Minggu, 19 Agustus 2018

Sungai Ciujung dan Cidurian Kembali Menghitam, Warga Ancam Demo

SERANG, (KB).- Dua aliran sungai besar di wilayah Serang utara yakni Sungai Ciujung dan Cidurian yang mengalir di wilayah Kecamatan Tirtayasa, Pontang, Lebakwangi, Kragilan kembali menghitam dan mengeluarkan bau menyengat yang diduga akibat tercemar limbah industri. Karena berulangnya pencemaran tersebut, warga sekitar pun berencana untuk melakukan aksi demo agar sungai tersebut dipulihkan.
Selama ini sungai tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan mandi, mencuci, mengairi lahan pertanian dan tambak ikan. Akibat kondisi itu banyak warga yang kehilangan mata pencahariannya.
Sekretaris Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa Hendra Saputra mengatakan sungai tersebut sudah tercemar sekitar 10 hari lalu. Dimana warna air berubah menjadi hitam dan berbau menyengat. Air sungai tersebut mengalir ke tambak dan menyebabkan ikan mati.  “PH kadar air tambak jadi enggak normal karena sumber airnya dari Ciujung. Karena ketika dibuka pintu airnya langsung terdampak,” ujarnya kepada Kabar Banten, Sabtu (21/7/2018).
Ia mengatakan, ada 860 hektar tambak ikan yang terdampak akibat pencemaran tersebut. Total tambak di desanya yakni 940 hektar, namun 80 hektar lainnya terkena air laut. “Kalau yang 860 hektar mah sudah benar benar kena dampak,” ucapnya.
Menurut dia, jika debit air besar, limbah tersebut tidak tampak. Sedangkan saat kecil, air limbah itu sangat jelas terlihat dan berbau sampai ke pemukiman. Limbah tersebut diduga berasal dari industri. “Sebetulnya kan kalau industri itu taat terhadap mekanisme aturan yang dibuat DLH pasti tidak terjadi hal ini,” katanya.
Sebab kata dia, yang namanya industri pasti memiliki kajian amdal. Oleh karena itu, jika taat maka semuanya tidak akan terjadi dan bisa diantisipasi jika diluar batas. Dirinya berharap ada tindakan tegas dari pemkab Serang untuk memberikan sanksi keras kepada perusahaan yang membandel. “Kalau misal semua industri nurut mungkin enggak akan seperti itu. Monitor harus ditambah, harus tiga bulan sekali pemantauannya,” tuturnya.
Masyarakat setempat mengaku sudah jengah dengan adanya pencemaran tersebut. Terlebih Ciujung bagi mereka adalah jantung kehidupan. Oleh karena itu, mereka pun mengancam akan beraudiensi atau pun aksi jika aliran sungai itu tidak juga dipulihkan. Selama ini pihaknya memang sudah sering beraudiensi, hanya saja hasilnya tetap tidak memuaskan.
“Sebenarnya sering audiensi cuma jawabannya begitu. Tapi tetap gitu jadi pesimis. Tengkurak itu jantungnya ciujung, nelayan mati, cat perahu nolak, nelayan mati. Terakhir audiensi ke balai 2016, jawabnya sungai itu kewenangan balai tapi harus koordinasi dengan pusat. Kemarin itu mau aksi, terus kata saya jangan Tengkurak doang tapi dengan yang lain supaya ada kekuatan,” ujarnya.
Pengurus Daerah Aliran Sungai Ciujung, Bowo mengatakan dari pemantauannya ada sekitar 24 perusahaan yang mengalirkan limbahnya ke Ciujung. Namun selama ini baru satu yang kena sanksi (Cipta paperia). “Itu dari Kragilan dan Cikande. Ini memang sudah beberapa kali sampai KLHK juga turun,” ujarnya.
Penggiat lingkungan dari Riung Hijau, Anton Susilo mengatakan, sejak kondisi air Sungai Ciujung dan dan Cidurian menghitam warga sudah tak bisa lagi memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan kata dia ikan-ikan yang ada di lahan pertanian tambak dan padi milik warga pun pada mati akibat terpapar air limbah tersebut. “‎Kasihan mata pencaharian warga mati, air sudah gak bisa dimanfaatkan, buat kebutuhan sehari-hari warga terpaksa  harus beli air. Kondisi ini sudah ada 10 hari,” ujarnya.
Ia mengaku sudah menyampaikan secara lisan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang terkait kondisi sungai Ciujung dan Cidurian saat ini yang menghitam, bahkan beberapa hari yang lalu dirinya bersama warga  sampai melakukan aksi unjuk rasa di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Namun, kata dia hingga kini tidak ada tindaklanjut dari pihak manapun atas keluhan yang telah disampaikan oleh masyarakat tersebut. “Tanggapan baik, tapi gak ada kejelasan sampai sekarang, kami sudah capek aksi di kementerian bersama warga Tengkurak,” tuturnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Neni Nuraeni mengatakan akan menelusuri dan mengecek menghitam dan berbaunya kedua sungai tersebut. “Kita cek sumbernya dari mana. Kalau saya baru dapat informasi terkait masalah ini. InsyaAllah besok kita tindak lanjuti,” ujarnya.
Neni mengatakan, akan mengecek kadar air kedua sungai tersebut apakah masih diatas baku mutu atau tidak. “Apakah itu endapan yang muncul dari bawah. Karena memang harus ada normalisasi, nanti kita lihat antara 3-4 hari. Kalau pun perusahaan, mereka todak boleh membuang limbah tanpa diolah. Kalai IPAL nya bagus baru bisa mengeluarkan. Kalau ada kesalahan nanti akan ada tindakan teguran dan sanksi,” tuturnya. (DN)*

Sekilas Info

Meriahnya Perayaan HUT RI di Kramatwatu

SERANG, (KB).- Berbagai kegiatan dilakukan masyarakat untuk menyambut sukacitanya Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 73. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *