Rabu, 21 November 2018

Sodah, 10 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot

Warga Desa Kampung Jambu, Desa Tamiang, Kecamatan Gunungsari, Sodah, sudah bertahun-tahun tinggal di rumah reyot yang lebih jauh dari kata “sederhana”. Nenek berusia 70 tahun tersebut, terpaksa tinggal sendiri di gubuk, karena keterbatasan ekonomi yang dialaminya. Pantauan Kabar Banten, tampak rumah sang nenek yang terbuat dari bilik dan beratapkan genteng. Bilik-bilik tipis dari anyaman bambu tersebut tampak di beberapa bagiannya sudah dipenuhi tambalan dan bolong.

Kondisi bagian dalam rumah Sodah juga tak jauh berbeda dengan luarnya. Tak ada barang mewah di sana. Hanya ada tempat tidur lengkap dengan kasur dan pakaian serta beberapa alat masak yang tersedia. Rumah berukuran sekitar 3×4 meter persegi tersebut berada di perkampungan yang akses jalannya tidak terlalu sulit. Bahkan, jalan untuk sampai ke sana juga terhitung besar, sebab kendaraan roda empat bisa masuk. Namun, rupanya kemiskinan tak bisa memilih siapa dan di daerah mana dia harus tinggal.

Saat ditemui, nenek Sodah sedang asyik mengobrol bersama tetangganya. Sehari-hari, memang tak banyak yang bisa dilakukannya. Tubuhnya yang sudah renta, sudah tidak sanggup untuk melakukan pekerjaan yang berat. Sudah lebih dari 10 tahun Sodah tinggal sendiri di rumah tersebut. Sebelumnya, dia bersama suaminya tinggal di rumah yang letaknya tidak jauh dari tempatnya tinggal saat ini. Namun, karena hubungan rumah tangganya berakhir, dia juga pindah ke rumah tersebut. “Tinggal sendiri ada 10 tahun lebih,” katanya yang tak fasih berbahasa Indonesia tersebut kepada Kabar Banten di lokasi, Rabu (1/11/2017).

Ia menuturkan, sempat memiliki anak dari hasil pernikahannya. Namun, anak-anaknya tersebut meninggal dunia. Sehingga, saat usianya sudah senja, kini dia harus tinggal sendiri tanpa keluarga menemani. “Punya anak dulu mah dari suami pertama, tapi ninggal. Sama suami juga cerai, terus nikah lagi, dan punya anak ninggal lagi, terus cerai lagi,” ujarnya.

Pada saat muda, kenang dia, dia biasa bekerja di sawah milik tetangganya. Namun, karena usianya yang kini sudah senja, kondisi tubuhnya yang renta tidak mampu lagi untuk bekerja. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia hanya mengandalkan pemberian dari orang di sekitarnya. “Dulu ke sawah ngoyos, sekaran gmah enggak kuat. Tapi, buat makan mah ada saja,” ucapnya.

Meski tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, namun dia tetap bersyukur. Sebab, rumah tersebut yang kini menjadi satu-satunya tempatnya tinggal. Tak ada rasa takut untuk tinggal sendiri di sana. “Walaupun gini enggak bocor Alhamdulillah, kalau hujan gede paling naik airnya,” tuturnya.

Sejauh ini, kata dia, belum ada bantuan rutin yang datang. Terakhir kali, bantuan tersebut datang entah berapa tahun yang lalu. Bantuan tersebut disalurkan melalui dana bantuan langsung tunai (BLT). “Dulu ada BLT yang kaya BBM itu, tapi sekali doang dan sudah lama enggak dapat lagi. Tapi, dari kabupaten juga ada yang ke sini kemarin,” ujarnya.

Warga sekitar, Salim mengatakan, selama ini nenek Sodah memang sudah terbiasa sendiri. Ia melakukan semuanya tanpa merepotkan warga sekitar. “Kalau pagi sama sore suka masak, enggak banyak itu juga paling segelas berasnya. Kalau air suka ngambil dari pondok,” ucap lelaki yang merupakan seorang santri tersebut. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

FKPT Ajak Ulama Tangkal Radikalisme

SERANG, (KB).-¬†Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten menggelar halaqah di Pondok Pesantren Assalamiyah, Curug …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *