Sabtu, 15 Desember 2018

Syafrudin Geber Program 100 Hari

SERANG, (KB).- Sehari setelah dilantik, Wali Kota Serang Syafrudin langsung menggeber program 100 hari, dengan meninjau jalur Trondol, Kaligandu, Kota Serang, Kamis (6/12/2018). Syafrudin merencanakan menyiapkan jalur alternatif sementara, untuk mengatasi salah satu titik kemacetan terparah di Kota Serang tersebut.

Pantauan di lokasi, Syafrudin sebelumnya menghadiri salah satu acara di Gedung PKPRI Kota Serang. Setelah selesai, ia didampingi Kepala Inspektorat Kota Serang Kosasih dan protokol Pemkot Serang lainnya langsung meninjau kawasan tersebut.

Wali kota melihat langsung kondisi arus lalu lintas kendaraan mulai dari Terowongan Trondol hingga depan Perumahan Taman Mutiara. Kemacetan panjang pun tampak terjadi di lokasi tersebut. “Setelah saya tinjau di terowongan itu, memang sudah dari tahun ke tahun ini tidak ada solusi,” ujar Syafrudin kepada wartawan.

Menurutnya, kemacetan yang terjadi saat ini semakin parah, karena jumlah kendaraan semakin meningkat. Sebagai langkah awal dalam program 100 hari kerja, sejumlah pos jaga dan pengaturan (gatur) dibangun dan ditempatkan personel Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Serang. Hal tersebut dilakukan agar nantinya petugas dapat mengatur lalu lintas yang ada.

“Langkah awal 100 hari kerja kami yaitu akan membuat pos jaga Dishub dulu, untuk dapat mengatur lalu lintas kendaraan. Kemudian, nantinya akan buat jalur alternatif,” ucapnya.

Dia menjelaskan, jalur alternatif yang nantinya akan dibuat yaitu dengan membuat jalur dua arah. Kendaraan dari arah barat rencananya akan diarahkn ke Perumahan Taman Mutiara dan keluar ke Pasar Kebo. “Nanti ada dua arah dan insya Allah dua jalur ini bisa lancar. Nanti akan dicor dulu,” tuturnya.

Ia menuturkan, pengembang perumahan Taman Mutiara sudah menyerahkan asetnya kepada Pemkot Serang. Pada APBD 2019, pemkot sudah menganggarkan untuk membuat jalur sementara di wilayah tersebut. Untuk pemeliharaannya, akan dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Serang.

“Saat ini fasos (fasilitas sosial) fasum (fasilitas umum) sudah diserahkan kepada Pemkot Serang. Namun ini hanya bersifat sementara saja untuk mengurai kemacetan,” ucap Syafrudin.

Untuk jangka panjang, pihaknya akan berkoordinasi dengan PT Marga Mandalasaksi (MMS). Dengan semakin berkembangnya Kota Serang, menurut dia, kemacetan tidak akan ada habisnya jika dibiarkan. Kemudian, kata dia, frontage yang saat ini sedang dalam proses pembangunan juga menjadi solusi mengatasi kemacetan di kawasan Trondol.

Meski begitu, pembangunannya saat ini masih terganjal izin terkait dengan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).”Semoga bisa bersinergi dan membuat fly over nantinya agar dapat dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Libatkan kampus

Sementara itu, akademisi Universitas Serang Raya (Unsera), Abdul Malik menyarankan agar Pemkot Serang melibatkan kampus dan akademisi dalam menyelesaikan permasalahan Kota Serang.

“Kalau menurut saya, wali kota dan wakil wali kota jangan sampai meniadakan kampus. Selama ini, saya lihat kampus itu ditinggalkan oleh pemerintah. Mereka kalaupun menggandeng kampus, itu lagi-itu lagi. Kampus swasta juga banyak, jangan under estimate dengan kampus swasta,” kata Abdul Malik kepada Kabar Banten, Kamis (6/12/2018).

Selama ini, dirinya melihat kepala daerah tidak terlalu ramah dengan kampus swasta dan terkesan terpinggirkan. Padahal menurutnya, swasta juga ikut memberi sumbangsih terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan sebagainya.

“Undang dong dalam satu kesempatan, karena ini momentumnya cukup baik. Wali kota dan wakil wali kota baru dilantik, undang dong unsur-unsur kampus minta pendapat apa yang bisa kampus kontribusikan buat pembangunan di Kota Serang,” ucapnya.

Dalam kampus, kata dia, terdapat semua disiplin ilmu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah wali kota saat ini. Selain itu, ia juga sepakat dengan Gubernur Banten jika etalase pembangunan berada di Ibu Kota Provinsi Banten, bukan di Tangerang ataupun Tangerang Selatan yang bisa dikatakan lebih maju.

“Kita harus fokus bahwa ibu kota dan jantung provinsi itu ada di Kota Serang, maka harus fokus wali kota dan wakil wali kotanya untuk melakukan lompatan-lompatan perubahan, sektor layanan publik, fasilitas, tata kotanya dibenahi. Betul ikon Banten ada di Kota Serang,” ujarnya. (TM/Masykur/SJ)*


Sekilas Info

Dua Tahun, Ichsan Soelistio Bagikan 193 Unit Alsintan

SERANG, (KB).- Anggota DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Ichsan Soelistio kembali membagikan bantuan sebanyak 25 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *