Sungai Ciujung dan Ciberang Tercemar

LEBAK, (KB).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lebak kembali melakukan sosialisasi kepada masyarakat serta pemilik industri agar tidak membuang limbah, sampah dan tinja ke aliran Sungai Ciujung juga Ciberang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak, Nana Sunjana menyatakan, hingga saat ini Sungai Ciujung dan Ciberang di Rangkasbitung masih dicemari E-coli akibat limbah domestik serta banyaknya tinja dari permukiman penduduk yang dibuang ke aliran dua sungai tersebut.

”Pencemaran E-coli itu akibat adanya limbah, sampah atau tinja ke aliran Sungai Ciujung dan Ciberang. Karena itu, kami berkewajiban untuk terus menerus melakukan sosialisasi agar pelaku industri dan warga tidak lagi membuah limbahnya ke sungai. Jika ketiga jenis limbah itu dibuang ke sungai, bisa dipastikan Sungai Ciujung dan Ciberang akan terbebas dari E-coli,” kata Nana, Jumat (26/10/2018).

Menurut Kadis LH, masyarakat atau perusahaan industri yang paling banyak membuang limbah, sampah dan tinja adalah masyarakat dan perusahaan industri yang berada di bantaran Sungai Ciujung dan Ciberang. Oleh karena itu, dalam kegiatan sosialisasi, ditujukan kepada masyarakat dan perusahaan industri yang ada disekitar bantaran kedua sungai tersebut.

“Harus diketahui bahwa air Sungai Ciujung dan Ciberang masih digunakan masyarakat, sehingga masyarakatpun harus menjaga kebersihan air sungai itu sendiri,” ucapnya.

Sekretaris DLH Lebak, Ade Kurnia menambahkan, sasaran sosialisasi saat ini adalah bantaran Sungai Ciujung serta Ciberang yang dianggap padat penduduk, karena selama ini yang sering membuang sampah maupun tinja ke aliran sungai adalah masyarakat yang bermukim di bantaran sungai.

“Untuk perusahaan industri yang lokasinya berada di sekitar Sungai Ciujung maupun Ciberang, akan kami datangi agar kedepan tidak lagi membuang limbahnya ke sungai,” kata Ade Kurnia.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak H.Maman Sukirman mengingatkan warga akan peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit yang sering muncul pada musim kemarau itu. Sebagai langkah pencegahan penyakit menular untuk menekan angka kesakitan atau kejadian luar biasa (KLB).

Menurut Kadinkes, penyebaran penyakit diare berpotensi muncul pada musim kemarau. Biasanya terjadi pada warga yang mengalami krisis air bersih, terutama penggunaan air sungai untuk konsumsi.

”Umumnya pada musim kemarau penyakit diare berpotensi menyebar akibat penggunaan air sungai maupun air yang tidak layak dikonsumsi seperti misalnya air sungai yang mengandung bakteri Escherichia coli (E-coli),” ujar Kadinkes H. Sukirman, beberapa waktu lalu. (Lugay/TS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here