya.

Ada sebuah hadis yang patut kita jadikan motivasi agar kita bersemangat membaca Al-Qur’an dalam suasana Ramadan Pandemi seperti sekarang ini, di mana masing-masing dari kita banyak berkativitas dari rumah (Work From Home), Rasulullah SAW. Bersabda: “Rumah yang di dalamnya dibaca Al-Qur’an akan terlihat penduduk langit sebagaimana penduduk bumi melihat gemerlap bintang-bintang di langit.” HR. Al-Baihaqi

Al-Qur’an bisa kita ibaratkan dengan sebuah istana yang megah, indah dan sangat menawan bagi yang melihatnya. Dari kejauhan terlihat sangat indah. Jika didekati ternyata semakin indah. Jika seluruh Al-Qur’an itu seperti istana, maka surat-surat itu seperti kamar-kamar. Surat-surat yang panjang ibarat kamar yang besar. Di dalamnya tersimpan harta karun yang luar biasa banyak dan indah.

Siapapun yang masuk ke dalam istana itu akan terpana oleh keindahan-keindahan isi kamar itu. Dia tidak mampu memilih mana kamar yang paling indah, karena semuanya serba indah. Setiap kamar mempunyai karekteristik tersendiri yang tidak terdapat di kamar lain. Tidak ada satu perangkat pun yang bisa dibuang, karena semuanya serba pas, serba klop berada di tempatnya masing-masing.

Begitupun juga dengan kalimat-kalimat Al-Qur’an, huruf-hurufnya, tidak ada yang perlu diganti dan dibuang. Keindahan Al-Qur’an hanya saja bisa dinikmati oleh mereka yang beriman dengan keimanan yang mantap, mampu mentadaburi ayat-ayat-Nya, menghayatinya dengan sepenuh hati, dengan hati yang jernih, apalagi mampu memahami, meresapi langsung sastra Al-Qur’an. Dialah orang-orang yang benar-benar beruntung. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang gemar membaca Al-Qur’an. Selamat mendaras Al-Qur’an di bulan mulia ini, semoga dengan bacaan Al-Qur’an yang kita baca Allah angkat Covid-19 dari muka bumi, semoga Allah meridai dan menerima amal baik kita. Semoga.***

Penulis, Pedidik di Ponpes Daar El Istiqomah, penulis buku Celoteh Santri dan Annakku You’re My Everything (Sebuah Kado Pernikahan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here