Sungai Ciujung Kembali Menghitam

Aliran Sungai Ciujung yang melintasi beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Serang kembali menghitam, diduga akibat pencemaran limbah industri. Pencemaran diperkirakan telah terjadi lebih dari 20 tahun.

Aktivis Lingkungan Hidup Kaukus Serang Raya Anton Susilo mengatakan, Sungai Ciujung sudah tercemar sejak beberapa hari belakangan. Namun, berwarna pekatnya sudah terjadi sejak tiga hari. “Kalau tercemarnya mah sudah lebih dari tiga hari,” katanya kepada Kabar Banten, Selasa (2/7/2019).

Anton yang merupakan warga Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa tersebut mengungkapkan, akibat tercemarnya aliran sungai tersebut, masyarakat nelayan di wilayah Tirtayasa dirugikan.

Mereka kesulitan untuk mencari ikan. Bahkan, sudah beberapa hari ini mereka juga tidak melaut dan tidak mendapatkan penghasilan. “Kalau ke tambak belum saya lihat, kalau biasanya mah (Air sungai) masuk,” ujarnya.

Ia menuturkan, warga sekitar juga sudah jenuh dengan seringnya tercemar aliran sungai tersebut. Jika dihitung, sungai tersebut sudah tercemar sekitar 20 tahun lebih dan setiap tahun sering menghitam.

“Jadi, harus kaya gimana. Kami sudah carikan solusi suruh membuat IPAL (Instalasi Pengelolan Air Limbah) terpadu pada pemerintah. Kalau biaya IPAL itu besar bisa sumbangan, jangan maunya kencing di situ saja (perusahaan),” ucapnya.

Ia mengatakan, biaya untuk membuat IPAL terpadu tersebut, bisa menelan anggaran mencapai Rp 1 miliar. Namun, angka tersebut, bisa disiasati dengan patungan antarperusahaan. Sehingga, mereka bisa lebih ringan. “Yang penting ketegasan pemerintah,” tuturnya.

Ia mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan audiensi ke Pemerintah Pusat. Dalam audiensi tersebut, akan disampaikan tentang pengawasan IPAL dan komitmen ketegasan pemerintah daerah sampai pusat.

“Jadi, perbaikan IPAL itu penting, soalnya kalau kami audiensi juga tidak pernah minta harus ditutup (perusahaannya), tapi memberikan solusi ke pemerintah, yaitu IPAL-nya saja diperbaiki,” katanya.

Berdasarkan data yang dimilikinya, ada 131 perusahaan di wilayah Serang Timur yang terindikasi memiliki IPAL kurang baik, sedangkan untuk korporasi yang melebihi batas bekumutu air ada 16.

“Kalau kurang baik itu lagonnya kecil, IPAL mesinnya tiga mati satu, satu tidak difungsikan dan satu bunyi atau berfungsi, itu kan enggak baik,” ujarnya.

Sementara, Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Muas Sisul Haq mengatakan, selama menghadapi musim kemarau, pihaknya sudah memberikan surat imbauan kepada perusahaan atau kegiatan usaha.

“Salah satu imbauannya mengurangi debit limbah cair, agar tidak menimbulkan pencemaran perairan,” ucapnya.

Ia mengatakan, untuk memastikan surat imbauan tersebut, dipatuhi perusahaan, tim pengawas DLH juga, akan turun ke lapangan dan melakukan pengawasan.

“Insya Allah akan dilakukan pengawasan oleh teman teman pengawasan. Jika Ada yang terbukti melanggar dan mencemari, maka diberikan sanksi sesuai ketentuan dan perundang-undanganan yang berlaku,” katanya.

Pantauan Kabar Banten, Selasa (2/7/2019) aliran Sungai Ciujung tampak berwarna hitam dan menimbulkan bau tak sedap. Bahkan, warna hitamnya juga tampak sangat pekat. Tak ada aktivitas di sekitar sungai, termasuk warga yang biasa menggunakan air untuk mandi cuci kakus (MCK). (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here