Syafrudin-Subadri Dianggap tak Mampu Bawa Kemajuan, Puspemkot Serang ”Disegel”

Mahasiswa menggembok pagar Pusat Pemerintahan Kota Serang sebagai bentuk aksi gagalnya satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang, Syafrudin-Subadri Ushuludin, Kamis (5/12/2019).*

SERANG, (KB).- Gabungan mahasiswa dari sejumlah organisasi perguruan tinggi di Kota Serang ”menyegel” kantor Wali Kota Serang di Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang, Kamis (5/12/2019).

Mereka menganggap kepemimpinan Syafrudin dan Subadri Usuludin tidak mampu membawa kemajuan bagi Kota Serang atau kendor merealisasikan janji-janjinya.

Para mahasiswa menilai pasangan yang dikenal dengan tagline Aje Kendor tersebut, gagal dalam memimpin Kota Serang. Sebab, banyak janji mereka yang belum terpenuhi selama satu tahun ini. Oleh karena itu, mereka menyegel gedung Puspemkot Serang menggunakan rantai dan gembok dengan memasang banner yang bertuliskan “Gedung Ini Kami Segel, Aje Kendor Gagal”.

“Kita ketahui bersama bahwa banyak janji dari Syafrudin-Subadri tidak terpenuhi hingga satu tahun ini. Seperti program 100 hari kerja, yang bahkan sudah setahun ini tidak ada progres sama sekali. Kami pun mahasiswa menganggap kepemimpinan mereka gagal,” kata Koordinator Aksi Nuriman Jamsani, Kamis (5/12/2019).

Nuriman juga menyampaikan raport merah Kota Serang di bawah kepemimpinan Kota Serang dalam satu tahun pertamanya. Di antaranya, kendor menata pedagang kreatif lapangan (PKL). Penataan PKL dalam kenyataannya, menurutnya, justru penggusuran berkedok relokasi.

“Berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL. Apabila Pemkot ingin melakukan relokasi, maka harus menyediakan segalanya. Mulai dari MCK, awning, hingga saluran irigasi,” tuturnya.

Baca Juga : Genap Setahun Pimpin Kota Serang, Syafrudin-Subadri Belum Memuaskan

Ia pun menyoroti kasus pungutan liar (pungli) yang terjadi di Kota Serang. Dalam persoalan ini, kata dia, Syafrudin-Subadri “kendor” membersihkan birokrat yang nakal.

“Seharusnya Wali Kota tegas dalam memberikan statement bahwa siapapun yang melakukan pungli harus dipecat. Namun ternyata hanya sebatas bahasa “lihat dulu sejauh mana keterlibatannya”. Tentu ini tidak memberikan efek jera,” katanya.

Mahasiswa pun menuntut Syafrudin-Subadri agar segera merealisasikan program 100 hari kerja yang mereka canangkan. Selanjutnya, mereka juga menuntut agar Aje Kendor segera memecat oknum pegawai yang terindikasi melakukan pungli.

“Kami menuntut agar Syafrudin-Subadri melakukan konferensi pers dan meminta maaf kepada masyarakat Kota Serang. Karena masih banyak janji yang belum diselesaikan. Jika tidak, lebih baik mundur,” ucapnya.

Tak berdaya

Sebelumnya, pada malam kemarin, Rabu (4/12/2019), puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Banten Jaya (Unbaja) melakukan aksi refleksi satu tahun kepemimpinan Aje Kendor di depan kampus 1 UIN Banten. Mereka juga menilai Aje Kendor gagal dalam memimpin Kota Serang. Sebab, banyak persoalan lingkungan yang belum bisa diselesaikan oleh mereka.

Koordinator lapangan (Korlap) aksi M. Ridho mengatakan, Pemkot Serang di bawah kepemimpinan Syafrudin – Subadri masih tetap tidak berdaya melawan para pengusaha ayam. Padahal dalam RTRW Kota Serang, sama sekali tidak memperbolehkan kandang ayam beroperasi.

“Jadi harusnya 2.010 kandang ayam dilarang di Kota Serang. Ternyata dapat kompensasi atau disinsentif 5 tahun persiapan sebelum pindah. 2015, dapat disinsentif lagi sampai 2018. Tahun ini harusnya sudah pindah. Tapi justru dapat disinsentif lagi,” ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan, kekumuhan di Kota Serang hingga kini masih ada. Menurutnya, Pemkot Serang telah gagal atau kendor menyelenggarakan permukiman dan perkotaan yang nyaman bagi warganya.

“Pemkot juga gagal menyosialisasikan pengelolaan sampah ke masyarakat. Dia mengatakan, sampah banyak menumpuk dimana-mana membuat drainase dan sungai yang ada di Kota Serang tersumbat. Adapun kegiatan sosialisasi yang ada, hanya dijadikan seremonial semata,” katanya.

Bukan hanya itu, kata dia, masalah kekeringan di Kasemen yang berlarut-larut pun menjadi sorotan mereka. Ridho menuturkan, Pemkot Serang gagal lagi dalam menyediakan air bersih bagi warganya. Sehingga, sebagian warga Kasemen sepanjang tahun harus membeli air. Sedangkan PDAB Tirta Madani tidak sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Belum lagi penataan Kota yang makin tidak jelas. Tidak memiliki grand design tata kota. Sehingga semakin semrawut,” tuturnya.

Ia pun mengibaratkan kepemimpinan Syafrudin-Subadri seperti lilin yang menyala. Menyala terang diawal dan menjulang tinggi. Namun semakin lama, semakin pendek dan padam.

“Ini (lilin) sebagai bentuk perumpamaan kami dalam kepemimpinan Aje Kendor. Juga sebagai refleksi bahwa Aje Kendor saat ini hanya tersisa kendornya saja,” ucapnya. (Rizki Putri/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here