Sosialisasi & Kunker ke Masyarakat Adat Baduy, BPJS Ketenagakerjaan ‘Bidik’ Suku Pedalaman

DIREKTUR umun Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Naufal Madfuz berharap, seluruh suku pedalaman di Indonesia masuk peserta jaminan sosial. Hal itu agar mereka bisa terlindungi, baik dalam jaminan kecelakaan, kematian dan hari tua.

“Kita memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan sosial kepada pekerja, termasuk suku pedalaman,” kata Naufal Madfuz saat sosialisasi dan kunjungan kerja ke masyarakat suku adat Baduy di Kabupaten Lebak, Sabtu (13/7/2019).

Menurutnya, BPJS Ketenagakerjaan cakupannya secara nasional. Sehingga memiliki tanggung jawab agar seluruh pekerja dapat terlindungi dari kecelakaan, kematian dan hari tua. Idealnya, seluruh suku pedalaman wajib terlindungi jaminan sosial, karena bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karena itu, pihaknya mengunjungi masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak untuk menyosialisasikan BPJS Ketenagakerjaan. “Masyarakat Baduy Luar maupun masyarakat Baduy Dalam wajib menerima program BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Kegiatan sosialisasi, kata dia, merupakan edukasi atau pendidikan secara bertahap agar masyarakat pedalaman masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan. Manfaat BPJS Ketenagakerjaan itu untuk melindungi masyarakat pekerja jika mengalami kecelakaan, kematian dan masa hari tua.

“Melalui pendidikan itu, dipastikan masyarakat pedalaman dapat menerima program kesejahteraan tersebut,” ujarnya.

Apabila mereka mengalami kecelakaan tentu mendapat pengobatan dan perawatan gratis dari rumah sakit juga menerima santunan selama mereka belum sembuh. Begitu juga jika meninggal dunia tentu menerima santunan sebesar Rp 48 juta dan biaya pemakaman Rp 3 juta.

“Kita berharap semua warga Indonesia khususnya ketenakerjaan, termasuk suku pedalaman wajib terlindungi BPJS Ketenagakerjaan,” ucapnya.

Angka kerja 50 persen

Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Banten Eko Nugriyanto mengatakan, pihaknya akan bekerja keras agar seluruh pekerja masuk peserta BPJS Ketenegakerjaan, termasuk suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak.

“Saat ini, kata dia, jumlah angkatan kerja di Banten sekitar 5,6 juta dan hanya baru 50 persen masuk BPJS Ketenagakerjaan,” ucapnya.

Karena itu, BPJS Ketenagakerjaan berencana masuk ke daerah-daerah yang banyak rentan para pekerja mengalami kecelakaan. Pihaknya juga mendatangi komunitas-komunitas maupun elemen masyarakat agar para pekerja terlindungi oleh BPJS Ketenagakerjaan.

“Masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam para pekerjanya juga rawan kecelakaan, sehingga wajib terlindungi jaminan sosial tersebut,” katanya.

Selain itu juga BPJS Ketenakerjaan melibatkan komunitas pondok pesantren, seperti di Kabupaten Serang. “Kami menargetkan tahun 2019 sebanyak 2,5 juta pekerja formal maupun nonformal masuk peserta BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Banten Didin Haryono menyampaikan, bahwa kegiatan dan kunjungan kerja BPJS Ketenagakerjaan ke masyarakat adat Baduy ini merupakan ikhtiar merawat kebhinekaan dalam upaya membangun dari desa dan daerah serta masyarakat tertinggal.

Ia mengatakan, masyarakat Baduy merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kebhinekaan. Mereka termasuk para pekerja rentan yang perlu dilindungi. “Kami BPJS Ketenagakerjaan siap hadir menjadi mitra dan asistennya pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan kabupaten utuk melindungi mereka,” ujar Didin. (ND/KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here