Spektrum Pendidikan Ramadhan

Oleh : Asep Abdurrohman

Sudah hampir empat pekan umat  Islam di Indonesia dan dunia tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Umat Islam menahan haus dan dahaga sekaligus  menahan hawa nafsu yang membatalkan puasa, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Lahir dan batin kita di bulan suci Ramadhan ini, Tuhan berikan nutrisi tingkat tinggi untuk kebaikan hidup manusia. Kebaikan hidup tidak akan terasa nikmat manakala dalam kehidupan ini berjalan lurus saja. Ibarat pengendara, tidak selama akan menemui jalan lurus, sakali-kali menemukan jalan yang berbelok-belok. Atau terlalu lama berada jalan lurus, justru mengancam keselamatan nyawa manuasia.

Disanalah umat manusia mendapat pelajaran penting. Pembelajaran  untuk memberikan kebaikan hidup yang menguatkan batin dan fisik termasuk bulan ramadhan yang Allah sediakan kepada Umat beriman sebagai sarana pendidikan yang tiadak bandingnya.

Kenapa Harus Puasa

Puasa Ramadhan bagi umat Islam adalah kewajiban sebagai umat muslim yang beriman. Hanya orang berimanlah yang diseru oleh Tuhan. Orang tidak beriman dengan sendirinya tidak termasuk ajakan untuk berpuasa Ramadhan sesuai dengan QS. Al-Baqoroh ayat 183.

Sejarah mencatat, perintah puasa dilaksanakan setelah dua tahun Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Puasa bagi umat Islam yang beriman, tidak hanya merupakan perintah dari Tuhan. Tetapi lebih dari itu adalah kebutuhan bagi manusia. Dalam pandangan medis, puasa punya dampak signifikan terhadap kualitas kesehatan.

Sudah banyak para ahli kesehatan yang meneliti urgensi puasa. Intinya, puasa memberikan efek positif terhadap kesehatan. Misalnya, bagi orang yang punya penyakit Gastritis, puasa menjadi penawarnya. Efek pada kulit sebagai bentuk peremajaan dan yang tak kalah pentingnya, puasa punya fungsi sebagai proses detoksifikasi bagi tubuh.

Begitu pentingnya puasa, sampai Tuhan dalam ayat 183 surat Al-Baqoroh menggunakan redaksi “kutiba”, fiil madi majhul yang diawali dengan kata “aamanuu”. Ini artinya Tuhan menekankan kepada orang beriman agar melaksanakan perintah ibadah puasa.

Secara batiniah, puasa juga sebagai sarana asupan nutrisi yang tiadak bandingnya. Betapa tidak, orang yang berpuasa tidak banyak orang yang tau kl ia sedang berpuasa. Hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya. Oleh karena itu, wajar kalau puasa itu untuk Tuhan dan Tuhan sendiri yang akan membalasnya.

Balasan puasa secara dzohir bisa jadi kehidupan kita menjadi berkah. Dalam artian; hidup tenang, kerisauan mencari rizqi tidak menjadi masalah dan menjalani kehidupan dengan ringan. Ibarat air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Walau ada halangan, ia berhenti sejenak. Atau menghindar sebagai cara untuk menyusun strategi dalam menghadapi rintangan dan hambatan.

Ramadhan dan Nuasa Pendidikan

Tuhan memerintahkan ibadah puasa kepada hambaNya, tidak lain dan tidak bukan untuk kebaikan hambaNya. Dilihat dari aspek pendidikan, ibadah puasa sebagai sarana untuk mendidik diri agar dalam menjalani kehidupan lebih bermakna.

Siang hari ketika kita berpuasa, kita akan mengindarkan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Pikiran dan hati kita akan menjalar keseluruh tubuh. Ketika mata melihat yang tidak seharusnya, pikiran kita akan memberikan intruksi “kamu sedang berpuasa”. Telinga mendengarkan sesuatu yang tidak-tidak, pikiran dan hati kita akan menegurnya. Tangan dipakai untuk mencaci, memaki dan menyebar hoax di media sosial, hati dan pikiran akan memperingatkannya.

Ingatan memikirkan sesuatu yang jorok, dan membuat rencana jahat juga hati kita akan menghakiminya. Saat bedug maghrib tiba, jiwa raga kita akan merasakan bahagia. Sesuai sabda Nabi, “bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagian. Pertama pada saat berbuka, dan yang kedua ketika bertemu dengan TuhanNya”.

Secara fisik, tentu akan merasakan ni’matnya meminum air dan kurma sebagai pembuka puasa. Tubuh bahagia setelah 13 jam lebih menahan haus dan lapar. Cairan tubuh akan kembali terisi. Perut akan kembali mencerna makanan. Sementara  rohani sebentar lagi akan bertemu dengan dengan Tuhannya lewat shalat Isya dan  taraweh berjamaah.

Lewat Shalat Isya’ dan taraweh berjamaah di mesjid, manusia sebagai hamba akan merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Dalam shalat, kita merasakan kehadiran rahmat Tuhan. Kenikmatan ketika bersujud. Indahnya berjamaah dalam barisan yang kokoh. Merasakan bangunan sosial yang kuat. Sejuknya bertadarus Al-Qur’an dengan sesama jamaah. Gurihnya bermasyarakat sambil ngobrol ngalor ngidul disertai makan minum dan sesekali diitingi canda tawa sebagai bentuk silaturahim yang nyata.

Tak berhenti disitu, continuetas nuansa pendidikan Ramadhan terus berlanjut dalam berbagai ruang. Di berbagai tempat ibadah, kita melihat para pengurus  ramadhan berlomba-lomba mengelola ta’jil dan makan berat untuk jamaah yang datang ke mesjid.

Karyawan dan pegawai yang pulang magrib, tak perlu kuatir dengan ta’jil bahkan makan beratnya. Hampir semua mesjid dan mushollah menyediakan hidangan berbuka. Selepas menyantap hidangan berbuka dan sholat maghrib, semua jamaah siap-siap kembali untuk menunaikan shalat taraweh.

Dalam shalat taraweh, hampir di semua mesjid dan musholla mengagendakan kultum taraweh. Jamaah yang penat dan galaupun setelah pulang kerja tercerahkan oleh nasehat para ustad. Belum lagi selepas shalat shubuh, hampir semua mesjid mengadakan kajian rutin untuk jamaah. Para pegawai dan karyawanpun, bergegas berangkat kerja dengan penuh semangat lantaran sudah mendapatkan nutrisi ruhani. Tiba di tempat kerja, tak sedikit diawali dengan shalat dhuha dan tadarus berjamaah. Setelah usai sholat dzuhur, mesjid tempat kerja juga banyak yang mengisi istirahat dengan kultum dan tadarus.

Belum lagi sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, banyak mesjid yang mengagendakan i’tikaf dengan berbagai macam acara, seperti tahajud dan saur bareng. Semuah biayanya ditanggung oleh pengurus mesjid yang didapat dari donatur maupun kas mesjid. Setelah usai satu bulan puasa, lalu diakhiri dengan zakat fitrah, zakat mal bagi yang sudah nisab, takbiran, sholat idul fitri dan meminta maaf kepada sanak keluarga, sahabat, serta tetangga. Semoga puasa tahun ini, Tuhan berkenan menerima segala amal kebaikan termasuk ibadah puasa Ramadhan, aamiin. (Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here