Sosialisasi Program KKBPK: Cegah Stunting, BKKBN Banten Berikan Pemahaman Masyarakat

PANDEGLANG, (KB).- Untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan Nawa Cita ke–5 dan ke-3, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten dan mitra kerja menggelar sosialisasi dan garapan bersama program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Senin-Selasa (7-8/10/2019).

Dalam kegiatan tersebut, BKKBN dan mitra kerja memberikan pemahaman tentang pencegahan Stunting di Desa Kertamukti. Selain itu, BKKBN juga melakukan penyuluhan tentang Keluarga Berencana (KB) dan pelayanan masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Drs Aan Jumhana M.Si, Kasubbid BKB Anak dan KKL, Kepala Bidang KSPK Perwakilan BKKBN Provinsi banten, jajaran staf BKKBN Banten, OPD KB Kabupaten Pandeglang, Kepala Puskesmas Kecamatan Sumur dan sejumlah perwakilan Koramil Kecamatan Sumur, perwakilan kepolisian setempat, tokoh masyarakat setempat serta ratusan masyarakat di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Aan Jumhana menyampaikan bahwa upaya menghadirkan generasi emas Indonesia masih dibayangi oleh fenomena stunting yang masih mengancam.

Ia menjelaskan bahwa stunting adalah suatu keadaan dari pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan usianya. Stunting terjadi lantaran kekurangan gizi dalam waktu lama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Menurut data dari WHO, 178 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia, diperkirakan mengalami pertumbuhan terhambat karena stunting. Stunting merupakan  permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama.

Umumnya hal itu disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.

“Masalah gizi kronis pada 1.000 HPK bisa berdampak pada stunting atau bertubuh pendek. Pada fenomena ini orang tua harus lebih waspada terhadap kondisi anak mereka, karena hal ini sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang. Anak yang tidak tumbuh dengan baik dan terlalu pendek untuk usia mereka menderita kondisi yang dikenal sebagai stunting (postur pendek/kerdil),” ujarnya.

Aan mengatakan, pihaknya hadir dan melakukan garapan bersama untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada stakeholder ditingkat kecamatan dan desa dalam mewaspadai gejala stunting melalui optimalisasi pengasuhan dan perawatan anak dalam kurun waktu 1000 hari pertama kehidupan.

Kemudian, memberikan informasi dan pemahaman kepada Para kader dan orang tua yang mempunyai anak baduta serta ibu hamil dalam mewaspadai gejala stunting melalui optimalisasi pengasuhan dan perawatan anak dalam kurun waktu 1000 hari pertama kehidupan.

Selanjutnya, memberikan informasi dan pemahaman tentang pola asuh yang baik kepada keluarga yang mempunyai anak baduta dan ibu hamil sejak dalam kandungan sampai dengan usia dua tahun sebagai dasar pencegahan stunting, ujar Aan.

Pihaknya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mewaspadai gejala stunting, meningkatkan pemahaman para kader dan orang tua yang mempunyai anak baduta serta ibu hamil dalam mewaspadai gejala stunting melalui optimalisasi pengasuhan dan perawatan anak dalam kurun waktu 1000 hari pertama kehidupan.

Selain itu, pihaknya juga berharap pemahaman masyarakat tentang pola asuh yang baik kepada keluarga yang mempunyai anak baduta dan ibu hamil sejak dalam kandungan sampai dengan usia dua tahun sebagai dasar pencegahan stunting dapat meningkat. “Melalui kegiatan sosialisasi dan garapan bersama ini, kami berharap pengetahuan masyarakat dalam pencegahan stunting dapat meningkat,” ujar Aan. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here