Stunting di Kota Serang Meningkat

SERANG, (KB).- Tingginya tingkat penderita stunting di Kota Serang tidak terlepas dari permasalahan lingkungan masyarakat, salah satunya terkait tingkat kesadaran masyarakat terkait sanitasi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, penderita stunting di Kota Serang terus mengalami peningkatan. Pada 2018 penderita stunting berjumlah 2.543 atau 5,4 persen, jumlah tersebut, mengalami kenaikan pada 2019 yang mencapai angka 2.556 atau 5,8 persen. Meskipun jumlah tersebut, masih lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai angka 28 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinkes Kota Serang Lenny Suryani mengatakan, terdapat dua faktor yang menyebabkan tingginya jumlah stunting, yakni faktor gizi dan lingkungan.

Faktor lingkungan yang tidak sehat, karena masih banyak kepala keluarga yang belum memiliki jamban keluarga, kata dia, menyebabkan air yang dikonsumsi terkontaminasi dan menyebabkan anemia pada masa kehamilan.

“Di Kota Serang ini baru 75 persen yang memiliki jamban keluarga, sisanya yang tidak memiliki kurang lebih ada 29.000 KK,” ujarnya, Jumat (21/2/2020).

Padahal, ucap dia, permasalahan stunting sangat berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut, karena penderita stunting bisa dikembalikan berat badan dan tingginya pada usia dua tahun. Tetapi, untuk dampak otak dan kecerdasannya bersifat permanen.

“Badannya bisa tinggi, tapi otaknya, karena otak bersifat direversibel, jadi tetap saja ada gangguan pada pertumbuhan otaknya nanti, sehingga anak akan menurun IQ-nya dan kognitifnya menurun, bisa dibayangkan kalau Indonesia ini kebanyakan stunting kan SDM-nya tidak berkualitas,” tuturnya.

Kemudian, kata dia, untuk menurunkan tingkat stunting di Kota Serang, pihaknya terus berupaya untuk memberikan makanan tambahan (PMT), pemberian tablet tambah darah pada remaja dan ibu hamil, sosialisasi tentang stunting, mengadakan pelatihan pemberian makanan untuk bayi dan anak (PMBA) dan pemberian MP ASI empat bintang.

“Maksudnya dalan MP ASI itu harus ada karbohidrat, lauk pauk, buah-buahan, dan sayuran jadi makanan pokok di keluarga itu bisa dibuat MP ASI. Nah, kami sedang melatih itu,” ujarnya.

Ia menganjurkan bagi ibu untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayinya hingga umur 6 bulan. Karena, ASI ekslusif sangat membantu pertumbuhan anak. Bahkan, Dinkes saat inu sedang mempersiapkan aturan, agar bidan yang membantu proses melahirkan tidak memberikan susu formula kepada masyarakat.

“Kalau melanggar dicabut izinnya. Kan kadang habis melahirkan dibekelin sama bidannya, karena mungkin dia bekerja sama dengan sufor itu,” ucapnya. (Masykur/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here