Senin, 28 Mei 2018

Sultan Cirebon Keturunan Langsung Sunan Gunung Jati, Begini Silsilahnya

CIREBON memiliki empat keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Di antara semuanya, Keraton Kasepuhan merupakan yang tertua dan terluas. Keraton Kasepuhan kini dipimpin oleh Sultan Sepuh XIV bernama Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat. Beliau merupakan keturunan dari salah satu Wali Songo, yaitu Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Dikutip dari Baluarti Kraton Kasepuhan Cirebon karya E. Nurmas Argadikusuma, Sunan Gunung Jati memiliki peran penting dalam proses penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dan Cirebon adalah sebagai pusatnya. Sunan Gunung Jati menikah dengan sepupunya, Ratu Ayu Pakungwati, yang merupakan anak dari Pangeran Cakrabuwana. Pangeran Cakrabuwana adalah putra mahkota dari Kerajaan Pajajaran. Sejak menikah, Sunan Gunung Jati dinobatkan sebagai pemimpin Kota Cirebon.

Ratu Ayu Pakungwati dibuatkan sebuah keraton oleh ayahandanya yang disebut Keraton Pakungwati atau Dalem Agung Pakungwati pada tahun 1430. Ini adalah cikal bakal dari berdirinya keempat keraton yang ada di Cirebon, termasuk Keraton Kasepuhan. Hingga akhirnya pada tahun 1568 Sunan Gunung Jati wafat dan takhtanya digantikan oleh cicitnya, Pangeran Emas Zainul Arifin, sampai tahun 1649. Selanjutnya keraton dipimpin oleh Pangeran Girilaya rentang tahun 1649-1662.

Sepeninggal Pangeran Girilaya, Keraton Pakungwati terbagi menjadi tiga bagian karena pembagian untuk ketiga putranya. Putra Pangeran Girilaya adalah Pangeran Raja Syamsuddin Martawijaya yang akhirnya bertugas memerintah Kesultanan Kasepuhan, Pangeran Raja Muhammad Badrudin Kartawijaya yang bertugas memerintah Kesultanan Kanoman, dan Pangeran Raja Wangsakerta yang bertugas dalam perguruan putra-putri keraton. Pangeran Raja Wangsakerta tetap tinggal di Keraton Kasepuhan sembari membantu Pangeran Raja Martawijaya.

Tahun 1679, Keraton Kanoman mulai berdiri dan dipimpin oleh Sultan Anom I bernama Sultan Badrudin. Sejak saat itu, Keraton Pakungwati ikut berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan yang dipimpin oleh Sultan Sepuh I yang bernama Pangeran Raja Syamsuddin Martawijaya.

Pangeran Arif

Pemimpin Keraton Kasepuhan sekarang, Pangeran Arif Natadiningrat, dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XIV pada 9 Juni 2010. Beliau menggantikan Sultan Sepuh XIII yang merupakan ayahandanya tepat 40 hari setelah wafatnya. Seperti dikutip dari laman resmi Keraton Kasepuhan, penobatan ini dilakukan dalam rangkaian acara “Jumenengan” di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Dalam acara Jumenengan ini terdapat ritual penyematan keris Sunan Gunung Jati oleh Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat sendiri. Selain itu, ada pula acara melepas 14 ekor burung merpati putih, menanam pohon langka “Dewan Daru” sebanyak 14 batang dan menyunat 14 anak yatim piatu.

Silsilah

Masa Kesultanan Cirebon

  • Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) (bertahta dari 1478-1568)
  • P. Adipati Pasarean (Pangeran Muhammad Arifin) (hidup dari 1495-1552)
  • P. Adipati Carbon I (Pangeran Sedang Kamuning) (hidup dari 1520-1533)
  • Panembahan Ratu Pakungwati I (Pangeran Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568-1649)
  • P. Adipati Carbon II (Pangeran Sedang Gayam) (-)
  • Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649-1662)

Masa Kesultanan Kasepuhan:

  • Pangeran Raja Adipati Syamsuddin Martawijaya (Sultan Sepuh I) (bertahta dari 1662-1697)
  • Pangeran Djamaluddin (Sultan Sepuh II) (bertahta dari 1697-1720)
  • Pangeran Djaenudin Amir Sena I (Sultan Sepuh III) (bertahta dari 1720-1750)
  • Pangeran Djaenudin Amir Sena II (Sultan Sepuh IV) (bertahta dari 1750-1778)
  • Pangeran Syaifudin / Sultan Matangadji (Sultan Sepuh V) (bertahta dari 1778-1784)
  • Pangeran Hasanuddin (Sultan Sepuh VI) (bertahta dari 1784-1790)
  • Pangeran Djoharuddin (Sultan Sepuh VII) (bertahta dari 1790-1816)
  • Pangeran Radja Udaka (Sultan Sepuh VIII) (bertahta dari 1816-1845)
  • Pangeran Radja Sulaeman (Sultan Sepuh IX) (bertahta dari 1845-1890)
  • Pangeran Radja Atmaja (Sultan Sepuh X) (bertahta dari 1890-1899)
  • Pangeran Radja Aluda Tajul Arifin (Sultan Sepuh XI) (bertahta dari 1899-1942)
  • Pangeran Radjaningrat (Sultan Sepuh XII) (bertahta dari 1942-1969)
  • Pangeran Radja Adipati H. Maulana Pakuningrat SH (Sultan Sepuh XIII) (bertahta dari 1969-2010)
  • Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat SE (Sultan Sepuh XIV) (bertakhta dari 2010-sekarang).(Elvin Rizki Prahadiyanti/PR)***

Sekilas Info

Komisi V DPR RI Pertanyakan Peresmian Bandara Internasional Jawa Barat di Majalengka

CILEGON, (KB).- Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono mempertanyakan sikap pemerintah yang cenderung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *