SMPN 1 Mancak Kembali Disegel, Sengketa Lahan Sekolah tak Kunjung Usai

SERANG, (KB).- Sengketa SMP Negeri 1 Mancak tak kunjung usai. Setelah dua kali disegel oleh warga yang mengaku ahli waris, sekolah tersebut disegel untuk ketiga kalinya, Senin (10/12/2018). Ahli waris beralasan, penyegelan itu dilakukan karena (Pemkab) Pemerintah Kabupaten Serang tidak kunjung membayar tanah seluas 6.286 meter persegi yang digunakan gedung sekolah tersebut.

Pantauan di lapangan, penyegelan pintu gerbang sekolah tersebut sempat membuat heboh warga sekitar. Ratusan siswa yang hendak masuk sempat telantar dan hanya berbaris di depan pintu masuk sekolahnya. Sampai akhirnya sekitar pukul 09.30 WIB, segel dibuka setelah dilakukan mediasi dengan pihak sekolah, disdikbud dan polsek, dan siswa bisa masuk ke ruangan masing-masing.

”Tiga kali, pertama tanggal 16 Desember 2016, 9 April 2018 dan sekarang. Jadi sudah tiga kali. Sejak pukul 7 pagi persis pas anak-anak mau masuk,” ujar ahli waris, Aris Rusman kepada Kabar Banten di lokasi. Aris mengatakan, alasan dilakukannya penggembokan karena sampai saat ini Pemkab Serang tidak pernah menanggapi surat yang dilayangkannya. Bahkan, pihaknya sudah melayangkan invoice ke Pemkab Serang.

”Kan mereka tidak punya bukti apa-apa atas tanah ini, jadi kami tagih ke mereka. Kalau mereka mau pakai, maka bayar invoice ini Rp 40 juta sebulan. Ini kami tagih tiga bulan. Artinya, dengan invoice ini, kalau mereka punya bukti jawab dong. Ini sudah dibayar oleh pemerintah. Kalau enggak ada, berarti diam itu jawaban,” ucapnya.

Ia menuturkan, status tanah tersebut pada awalnya bersifat pinjam pakai pada tahun 1984. Namun, kini pihaknya akan menggunakan tanah tersebut. Karena tanah itu tidak dikontrak, tidak pula dibeli dan tidak ada sewa, maka dia terpaksa mengusir. ”Enggak ada sewa, hanya pinjam pakai mendirikan bangunan. Saya ada girik C561 sama keterangan waris dari pengadilan agama,” tuturnya.

Aris menuturkan, pada tahun 2006 Pemkab Serang pernah menawar tanah tersebut Rp 100.000 per meter. Namun kemudian, saat ini pemkab akan membayar sesuai peraturan pemerintah. ”Tapi belum ada (pembayaran),” ucap Aris yang meminta Rp 700.000 per meter.

Dia mengatakan sudah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Asep Nugrahajaya. Namun, kata dia, Asep kebingungan harus membayar tanah tersebut menggunakan anggaran apa. ”Dia mengakui buktinya suratnya akan membayar. Kalau surat resmi akan membayar, berarti surat dinas mengakui. Kalau tidak, ya jawab bahwa ini milik pemda,” katanya.

Tunggu proses hukum

Sementara, Kepala Bidang SMP, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Serang Heryana mengatakan, permasalahan tersebut seharusnya bisa diselesaikan lewat jalur hukum. Namun, yang bersangkutan lebih memilih menggunakan penyegelan.

”Jadi hari ini (kemarin) sudah disepakati, nanti proses dilanjutkan bagaimana kelanjutannya. Tapi, kami sepakat bahwa anak-anak jangan sampai jadi korban, tidak bisa belajar karena pintunya disegel,” ujarnya.

Dia berjanji penyegelan tersebut tidak akan berulang. Sebab, dalam mediasi bersama Kapolsek Mancak, telah disepakati bahwa si penggugat tidak akan menyegel lagi hingga proses hukumnya selesai.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana pada Disdikbud Kabupaten Serang Yana Suryana mengatakan, sebenarnya masalah tanah tersebut sudah pernah digugat dan inkrah. Bahkan, tanah itu sudah jelas adalah aset pemkab. Namun demikian, dirinya mengakui jika ada beberapa meter tanah yang belum selesai.

”Itu tanah yang di atas. Kalau dituntut yang atas, kami lemah, kami enggak punya dokumen. Belum diukur, katanya 1.000 meter lebih. Harusnya itu yang dimasalahkan, inimah semuanya,” tuturnya. Yana menuturkan, rencananya pada siang harinya akan dilaksanakan penjadwalan untuk masuk ke ranah hukum.

”Siang ini (kemarin), kami tunggu di dinas untuk penjadwalan ke ranah hukum. Walau nanti akan diketawain sama pengadilan, karena ini dulu sudah putus. Nah ini kami lanjutkan. Kalau kalah, kami siap anggarkan sesuai NJOP disini,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here