Senin, 23 April 2018

Sudah Pada Ngopi Belum?

“Sudah pada ngopi belum, diem-diem bae, ngopi napa”. Kalimat tersebut adalah isi dari sebuah video viral tentang ajakan meminum kopi yang diperankan oleh seorang bocah. Saat ini banyak bermunculan video lainnya mengikuti jejak sang bocah. Pembuatnya tidak lain para pengguna media sosial yang tertarik membuat video menurut versinya sendiri. Ada video yang diperankan oleh sepasang muda mudi, versi orang tua, versi pekerja kantoran, versi yang diperankan oleh artis dan versi lainnya.

Penulis juga pernah mengamati langsung beberapa rekan sepekerjaan, pada saat mereka memesan minuman kopi, mereka menggunakan irama suara yang sama dengan sang bocah. Dalam versi saduran pun ada yaitu versi lipsing. Kalimat ajakan dihubungkan dengan penggalan film hollywood dan film kartun. Ada juga versi saduran seorang kepala daerah di Banten yang saat itu dirinya mengajak memancing ikan. Selama bermakna positip, ajakan dan penyaduran tersebut dapatlah dianggap wajar.

Informasi peristiwa besar yang terjadi di Indonesia belakangan ini, misalkan saja informasi masuknya beras impor, informasi kenaikan harga bahan bakar minyak, informasi kenaikan harga dollar Amerika terhadap rupiah hingga informasi kegiatan deklasari dukungan pencapresan terhadap beberapa tokoh nasional sepertinya tidak membuat video viral tersebut meredup. Hal ini menjadi alasan yang menarik bagi penulis untuk menulisnya.

Beberapa ahli menyebutkan bahwa meminum kopi memiliki beragam khasiat bagi tubuh manusia, di antaranya dapat mencegah depresi, meningkatkan daya ingat dan menghilangkan rasa kantuk. Minuman ini sudah sangat terkenal di masyarakat. Mulai dari usaha mikro seperti warung-warung yang menjajakan kopi baik dalam bentuk kemasan atau seduh hingga kedai kopi modern yang terus bermunculan.

Penulis ingin turut serta menyadur ajakan minum kopi, namun dalam makna positip lainnya. Sebelumnya penulis telah melakukan pengamatan singkat terhadap siatusi sosial kemasyarakatan yang belakangan terjadi di Indonesia, lalu mengaitkannya dalam suatu ajakan yang positif.

Dimulai dengan “Sudah pada terbebas dari hoax belum?”. Seperti kita ketahui bersama ada informasi sampah di media sosial dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab berdampak sesat pikir bagi para pembacanya. Pemerintah sudah mengimbau pada masyarakat agar teliti dalam menerima informasi dan bahkan pihak kepolisian akan menindak siapa saja yang membuat dan menyebarkan informasi bohong.
Para ulama turut ambil bagian dalam penangkalan hoax.

Mereka telah mengeluarkan imbauan yang diperkuat dengan dalil-dalil agar umat mampu menyeleksi informasi yang diterimanya, tidak terburu-buru mengirim ulang dan diutamakan mencari kebenarannya terlebih dahulu, hal tersebut terlebih untuk menghindari gibah dan fitnah.
“Sudah pada melaporkan pajak tahunan belum?“ Batas akhir pelaporan pajak ditengat sampai dengan tanggal 31 Maret 2018. Setiap wajib pajak dituntut untuk segera melakukan pelaporan harta keuangan, hutang piutang hingga aset yang dimilikinya.

Jaman Now, sistem pelaporan berbasis aplikasi. Kapan dan di manapun sedang berada, kita dapat dengan mudah membuka, membaca, mempelajari hingga memasukan data laporan melalui portal resmi Direktorat Jenderal Pajak. Pada tanggal 12 Maret 2018 lalu penulis telah menyelesaikan kewajiban pelaporan pajak tahunan secara online melalui aplikasi e-filling.
“Sudah pada membayar hutang puasa Ramadan belum?” Sekitar dua bulan kedepan kita akan bertemu dengan bulan yang mulia, yaitu bulan suci Ramadan.

Bagi umat  muslim bertemu dengan bulan turunnya kitab suci Alquran sebagai suatu perintah yang mutlak untuk menjalankan puasa selama satu bulan lamanya. Bagi yang masih belum melunasi hutang puasa akibat batal puasa pada bulan Ramadan sebelumnya wajib segera melunasi hutang puasanya sebelum bulan Ramadan tahun ini tiba. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT “Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan dia tidak berpuasa maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya” (QS. Al-Baqarah : 185).
“Sudah pada siap memilih belum?“.

Di Provinsi Banten terdapat empat kabupaten/kota yang menjadi bagian dalam Pemilukada serentak tahun 2018. Jangan lupa pastikan nama anda terdaftar sebagai pemilih. Pesta demokrasi lima tahunan ini menguji kemampuan para kandidat dalam meraih suara pemilih sebanyak-banyaknya dan juga menguji mental dan moral pemilih apakah mereka mampu menjadi pemilih yang cerdas dan bermartabat atau sebaliknya.

Idelanya masyarakat harus sudah mengenali kualitas setiap perserta Pemilukada dan juga memahami visi dan misi yang ditawarkan. Lembaga penyelenggara Pemilu telah mengeluarkan himbauan agar menolak politik uang dan menghindari politisasi SARA.

Seperti kita ketahui bersama dari pengalaman beberapa proses Pemilukada sebelumnya, politik uang sangat masif hingga dampaknya sangat merugikan. Pihak yang terlibat politik uang harus berhadapan dengan proses hukum hingga dipidana penjara. Tidak hanya itu, dampak politik uang dapat merusak tatanan demokrasi yang bercirikan people power bukan money power. Tidak menggunakan cara politisasi SARA demi menjaga kerukunan sosial kemasyarakatan dan kerukunan umat beragama.

Calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah sebelumnya sudah membuat komitmen untuk mewujudkan Pemilukada yang damai, siap menang dan siap kalah. Maknanya kurang lebih yaitu siap berkompetisi tanpa berseteru, siap meraih kemenangan dengan cara demokratis dan siap menerima kekalahan dengan lapang data.
Begitupun untuk para pendukungnya agar tidak menjadikan pendukung dari pasangan lain sebagai lawan permanen oleh sebab kelak proses Pilkada selesai, kerukunan dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat harus berjalan seperti biasa lagi.

Selanjutnya “Sudah pada menangkal Narkoba belum?” Pada bulan Januari dan Februari tahun 2018 terjadi serangan narkoba besar-besaran ke Indonesia. Pihak Badan Narkotika Nasional, Kepolisian, TNI AL, Bea Cukai dan Kementerian Kelautan telah berhasil menggagalkan penyelundupan Ribuan Kilogram Narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Keberhasilan tersebut sangat layak diberi gelar prestasi luar biasa.

Bagaimana jadinya jika barang berbahaya tersebut lolos, pastinya semua rakyat Indonesia berpotensi menjadi korban dan masa depan bangsa ini akan tercancam. Menangkal narkoba bukan hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum, melainkan dapat dilakukan oleh kita dalam bentuk sikap menjadi sukarelawan anti narkoba bagi dirinya sendiri, bagi orang sekitarnya atau bagi bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan menggunakan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.

Pada akhir tulisan ini penulis bertanya kepada pembaca “Sudah pada pasang iklan belum?” Pada kolom iklan koran ini ada ajakan menarik untuk memasang iklan dengan harga cukup terjangkau dan ada manfaat jika iklan tersebut dipublikasikan kelak akan mendatangkan keuntungan bagi pemasangnya. Ayo jangan diem-diem bae, pasang iklan di Harian Umum Kabar Banten.(Dimas Dharma Setiawan/Fungsionaris Pengurus Besar Mathla’ul Anwar)*


Sekilas Info

Pesantren dan Kitab Kuning

Sebagai lembaga yang konsen terhadap pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin), pesantren-pesantren yang berada di seluruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *